
WARTASOFIFI.ID – Kepala Satpol PP Malut, Rachmat Djabir, menegaskan pentingnya kesiapan dan kecepatan personel Pemadam Kebakaran (Damkar) dalam merespons setiap situasi darurat kebakaran. Hal itu disampaikan usai membuka Bimtek Pencegahan, Penanggulangan, dan Penyelamatan Kebakaran serta Non Kebakaran, yang digelar di Aula Penginapan Yusmar, Sofifi, Senin (6/10).
Kegiatan tersebut diikuti oleh 40 personel dari 10 kabupaten/kota se-Malut, termasuk unsur Damkar Provinsi. Pelatihan ini dirancang sebagai upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam menghadapi potensi kebakaran di berbagai wilayah. Pemprov Malut melalui Satpol PP ingin memastikan bahwa setiap petugas lapangan memiliki keterampilan dan kesiapan yang sama dalam bertindak cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Rachmat menilai bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi wadah penting untuk menanamkan disiplin operasional dan meningkatkan kemampuan teknis bagi para petugas pemadam di daerah.
“Kita harus memiliki sesuatu yang memang dilaksanakan oleh anggota Damkar pada kurun waktu tertentu. Tidak mungkin setiap hari anggota Damkar itu hanya duduk diam menunggu kebakaran baru menuju ke lokasi. Paling tidak, SDM anggota Damkar perlu dilatih untuk kecepatan penanganan kebakaran melalui kegiatan seperti ini,” ujar Rachmat.
Menurut Rachmat, pelatihan teknis seperti ini menjadi bagian dari program pembinaan berkelanjutan yang dijalankan oleh Satpol PP Malut. Ia menilai bahwa rutinitas latihan akan melahirkan kecepatan, ketepatan, dan ketanggapan yang menjadi kunci keberhasilan setiap operasi penyelamatan.

Selain pelatihan teori di dalam ruangan, Rachmat menjelaskan bahwa kegiatan Bimtek juga dilengkapi dengan simulasi lapangan. Simulasi tersebut akan menjadi tolak ukur kesiapan personel dalam menerapkan seluruh materi pelatihan di lapangan. Ia menegaskan bahwa latihan seperti ini akan terus dilakukan secara berkala.
“Selanjutnya, sebentar atau besok itu sudah full time di lapangan. Simulasi tetap kita laksanakan di lapangan untuk menjaga kecepatan anggota Damkar dalam penanganan kebakaran,” tambahnya.
Lebih jauh, Rachmat menjelaskan bahwa jumlah personel Damkar di tingkat provinsi masih sangat terbatas. Ia berharap pemerintah daerah dapat membuka peluang penambahan tenaga agar kesiapsiagaan pemadam kebakaran di Maluku Utara semakin kuat.
Kekurangan personel ini, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri mengingat luasnya wilayah dan sebaran permukiman di berbagai daerah. Ia menilai, tanpa dukungan SDM yang cukup, efektivitas penanganan kebakaran bisa terhambat.

Karena itu, ia berharap pemerintah provinsi memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan tersebut.
“Dari personel untuk Provinsi Malut masih sangat kurang. Mudah-mudahan ke depan diperbolehkan untuk menambah anggota Damkar, karena kita masih membutuhkan tambahan personel,” ungkapnya.
Selain aspek SDM, Rachmat juga menyoroti keterbatasan sarana dan prasarana penunjang. Menurutnya, kelengkapan armada pemadam dan peralatan operasional sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan efektivitas penanganan di lapangan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Malut yang tahun ini telah memberikan tambahan satu unit mobil pemadam kebakaran untuk memperkuat armada Satpol PP Provinsi Malut.
Penambahan ini, kata dia, menjadi dorongan semangat bagi petugas yang selama ini bekerja dengan keterbatasan alat.
“Untuk fasilitas sarana prasarana, tahun ini kita mendapat penambahan satu unit lagi dari Ibu Gubernur, jadi sekarang mobil kami sudah dua unit,” jelasnya.

