
WARTASOFIFI.ID – Dalam suasana pembukaan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) ke-XXVIII tingkat Provinsi Maluku Utara yang digelar di Sofifi, Minggu (15/6), Walikota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, yang akrab disapa Ayah Erik ini tampil dengan pernyataan yang tak terduga dan membakar semangat kontingennya serta mengundang perhatian publik.
Ia menegaskan bahwa Kota Tidore datang bukan sekadar untuk berpartisipasi, tetapi untuk memenangkan kompetisi dan mengukuhkan posisi sebagai juara umum.
“Kami datang bukan untuk ikut lomba, tapi untuk juara,” ucap Ayah Erik dengan penuh keyakinan saat ditemui pada saat ia menghadiri pembukaan STQH di Sofifi.

Keyakinan tersebut berakar dari rekam jejak prestasi Kota Tidore Kepulauan yang dalam dua edisi terakhir STQH tingkat provinsi berhasil merebut dan mempertahankan Piala Bergilir Juara Umum.
Tak hanya di tingkat regional, kontingen Tidore bahkan telah menorehkan pencapaian membanggakan di panggung internasional.
“Kami bukan sekadar datang membawa peserta, tapi kami bawa para juara, bahkan yang sudah tampil dan menang di tingkat dunia,” tutur Ayah Erik.

Salah satu bukti nyata dari keberhasilan tersebut adalah sosok Izzah Quratta’Ain, qari’ah muda asal Tidore, yang mewakili Indonesia pada MTQ Internasional di Qatar tahun 2023 dan berhasil meraih juara tiga cabang tartil. Puncaknya, Izzah kembali mengharumkan nama bangsa dengan menjadi juara satu STQ Internasional di Qatar tahun 2025.
Ayah Erik menekankan bahwa keberhasilan generasi muda Tidore dalam kancah internasional tidak lepas dari pembinaan jangka panjang dan persiapan serius.

Karena itu, ia yakin bahwa kontingennya tampil dengan kesiapan yang jauh melampaui ekspektasi umum.
“Peserta yang kami bawa ini bukan punya mental lokal lagi, tapi mental internasional. Mereka sudah terbiasa tampil di depan juri-juri internasional, jadi kami melihat STQH ini sebagai medan untuk mempertahankan tradisi juara, bukan sekadar ajang kompetisi biasa,” tegasnya.

Ayah Erik juga menuturkan bahwa pembinaan yang dilakukan di Tidore bukan hanya teknis semata, tetapi juga menyentuh aspek spiritual, kedisiplinan, serta pendampingan moral oleh pelatih-pelatih berpengalaman.
Salah satunya adalah Ustadz Mubarak, ayah dari Izzah Quratta’Ain, yang kini dikontrak oleh Pemprov DKI Jakarta sebagai pelatih nasional dan ikut hadir sebagai pendamping kafilah Tidore.

Dengan pencapaian yang telah diraih, Ayah Erik menyampaikan bahwa dirinya siap menanggung konsekuensi logis bila Tidore kembali menyabet juara umum tahun ini.
Ia secara terbuka menyatakan kesediaan Kota Tidore menjadi tuan rumah STQH tingkat Provinsi Maluku Utara tahun depan.
“Kalau tahun ini Tidore kembali jadi juara umum, saya bersedia dan siap menjamu seluruh kafilah dari sepuluh kabupaten/kota di STQH tahun depan, langsung di Pulau Tidore,” ujarnya.

Pernyataan ini bukan hanya bentuk tanggung jawab moral atas keberhasilan, tetapi juga sebagai ajakan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun atmosfer pembinaan Al-Qur’an yang berkelanjutan dan menyeluruh di Maluku Utara.
Ayah Erik menyadari bahwa semangat dan ekspresi optimisme yang ia sampaikan bisa saja dipandang sebagai sikap arogan. Namun ia menegaskan bahwa semua itu justru merupakan bentuk dorongan kepada seluruh daerah agar berani membangun ekosistem pendidikan Qur’an yang unggul.

“Bukan berarti saya sombong atau takabur. Ini semata-mata untuk memotivasi kita semua. Kalau Tidore bisa mencetak juara nasional dan internasional, maka kabupaten/kota lain juga pasti bisa,” katanya.
Ia mengajak seluruh kepala daerah di Maluku Utara untuk serius memfasilitasi dan merawat talenta muda yang memiliki bakat dalam seni membaca Al-Qur’an.

Menurutnya, prestasi seperti yang diraih Izzah Quratta’Ain bisa menjadi inspirasi dan pemicu semangat bagi generasi lainnya.
Lebih dari sekadar prestasi daerah, Ayah Erik menganggap pencapaian para qari dan qari’ah Tidore sebagai bagian dari diplomasi budaya Islam Indonesia di mata dunia.
Ia percaya bahwa generasi Qurani dari Timur Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi duta bangsa dalam menampilkan keindahan Islam dan kecemerlangan generasi muda Indonesia di forum global.

“Target kami bukan lagi provinsi. Kami ingin membawa Maluku Utara ke level nasional dan internasional. Dan kami punya SDM yang siap untuk itu,” tegasnya.
Dengan ketersediaan pelatih kelas nasional, pengalaman internasional, serta keberhasilan mempertahankan gelar juara umum dua kali berturut-turut, kontingen Tidore Kepulauan menjadi salah satu kafilah yang paling diperhitungkan dalam STQH ke-XXVIII Provinsi Maluku Utara tahun ini.

STQH 2025 di Sofifi bukan sekadar ajang lomba keagamaan, melainkan ruang pembuktian atas kerja keras, ketekunan, dan dedikasi dalam membangun peradaban Qur’ani dari daerah.
Tidore, di bawah kepemimpinan Ayah Erik, memperlihatkan bahwa dengan visi yang besar, pembinaan yang konsisten, serta dukungan masyarakat, sebuah daerah kecil bisa tampil di panggung dunia.
Ke depan, tantangan bukan hanya mempertahankan prestasi, tetapi menginspirasi seluruh Maluku Utara untuk bangkit bersama membangun masa depan generasi Qurani yang cemerlang. (red)







