Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda. Foto: WARTASOFIFI.ID/RD
Gubernur Sherly Tjoanda, mengungkapkan masih minimnya keterlibatan putra-putri daerah dalam menempati posisi strategis di sejumlah kawasan industri di Malut. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Women in STEAM: Lead, Build, Impact yang digagas Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung bersama Salam Ganesha di Jakarta. Sherly menilai pesatnya pertumbuhan industri di Malut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal untuk bersaing pada level pengambilan kebijakan maupun jabatan teknis strategis.
“Di salah satu industri yang ada di Maluku Utara, dengan pegawai sebanyak seratus ribu pegawai, tidak banyak putra-putri Maluku Utara yang ada di posisi strategis,” ungkapnya, sebagaimana dikutip WARTASOFIFI.ID dari video berdurasi 1 menit 4 detik yang diterima pada Kamis, 14 Mei 2026.
Sherly menjelaskan bahwa sebagian besar tenaga kerja asal Malut hingga saat ini masih berada pada level staf, supervisor, maupun operator alat berat. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari persoalan kapasitas SDM yang dinilai masih perlu ditingkatkan, baik dari sisi pendidikan, kemampuan teknis, maupun kompetensi profesional. Dia juga menyinggung keberadaan dua kawasan industri besar di Malut yang seharusnya dapat menjadi ruang tumbuh bagi tenaga kerja lokal untuk bersaing pada level yang lebih tinggi.
“Masih banyak hanya di level staf, supervisor, operator alat berat, dikarenakan ilmunya belum cukup, kapasitasnya belum cukup, kompetensinya belum cukup. Kita sudah punya dua kawasan industri,” cetusnya.
Sementara itu, Sherly menilai perkembangan industri nikel di Malut selama kurang lebih satu dekade terakhir belum sepenuhnya diikuti dengan kesiapan SDM lokal untuk mengambil peran lebih besar dalam berbagai peluang kerja yang tersedia. Menurutnya, meski sektor industri telah menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah, keterlibatan putra-putri Malut pada sejumlah posisi strategis dan lapangan kerja potensial masih relatif terbatas akibat belum optimalnya kapasitas dan kompetensi tenaga kerja lokal.
“Yang lebih pasti, nikel sudah berjalan di Maluku Utara kurang lebih 10 tahun terakhir, tapi sampai dengan hari ini sumber daya manusia kita belum siap mengambil bagian dari setiap lapangan pekerjaan yang dihadirkan di rumah kami sendiri,” akunya.
Pada bagian lain, Sherly menegaskan bahwa para pekerja yang berada di kawasan industri pada dasarnya merupakan sesama warga negara Indonesia. Namun di tengah berkembangnya sektor industri di Malut, ia menilai Pemprov Malut memiliki tanggung jawab untuk memastikan putra-putri daerah memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam mengakses lapangan pekerjaan, khususnya pada sektor-sektor strategis yang menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. Sherly menambahkan, keberadaan industri di Malut semestinya turut memberikan dampak nyata terhadap peningkatan keterlibatan tenaga kerja lokal.
“Bahwa semua adalah warga negara Indonesia, karena 80 persen pegawai adalah warga negara Indonesia. Lebih tentu, kami selaku Gubernur Maluku Utara punya kewajiban untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi putra-putri Maluku Utara,” tandasrnya.
Pernyataan tersebut berkaitan dengan kegiatan bertajuk Women in STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics) yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung bersama Salam Ganesha dengan tema Where Science Meets Leadership and Impact. Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi yang mempertemukan unsur akademisi, industri, dan pemerintah dalam membahas penguatan kepemimpinan perempuan, pengembangan sektor sains dan teknologi, serta kolaborasi strategis untuk pembangunan daerah.
Berdasarkan surat bernomor 135/EXT/PP/IA-ITB/V/2026, Gubernur Malut diundang untuk hadir sebagai keynote speaker, narasumber, sekaligus mengikuti penandatanganan nota kesepahaman (MoU). Dalam surat tersebut, Ketua Umum Pengurus Pusat IA ITB, Agustin Peranginangin, menjelaskan bahwa kegiatan itu bertujuan mendorong lahirnya kolaborasi nyata antara akademisi, dunia industri, dan pemerintah dalam mendukung pembangunan berbasis pengetahuan serta penguatan kualitas sumber daya manusia di daerah.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu, 13 Mei 2026, di Kampus Jakarta Institut Teknologi Bandung, Gedung Graha Irama (Indorama) Lantai 10, Jakarta Selatan, dengan format keynote speech dan panel discussion. Selain sesi diskusi, agenda penandatanganan MoU juga menjadi bagian penting dalam memperkuat sinergi lintas sektor guna mendukung transformasi pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Kegiatan bertajuk Women in STEAM: Lead, Build, Impact yang digagas Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung bersama Salam Ganesha dirancang menjadi forum strategis yang mempertemukan unsur akademisi, industri, pemerintah, komunitas, hingga jejaring alumni dalam membangun kolaborasi pembangunan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepemimpinan perempuan.
Forum yang mengusung tema Where Science Meets Leadership and Impact tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan diproyeksikan sebagai titik awal pembentukan ekosistem kolaborasi jangka panjang yang mampu melahirkan program-program nyata di bidang pendidikan, riset, pengembangan sumber daya manusia, hingga penguatan pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Berdasarkan dokumen undangan bernomor 135/EXT/PP/IA-ITB/V/2026 tertanggal 4 Mei 2026, kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 13 Mei 2026, di Kampus Jakarta Institut Teknologi Bandung, Gedung Graha Irama (Indorama) Lantai 10, Jakarta Selatan, dengan format hybrid yang menggabungkan pertemuan langsung dan siaran daring.
