Cerita Spice Islands Menjadi Inti NMDC 2025

287
Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, berpose bersama Kabid Destinasi Dispar Malut, Kris Syamsudin, di sela-sela rangkaian peringatan HUT Malut, 12 Oktober 2025. Dok, Pribadi

Event bertajuk North Maluku Dance Competition (NMDC) 2025 dengan tema besar “Dance the Story of Spice Islands” resmi diluncurkan sebagai agenda seni dan budaya berskala provinsi yang akan digelar di Alun-Alun Sofifi pada 28-30 Desember 2025. Kegiatan ini dirancang sebagai wadah ekspresi dan kompetisi yang berpadu menjadi perwujudan kebudayaan, merepresentasikan kekayaan tradisi Malut melalui bahasa gerak tari.

Kompetisi ini menghadirkan tiga kategori utama, yakni Malut Menari (Massal), Tari Kreasi Berbasis Tradisi, dan Modern Dance (Battle Competition). Ketiga kategori tersebut dirancang secara berjenjang untuk menjembatani keberlanjutan tarian tradisi, mendorong pengembangan kreativitas berbasis budaya lokal, sekaligus membuka ruang ekspresi tari modern bagi generasi muda Malut.

Pemprov Malut melalui Dinas Pariwisata memandang kegiatan ini tidak sekadar sebagai ajang perlombaan, melainkan sebagai instrumen strategis dalam memperkuat identitas budaya daerah. Pada saat yang sama, kegiatan ini diarahkan untuk mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif berbasis seni pertunjukan secara berkelanjutan, sekaligus membuka ruang partisipasi dan peluang ekonomi bagi pelaku seni di Malut, khususnya di Sofifi.

Kabid Destinasi Dinas Pariwisata Malut, Kris Syamsudin, melalui rilis tertulis yang disampaikan kepada WARTASOFIFI.ID pada Selasa, 16 Desember 2025, menyampaikan bahwa North Maluku Dance Competition 2025 dirancang sebagai upaya strategis untuk menghidupkan kembali dinamika seni tari tradisi di seluruh wilayah Malut. Kegiatan ini diharapkan berfungsi sebagai wadah kolektif bagi seluruh daerah kabupaten dan kota di Malut untuk menampilkan kembali kekayaan tarian tradisionalnya, sekaligus menghadirkan iklim kompetisi yang sehat dan edukatif bagi generasi muda Malut dalam mengembangkan kreativitas seni tari.

“Event ini menjadi ruang bersama untuk menghidupkan kembali tarian tradisi dari berbagai kabupaten dan kota, sekaligus membuka ruang kompetitif yang sehat bagi generasi muda Malut,” tulis Kris Syamsudin dalam rilis tersebut.

Menurut Kris, kompetisi ini juga diarahkan untuk menjaring bibit-bibit penari muda potensial yang ke depan dapat mewakili Malut di ajang regional hingga nasional, sekaligus memperkuat posisi Malut sebagai daerah dengan kekayaan seni pertunjukan yang khas.

Selain aspek kompetisi, North Maluku Dance Competition 2025 juga didesain sebagai wadah kolaborasi antara pemerintah, komunitas seni, sanggar tari, sekolah, perguruan tinggi, serta pelaku industri kreatif yang selama ini menjadi penggerak utama ekosistem seni di Malut.

Kris menegaskan bahwa Pemprov Malut berharap event ini dapat menjadi magnet wisata tahunan yang bukan hanya menarik partisipasi pelaku seni lokal, tetapi juga mendatangkan wisatawan dan perhatian publik secara lebih luas.

“Kami ingin event ini menjadi agenda tahunan yang ditunggu-tunggu, sekaligus memperkuat branding Maluku Utara sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya dan kreativitas generasi mudanya,” lanjut Kris.

Untuk kategori Malut Menari (Massal), peserta akan menampilkan tarian massal khas Malut dengan unsur kekompakan, keseragaman, serta koreografi yang mencerminkan identitas budaya daerah. Peserta terdiri dari 8 hingga 10 orang dengan rentang usia 13-30 tahun. Pada kategori ini, seluruh karya tari, musik, durasi, dan tema telah ditentukan oleh panitia. Peserta diwajibkan mengikuti koreografi yang disusun panitia, namun tetap diberi ruang untuk berkreasi melalui pengaturan formasi dan komposisi gerak tanpa mengubah pakem utama.

Penilaian Malut Menari mencakup aspek kekompakan dan teknik gerak, kreativitas koreografi, kostum dan properti, penghayatan dan energi, serta keselarasan musik dan ritme dengan bobot nilai maksimal 100 poin. Sementara itu, kategori Tari Kreasi Berbasis Tradisi memberikan ruang eksplorasi yang lebih luas bagi peserta untuk mengembangkan tarian tradisional Malut tanpa menghilangkan rujukan utama dan filosofi dasarnya.

Peserta kategori ini tampil dalam format kelompok berjumlah 8 hingga 10 orang, dengan durasi tarian 5-7 menit, menggunakan musik rekaman, serta wajib memuat unsur asal tarian, baik dari sisi gerak, motif, ritme, maupun nilai filosofisnya. Aspek penilaian pada Tari Kreasi Berbasis Tradisi menitikberatkan pada identitas tradisi dan keaslian unsur budaya, kreativitas koreografi, teknik gerak, artistik pentas, serta kemampuan peserta dalam menyampaikan cerita melalui ekspresi dan interpretasi tari.

