
WARTASOFIFI.ID – Keterlambatan pelaksanaan proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik tahun 2024 di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Maluku Utara (Malut) memunculkan tanda tanya besar tentang efektivitas pengelolaan anggaran dan manajemen proyek di instansi tersebut. Hingga akhir 2024, sejumlah proyek terpaksa diperpanjang melalui adendum akibat ketidakmampuan memenuhi tenggat waktu yang telah ditetapkan.
Plt Kepala Dikbud Malut, Ramli Kamaluddin, mengungkapkan bahwa lambatnya pencairan anggaran menjadi faktor utama keterlambatan proyek. Faktor lain yang memperburuk situasi adalah cuaca buruk yang menghambat pengerjaan di beberapa wilayah.
“Kami sudah melakukan koordinasi dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Memang ada beberapa sekolah yang membutuhkan adendum karena pencairan anggaran terlambat. Selain itu, faktor cuaca, khususnya hujan, sangat mengganggu pengerjaan proyek di lapangan,” ujar Ramli saat ditemui di Sofifi, Selasa (14/1/2025).
Menurut Ramli, meski ada keterlambatan, sebagian besar proyek kini mendekati tahap akhir. Di wilayah Halmahera Utara, misalnya, rata-rata progres pekerjaan telah mencapai 99 persen, menyisakan pemasangan jendela dan instalasi listrik. Namun, ia mengakui bahwa belum semua sekolah berada di tahap ini, menunjukkan disparitas penyelesaian di berbagai lokasi.
“Kemarin saya mengecek di beberapa sekolah. Ada yang sudah selesai 100 persen, tapi ada juga yang progresnya masih 70-80 persen. Fokus kami sekarang mempercepat penyelesaian agar anggaran yang sudah tersedia dapat dicairkan sepenuhnya,” tambah Ramli.
Ramli menegaskan bahwa anggaran tahap akhir untuk DAK 2024 sudah masuk ke rekening dinas. Namun, pencairan dana ke sekolah-sekolah bergantung pada penyelesaian progres pekerjaan. Hal ini disesuaikan dengan perjanjian kontrak dan evaluasi lapangan.
“Dana sudah tersedia. Pencairan dilakukan setelah pekerjaan sesuai dengan progres yang ditargetkan. Untuk beberapa sekolah, seperti SMA 1 Halmahera Utara, sudah dicairkan 100 persen, sementara yang lain seperti SMK Swasta di Halmahera Utara tinggal menunggu penyelesaian akhir,” jelasnya.
Keterlambatan proyek DAK fisik ini menyoroti tantangan serius dalam pengelolaan pendidikan di Maluku Utara. Kinerja manajemen Dikbud dan ketepatan pencairan anggaran perlu dievaluasi secara mendalam agar situasi serupa tidak terulang di masa mendatang.
Selain itu, faktor eksternal seperti cuaca harus diantisipasi lebih baik dalam perencanaan proyek. Ramli menekankan pentingnya koordinasi intensif antara PPK, kontraktor, dan sekolah untuk memastikan percepatan penyelesaian.
“Minggu ini kami targetkan tiga sekolah yang progresnya hampir selesai dapat diselesaikan 100 persen. Kami terus melakukan evaluasi untuk menghindari kesalahan serupa di masa depan,” tutup Ramli. (red)