Dalam susunan acara yang diterima media ini, kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan sesi networking pada pukul 12.30 WIB, dilanjutkan dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta sambutan dari Ketua Panitia Acara, Ketua Umum Pengurus Pusat IA ITB, dan Rektor ITB.
Ketua Panitia Acara, Vanny Wulandari Katili, dalam poin sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan yang lebih besar untuk memperkuat peran alumni dalam pembangunan nasional. Menurutnya, Women in STEAM bukan sekadar agenda tunggal, melainkan manifestasi visi IA ITB sebagai strategic orchestrator yang menjembatani hubungan antara kampus, alumni, industri, dan pemerintah.
Ia juga menekankan bahwa IA ITB memiliki jejaring alumni yang tersebar di berbagai sektor strategis, mulai dari teknologi, energi, infrastruktur, pemerintahan, hingga akademisi. Jejaring tersebut dinilai sebagai modal sosial dan trust capital yang dapat menjadi fondasi penting dalam membangun kolaborasi pembangunan jangka panjang.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat IA ITB, Agustin Peranginangin, menilai kepemimpinan perempuan bukan hanya berkaitan dengan isu representasi gender, tetapi merupakan bagian penting dari strategi kemajuan bangsa. Menurutnya, ketika perempuan memperoleh ruang yang lebih luas dalam kepemimpinan dan inovasi, maka seluruh ekosistem pembangunan akan tumbuh lebih inklusif dan berkelanjutan.
Agustin juga menegaskan bahwa penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam kegiatan tersebut menjadi bukti keseriusan IA ITB dalam membangun kerja sama yang terstruktur dan berkelanjutan, tidak sekadar berhenti pada tataran wacana.
Rektor Institut Teknologi Bandung, Tatacipta Dirgantara, dalam poin sambutannya menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan institusional untuk memastikan ilmu pengetahuan serta teknologi yang dikembangkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia menyebut keberadaan perempuan dalam sektor STEAM bukan hanya soal keterwakilan, melainkan menyangkut kualitas solusi dan keberagaman perspektif dalam menghasilkan inovasi yang lebih inklusif. Karena itu, ITB disebut terus berkomitmen membuka akses pendidikan berkualitas dan memperkuat kolaborasi lintas institusi, termasuk bersama Pemprov Malut.
Dalam agenda utama kegiatan, Sherly Tjoanda dijadwalkan menjadi keynote speaker dengan mengangkat topik Women Leadership in Driving Regional Innovation & Inclusive Growth. Pada sesi tersebut, Sherly diharapkan menyampaikan perspektif mengenai peran strategis perempuan dalam pembangunan daerah, transformasi Malut dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis pengetahuan, serta penguatan kolaborasi konkret antara Pemprov Malut, ITB, dan jejaring alumni ITB.
Selain keynote speech, kegiatan juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara IA ITB, ITB, Pemprov Malut, dan Adhikari Foundation. Penandatanganan kerja sama tersebut diproyeksikan menjadi fondasi awal pengembangan kolaborasi di bidang penguatan sumber daya manusia, riset terapan, pengabdian masyarakat, hingga pembangunan ekosistem pendidikan dan inovasi di daerah.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan sesi Fireside Chat bertajuk From Policy to Impact: Bridging Government, Academia, and Women Leaders. Forum diskusi itu menghadirkan sejumlah tokoh perempuan dari berbagai sektor strategis, di antaranya Yani Panigoro, Dea Indriani Astuti, serta Rosa Permata Sari, dengan moderator Viviani Suhar.
Dalam konsep forum yang disusun panitia, sesi tersebut diarahkan untuk membahas bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan publik dapat benar-benar menjangkau masyarakat melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan komunitas.
Malut bahkan ditempatkan sebagai salah satu simbol transformasi pembangunan nasional, terutama dalam konteks peralihan dari ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam menuju pembangunan berbasis pengetahuan, inovasi, dan penguatan kualitas sumber daya manusia.
Forum itu juga diharapkan melahirkan sejumlah langkah konkret, di antaranya penguatan sektor prioritas pembangunan Malut melalui dukungan akademik ITB, pembentukan desk koordinasi pasca-MoU, pengembangan talent pipeline, penguatan riset terapan, hingga kolaborasi pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan daerah.
Selain sesi pertama, kegiatan juga menghadirkan Fireside Chat II bertajuk From Research to Real Impact yang menghadirkan sejumlah tokoh nasional dari bidang riset, teknologi, dan komunitas, seperti Heni Rachmawati, Dian Siswarini, Neni Sintawardani, dan Aliya Rajasa Baskoro Yudhoyono.
Diskusi tersebut akan membahas berbagai isu strategis, mulai dari hilirisasi riset, penguatan infrastruktur digital, pengembangan teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat, hingga pentingnya membangun ekosistem kolaborasi berkelanjutan antara akademisi, industri, pemerintah, dan komunitas perempuan pemimpin.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi closing remarks dan networking yang diarahkan untuk memperkuat jejaring kolaborasi lintas sektor. Melalui forum tersebut, IA ITB bersama para mitra kolaborasi berharap dapat melahirkan model kerja sama yang tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar menghasilkan program konkret yang berdampak bagi pembangunan nasional maupun daerah, khususnya di Malut. (red)