
WARTASOFIFI.ID – Kadikbud Malut, Abubakar Abdullah, meninjau langsung SMA Kristen Nusa Damai di Desa Posi-posi Rao, Kecamatan Morotai Selatan, Sabtu (20/9), sebagai bagian dari upaya Pemprov Malut mewujudkan akses dan mutu pendidikan yang merata hingga ke daerah terpencil.
“Upaya mewujudkan akses dan mutu pendidikan yang merata hingga ke daerah terpencil terus menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Maluku Utara,” ujar Abubakar Abdullah, menegaskan visi Gubernur Sherly Tjoanda dalam meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh Malut.
Abubakar menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan hingga ke daerah terpencil. Ia menyebutkan bahwa perhatian terhadap sekolah-sekolah yang jauh dari pusat kota menjadi fokus utama dalam upaya pemerataan pendidikan di Malut.
Dia menambahkan, “Ibu Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) memberi perhatian serius pada sekolah-sekolah yang jauh dari pusat kota,” katanya. Ucapan ini menegaskan bahwa arahan Gubernur menjadi pedoman utama bagi Dikbud untuk memastikan semua siswa, termasuk di wilayah terluar, mendapatkan fasilitas dan proses belajar yang layak.
Kunjungan Kadikbud Abubakat ini menjadi bagian dari rangkaian agenda di Kabupaten Pulau Morotai, yang mencakup pemeriksaan kesehatan gratis, peninjauan revitalisasi sekolah, serta pemantauan proses belajar mengajar.
“Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda di Kabupaten Pulau Morotai, yang mencakup pemeriksaan kesehatan gratis, peninjauan revitalisasi sekolah, serta pemantauan proses belajar mengajar,” jelasnya.
SMA Kristen Nusa Damai menampung siswa dari pulau sekitar, termasuk 17 siswa SMA dan 20 siswa SMP dari Pulau Saminyamau. Namun, akses menuju sekolah masih penuh tantangan.
“Akses menuju sekolah masih penuh tantangan. Para siswa harus menyeberangi laut sejauh 200 meter menggunakan perahu kecil (body sampan) yang disediakan pemerintah desa,” kata Abubakar.

Abubakar menjelaskan, Perjalanan siswa menuju SMA Kristen Nusa Damai di Posi-posi Rao masih menghadapi tantangan serius, meski pemerintah desa menyediakan perahu untuk menyeberangi laut. Biaya transportasi yang ditetapkan sebesar Rp 20.000 per bulan per siswa pun masih belum cukup mengatasi kesulitan perjalanan yang mereka hadapi setiap hari.
“Biaya transportasi ditetapkan Rp 20.000 per bulan per siswa. Namun, perjalanan itu hanya dapat ditempuh ketika cuaca baik. Saat hujan deras atau badai, mereka tidak bisa berangkat ke sekolah. Setiba di Posi-posi Rao, siswa masih harus berjalan kaki sekitar dua kilometer untuk mencapai SMA Kristen Nusa Damai,” ungkapnya.
Kondisi ini menjadi perhatian serius Dikbud Malut, karena menunjukkan bahwa meski ada subsidi transportasi, akses pendidikan di daerah terpencil masih menghadapi kendala alam yang signifikan. Abubakar menegaskan bahwa Pemprov Malut terus mencari solusi agar siswa di pulau terluar dapat bersekolah dengan lebih aman dan lancar setiap hari.
Abubakar menegaskan bahwa kunjungan ini sekaligus untuk memantau langsung kondisi sekolah dan tantangan belajar siswa.
“Atas arahan Ibu Gubernur, kami diminta memantau langsung kondisi sekolah ini, termasuk aktivitas belajar mengajar dan tantangan yang dihadapi siswa,” tambahnya.
Rombongan Kadikbud menempuh perjalanan panjang dari Daruba menuju Wayabula, dilanjutkan dengan perahu ke Posi-posi Rao. Sesampainya di sekolah, mereka disambut pihak sekolah dan siswa.
“Alhamdulillah perjalanan kami berjalan lancar,” kata Abubakar.
Abubakar menekankan pentingnya perhatian terhadap kesenjangan akses pendidikan di wilayah terpencil. Dia menyebut bahwa perjuangan siswa menempuh perjalanan panjang setiap hari menjadi indikator nyata masih adanya ketimpangan dalam akses pendidikan di provinsi ini.
“Perjuangan siswa menyeberangi laut dan menempuh perjalanan darat setiap hari untuk bersekolah menegaskan masih adanya kesenjangan akses pendidikan di Maluku Utara,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah provinsi, masih dibutuhkan intervensi tambahan untuk memastikan pendidikan merata hingga ke daerah terluar.

Kunjungan Abubakar ke SMA Kristen Nusa Damai di Posi-posi Rao tidak hanya bertujuan memantau proses belajar mengajar, tetapi juga meninjau kebutuhan sarana dan prasarana sekolah. Hasil pengamatan ini menjadi bahan penting untuk menentukan langkah-langkah yang diperlukan agar siswa di daerah terpencil mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai.
Abubakar menegaskan bahwa temuan dan rekomendasi dari kunjungan ini akan menjadi acuan bagi Pemprov Malut dalam merumuskan intervensi yang lebih tepat sasaran. Setiap kendala yang dihadapi siswa, termasuk terkait sarana belajar dan transportasi, dicatat untuk disampaikan kepada Gubernur Sherly Tjoanda sebagai dasar pengambilan keputusan lebih lanjut.
“Iya, kita lapor dulu ke Ibu Gubernur, yang jelas untuk sarpras berupa RKB, RPS kemarin DAU 2024 sudah diintervensi dan sudah digunakan,” pungkas Abubakar.
Sumber: Rilis Dikbud Malut




