Aura Ratu dalam Sosok Gubernur Sherly Tjoanda

202
Sherly Tjoanda

WARTASOFIFI.IDMinggu pagi, 17 Agustus 2025, di halaman Kantor Gubernur Maluku Utara, berlangsung upacara peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Untuk pertama kalinya, Gubernur Sherly Tjoanda bertindak sebagai inspektur upacara. Ia tampil karismatik dengan balutan seragam Pakaian Dinas Upacara (PDU).

Setelah berdiri cukup lama mengikuti rangkaian prosesi hingga pengibaran Sang Merah Putih oleh pasukan Paskibraka, sekitar tujuh menit kemudian seorang staf protokol Pemprov Malut menghampiri tenda utama dan menyiapkan kursi.

Tepat pukul 10.38 WIT, Gubernur Sherly terlihat duduk di kursi tersebut. Sekilas momen itu tampak biasa, namun jika diperhatikan lebih seksama, sosok Sherly seakan memancarkan aura seorang ratu yang duduk di singgasananya. Hari itu, keanggunan, wibawa, dan kharisma kepemimpinannya semakin nyata terpancar.

Saat itu, Sherly duduk bak seorang ratu di singgasananya. Ia mengenakan pakaian kebesaran gubernur berwarna putih lengkap dengan topi dinas yang berhias lambang Garuda, menyerupai mahkota yang menambah kewibawaannya.

Penampilannya memancarkan perpaduan wibawa, keanggunan, dan karisma yang sulit diabaikan. Sorot matanya menampilkan ketegasan sekaligus kepedulian, menegaskan bahwa di balik penampilan elegan tersebut hadir sosok pemimpin yang tangguh, matang, dan benar-benar peduli pada rakyatnya.

Sherly bukanlah pemimpin yang berjalan sendiri. Di belakangnya berdiri lebih dari satu juta masyarakat Maluku Utara yang turut berperan dalam perjuangan membangun provinsi ini.

Dukungan rakyat terhadap program-program pemerintahannya menjadi bukti nyata adanya sinergi antara pemimpin dan masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa kepemimpinan yang kuat selalu lahir dari kolaborasi.

Keterlibatan masyarakat terlihat dalam berbagai sektor pembangunan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi lokal. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari roda penggerak pembangunan yang selaras dengan visi besar Sherly-Sarbin. Inilah bentuk kepemimpinan yang membumi, ketika suara rakyat tidak hanya didengar, melainkan benar-benar menjadi fondasi setiap kebijakan.

Bagi Sherly, rakyat adalah mitra sekaligus sumber inspirasi dalam mengambil keputusan strategis. Ia kerap menegaskan bahwa pembangunan Maluku Utara tidak boleh terfokus pada pemerintah semata, melainkan harus menjadi gerakan bersama yang tumbuh dari kesadaran kolektif. Pandangan ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan sejati bukan hanya soal memimpin dari depan, tetapi juga berjalan bersama, menyatukan langkah dengan seluruh elemen masyarakat.

Lahir pada 12 Agustus 1982, Sherly genap berusia 43 tahun pada 12 Agustus 2025. Usia yang ke-43 ini bukan sekadar angka, melainkan bukti kematangan seorang pemimpin yang karismatik. Sebagai gubernur perempuan pertama di Moloku Kie Raha, Sherly menorehkan sejarah baru dalam kepemimpinan daerah.

“Karismatik dan matang,” kata Plt Kepala Biro PBJ, Hairil Hi. Hukum, ketika ditanya Wartasofifi.id mengenai momen ulang tahun Gubernur Sherly. Pernyataan ini mempertegas pandangan di lingkup birokrasi bahwa Sherly bukan sekadar pemimpin, melainkan figur yang mampu mengelola kompleksitas pemerintahan dengan sikap bijak dan terukur.

Wakil Gubernur Sarbin Sehe, secara terpisah menambahkan dimensi lain dari kepemimpinan Sherly, yakni ketangguhan. Sarbin mengingat tragedi Oktober 2024, ketika calon gubernur dan suami Sherly, Benny Laos, meninggal dunia. Meski tengah berduka, Sherly waktu itu mampu bangkit dan melanjutkan perjuangan suaminya untuk mensejahterakan masyarakat Maluku Utara.

“Ibu Gubernur itu adalah perempuan yang tangguh, bukan cuma hebat, tapi dia tangguh. Menghadapi situasi yang luar biasa di Oktober waktu itu, berduka, kemudian mengambil bagian dalam perjuangan suaminya, lalu bisa berhasil jadi gubernur. Itu luar biasa, perempuan yang tangguh,” kata Sarbin.

Dalam perjalanan kepemimpinan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, banyak pihak menaruh perhatian terhadap keteguhan dan konsistensinya dalam menjalankan roda pemerintahan. Kehadiran sosok perempuan sebagai kepala daerah di provinsi ini dianggap membawa warna baru, tidak hanya dari sisi kebijakan, tetapi juga dari keteguhan hati dalam menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Menurutnya, ketegaran Sherly membuktikan bahwa stigma yang selama ini melekat pada perempuan sebagai sosok yang lemah, justru terpatahkan lewat gaya kepemimpinannya. Lebih jauh, Sarbin menepis persepsi umum bahwa perempuan itu lemah.

“Ternyata selama ini persepsi perempuan itu lemah, itu ternyata tidak ada di sosok Ibu Sherly. Bahwa perempuan itu lemah, itu di mata saya tidak ada,” ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan atas kemampuan seorang perempuan memimpin dalam situasi sulit, sekaligus membuktikan bahwa kepemimpinan bukan soal gender, melainkan kualitas.