Adapun kategori Modern Dance (Battle Competition) dirancang dengan format kompetisi modern yang dinamis dan atraktif, mengusung konsep battle antar grup dengan genre bebas seperti hip-hop, K-pop, fusion, hingga experimental. Peserta Modern Dance terdiri dari grup beranggotakan 3 hingga 5 orang, berusia 13-30 tahun, yang akan melewati tahap penyisihan melalui penampilan koreografi berdurasi 2-3 menit sebelum memasuki babak battle.

Pada babak battle, peserta akan tampil dalam format 1 grup vs 1 grup dengan tiga ronde, masing-masing berdurasi 1-2 menit, hingga penentuan pemenang melalui sistem best of rounds. Kris Syamsudin menegaskan bahwa seluruh kategori dinilai oleh dewan juri yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya, mulai dari praktisi tari tradisi Malut, koreografer nasional, hingga juri khusus untuk kategori modern dance battle.

“Kami memastikan proses penjurian dilakukan secara profesional, transparan, dan objektif, dengan sistem penilaian digital yang langsung terhubung dengan rekap panitia,” tulis Kris dalam keterangannya.

Dari sisi teknis, seluruh peserta wajib melakukan pendaftaran melalui formulir resmi NMDC 2025, mengikuti seleksi administrasi, serta mengirimkan video tari sesuai ketentuan yang telah ditetapkan panitia. Peserta yang dinyatakan lolos seleksi administrasi akan diundang mengikuti perlombaan secara langsung di Sofifi pada 28, 29, dan 30 Desember 2025, dengan jadwal technical meeting yang akan diinformasikan oleh panitia.

Untuk mendukung kelancaran lomba, panitia menyediakan sistem tata suara, sementara peserta bertanggung jawab atas properti dan kostum masing-masing dengan tetap menjaga norma budaya dan etika pertunjukan.

Kris juga mengingatkan bahwa peserta wajib menjaga nilai-nilai budaya, tidak menampilkan tarian atau kostum yang bersifat vulgar, provokatif, maupun menyinggung unsur SARA. Dari sisi apresiasi, North Maluku Dance Competition 2025 menyiapkan total hadiah puluhan juta rupiah, medali, serta piagam penghargaan bagi para pemenang di setiap kategori.

Untuk kategori Malut Menari dan Tari Kreasi Berbasis Tradisi, juara pertama masing-masing akan memperoleh uang tunai Rp25 juta, diikuti juara kedua Rp15 juta dan juara ketiga Rp10 juta, serta penghargaan khusus bagi penari dan kostum terbaik. Sementara kategori Modern Dance Battle menyediakan hadiah juara pertama sebesar Rp15 juta, juara kedua Rp10 juta, juara ketiga Rp7,5 juta, serta penghargaan individu bagi dancer dan kostum terbaik.

Selain hadiah, output kegiatan ini juga mencakup dokumentasi video profesional, pengarsipan koreografi unggulan, publikasi nasional dan digital campaign, serta pembentukan North Maluku Dance Community Network. Menurut Kris, pembentukan jejaring komunitas tari ini diharapkan mampu menjadi wadah komunikasi dan kolaborasi lintas daerah di Malut secara berkelanjutan.

“Kami ingin kompetisi ini tidak berhenti sebagai event, tetapi melahirkan ekosistem dan jaringan komunitas tari Maluku Utara yang terus bergerak dan berkembang,” ujar Kris.

Dari sisi promosi, panitia juga mendorong partisipasi publik melalui kampanye digital dengan tagar seperti #MalukuUtaraMenari2025, #NorthMalukuDanceCompetition2025, dan #DancetheStoryofSpiceIslands. Pelaksanaan lomba yang dipusatkan di Alun-Alun Sofifi diharapkan mampu menghidupkan ruang publik sekaligus memperkuat Sofifi sebagai pusat kegiatan budaya dan pariwisata Malut.

Pemprov Malut menilai momentum akhir tahun menjadi waktu strategis untuk menggelar event seni berskala besar yang dapat menarik perhatian masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah. Kris menambahkan bahwa keterlibatan generasi muda menjadi kunci utama keberhasilan event ini, karena mereka adalah pewaris sekaligus pengembang nilai-nilai budaya Malut di masa depan.

“Melalui tari, generasi muda tidak hanya tampil dan berkompetisi, tetapi juga belajar memahami identitas, sejarah, dan filosofi budaya Maluku Utara,” tulis Kris.

Dengan konsep yang matang, sistem penilaian yang profesional, serta dukungan penuh Pemprov Malut, North Maluku Dance Competition 2025 diharapkan menjadi acuan baru pengembangan seni tari di daerah kepulauan rempah ini. Event ini sekaligus menegaskan bahwa Malut tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga memiliki kekayaan budaya dan kreativitas generasi muda yang layak ditampilkan di panggung yang lebih luas. (red)