Meski demikian, kebutuhan fasilitas perkantoran juga menjadi perhatian. Rachmat menyebutkan, hingga kini Satpol PP Malut belum memiliki kantor khusus untuk unit Pemadam Kebakaran. Ia berharap agar ke depan pemerintah dapat mengalokasikan anggaran untuk pembangunan kantor tersebut.
Pembangunan kantor ini, lanjutnya, penting untuk memperkuat sistem komando dan koordinasi antarpersonel di lapangan. Dengan adanya kantor permanen, kegiatan administratif, pelatihan, hingga pemantauan situasi darurat dapat dilakukan secara terpusat dan profesional.
“Untuk sarana perkantoran, mudah-mudahan kalau ada anggaran, kita akan membangun kantor Pemadam Kebakaran Provinsi Maluku Utara,” katanya.
Rachmat juga menjelaskan bahwa untuk pelaksanaan simulasi lapangan, pihaknya telah menetapkan lokasi di belakang kantor BPKAD Malut. Area tersebut dinilai paling ideal karena memiliki lahan luas dan aman, serta memungkinkan skenario simulasi dilakukan tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.

Pemilihan lokasi ini juga mempertimbangkan aspek keselamatan dan efisiensi logistik selama pelatihan berlangsung. Dengan area latihan yang memadai, personel bisa menguasai berbagai teknik pemadaman api sesuai SOP.
“Untuk simulasi, kita laksanakan di tempat yang aman. Kita fokus di belakang kantor BPKAD karena di situ ada lahan yang luas dan cocok untuk latihan penanggulangan kebakaran,” ujarnya.
Sejak unit Damkar dibentuk di tingkat provinsi, Rachmat menyebut kinerja tim pemadam terus menunjukkan peningkatan.
Salah satu indikatornya adalah kecepatan respons terhadap laporan kebakaran dari masyarakat yang kini rata-rata di bawah 10 menit sejak laporan diterima.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem koordinasi dan kesiapsiagaan anggota sudah berjalan baik. Ia mengapresiasi kerja keras seluruh anggota yang selalu siaga dalam kondisi apa pun untuk memastikan keselamatan warga.
“Alhamdulillah, sejak kami memiliki unit pemadam kebakaran, setiap kejadian dan laporan dari masyarakat SOP-nya di bawah 10 menit kami sudah ke lokasi kejadian. Alhamdulillah bisa kita tangani dengan baik,” katanya.
Namun demikian, Rachmat menegaskan bahwa kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Fokus utama tim pemadam adalah memastikan api tidak menyebar ke rumah-rumah warga lain. Penanganan dini menjadi kunci agar kebakaran tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Ia juga mengingatkan pentingnya kerja sama masyarakat dalam melaporkan kejadian secepat mungkin, karena keterlambatan informasi sering kali menjadi penyebab api sulit dikendalikan.
“Intinya, satu yang kita antisipasi adalah agar kebakaran tidak merembet ke perumahan warga lain, baik itu di kiri, kanan, depan, maupun belakang,” tegasnya.

Selain memastikan kesiapan aparat, Rachmat turut mengimbau masyarakat untuk lebih tanggap terhadap potensi bahaya kebakaran.
Rachmat meminta agar setiap warga mengetahui nomor kontak darurat pemadam kebakaran yang terpampang di unit kendaraan yang setiap hari berkeliling di Sofifi.
Kesiapan masyarakat dalam memberikan laporan dini diyakini akan mempercepat penanganan. Dengan komunikasi yang baik antara warga dan petugas, kebakaran dapat dikendalikan sejak tahap awal.
“Himbauan kepada masyarakat, bila terjadi kebakaran silakan hubungi nomor telepon yang terpampang di mobil pemadam kebakaran yang setiap hari berkeliling di Ibu Kota Sofifi,” tuturnya.
Tak hanya itu, Rachmat juga mendorong agar setiap instansi, perkantoran, pertokoan, dan pasar memiliki alat pemadam api ringan (APAR). Langkah ini dinilai efektif untuk mencegah api membesar sebelum mobil pemadam tiba di lokasi.

Menurutnya, kebiasaan preventif seperti ini harus menjadi bagian dari budaya kerja dan kehidupan masyarakat di Maluku Utara. Dengan begitu, risiko kebakaran bisa ditekan dan keselamatan lingkungan dapat lebih terjamin.
“Harapan kami, masyarakat maupun pengguna jasa lainnya seperti perkantoran, pertokoan, atau pasar agar bisa memiliki alat pemadam kebakaran untuk antisipasi awal sebelum mobil pemadam kebakaran datang ke lokasi,” pungkas Rachmat. (red)