Kepemimpinan Sherly Tjoanda terus menuai sorotan positif dari berbagai kalangan, terutama terkait kebijakan yang dirumuskan dan dijalankan selama masa pemerintahannya.

Berbagai program yang lahir dari kepemimpinannya dianggap bukan hanya sekadar wacana politik, melainkan langkah nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat di berbagai sektor penting.

Di antara banyak pandangan yang muncul, sejumlah pejabat internal menilai bahwa kecerdasan Sherly dalam menata pemerintahan menjadi faktor utama yang membuat program-programnya berjalan efektif.

Langkah-langkah strategis yang diambilnya dianggap mampu menjawab tantangan pembangunan sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Ahmad Purbaya selaku Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Maluku Utara menilai kepemimpinan Sherly Tjoanda tidak hanya ditunjukkan melalui gaya komunikasi politik, tetapi juga melalui kecerdasan dalam mengelola roda pemerintahan.

Menurutnya, arah kebijakan yang diambil selama ini menggambarkan keberpihakan nyata kepada masyarakat luas. Ia menekankan bahwa berbagai keputusan yang telah dijalankan Gubernur membawa manfaat langsung, mulai dari program pendidikan gratis, pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), hingga pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi ASN.

Semua kebijakan itu, lanjut Ahmad, menjadi bukti konkrit bahwa visi pemerintahan Sherly benar-benar berpihak pada kepentingan publik.

“ Ibu Gubernur ini luar biasa, beliau cerdas, kebijakan beliau itu sangat pro rakyat, misalnya pendidikan gratis, RTLH dan TPP ASN. Kebijakan ini berdampak langsung ke masyarakat, termasuk bantuan Ibu Gubernur ke jamaah haji,” katanya.

Selama tujuh bulan kepemimpinan Sherly-Sarbin, banyak program berhasil dijalankan, mulai dari pendidikan gratis, layanan kesehatan, hingga RTLH. Sherly tidak hanya menetapkan kebijakan, tetapi juga aktif melobi program pusat untuk diterapkan di Maluku Utara. Pendekatan ini menunjukkan dedikasi tinggi dalam membawa kesejahteraan nyata ke masyarakat.

Dalam birokrasi, Sherly dikenal mengayomi dan membina pejabatnya. Kepala OPD yang kompeten dan berpendidikan tinggi ditempatkan strategis untuk mendukung percepatan pembangunan. Bahkan di setiap momen penting, ia tak lupa mengajak kepala OPD berfoto dan berdiskusi, menciptakan budaya kerja yang lebih partisipatif.

Program pendidikan gratis, menurut Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Abubakar Abdullah, mencakup sekolah negeri maupun swasta, dengan penghapusan biaya komite yang membebani orang tua. Ini menunjukkan perhatian konkret terhadap beban masyarakat.

Di bidang perumahan, 700 unit rumah baru dan rehabilitasi, serta dapur sehat, menjadi bukti komitmen Sherly dalam meningkatkan kualitas hidup warga. Program ini telah dimulai di Kota Ternate, memberikan contoh nyata pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

“Penyerahan bantuan rumah sudah dilakukan di Ternate. Hal ini menandakan bahwa program RTLH 700 unit sudah mulai berjalan,” ujarnya, baru-baru ini.

Selain itu, Sherly juga memiliki tim birokrat yang mumpuni, termasuk kepala OPD bergelar doktor seperti Ahmad Purbaya, Abubakar Abdullah, Marwan Polisiri, Hairil Hi. Hukum, Muhammad Sarmin S. Adam, Fachrudin Tumuboya, Nirwan MT. Ali, Asrul Gailea, dan Iksan R. Arsad. Keberadaan tim ini mendukung eksekusi kebijakan dengan efisiensi tinggi.

Penerapan jam kerja baru sejak 1 Agustus 2025 menandai komitmen terhadap disiplin ASN. Pantauan Wartasofifi.id menunjukkan kantor pemerintahan di Sofifi kini ramai pegawai, berbeda dengan kondisi sebelumnya yang cenderung sepi.

Dampak perubahan ini terlihat pada ekonomi lokal. Pendapatan tukang ojek, sopir angkutan, dan pedagang kaki lima meningkat signifikan, mencerminkan bahwa disiplin birokrasi dan produktivitas pemerintah memiliki efek langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, penerangan jalan di Sofifi kini memadai, termasuk jalur menuju Rumah Sakit Sofifi dan kantor gubernur di Puncak Gosale. Transformasi ini menegaskan komitmen Sherly dalam meningkatkan kenyamanan dan keamanan warga, sekaligus mempersiapkan Sofifi sebagai kota metropolitan.

Hotel dan penginapan di Sofifi kini ramai digunakan untuk kegiatan OPD, bimbingan teknis, dan rapat koordinasi. Aktivitas ini menunjukkan bahwa visi Sherly menjadikan Sofifi kota modern mulai terlihat nyata.

Sherly membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan mampu menghadirkan perubahan yang signifikan, baik dalam birokrasi, ekonomi, maupun pembangunan infrastruktur.

Duduk di kursi bak ratu duduk di singgasana dengan pakaian gubernur putih dan topi seperti mahkota, ia menjadi simbol wibawa, ketangguhan, dan komitmen terhadap masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa Gubernur Sherly Tjoanda bukan hanya pemimpin formal, tetapi juga sosok yang nyata, tangguh, dan karismatik. Kepemimpinannya membawa perubahan berarti bagi Maluku Utara serta membuktikan bahwa perempuan mampu memimpin dengan keberanian, kecerdasan, dan kepedulian yang tulus. (red)