Sherly Tjoanda Memaknai HUT RI ke-80 Lewat Filosofi Marimoi Ngone Futuru

92
Sherly Tjoanda

WARTASOFIFI.ID – Pagi itu Minggu (17/8) di halaman kantor Gubernur Maluku Utara, semangat kemerdekaan menyelimuti seluruh peserta upacara HUT RI ke-80. Untuk pertama kalinya, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, bertindak sebagai Inspektur Upacara. Wajah-wajah tegang namun penuh kebanggaan tampak di barisan Paskibraka, yang terdiri dari siswa-siswi terbaik dari berbagai sekolah di Maluku Utara.

Salah satu momen paling mengharukan terjadi saat bendera merah putih dikibarkan. M. Fiqri Maulana Umagafur dari SMA N 8 Kota Ternate, yang bertugas sebagai pembentang bendera, menatap lurus ke depan dengan penuh konsentrasi, sementara teman-temannya menggenggam tali pengait dan baki bendera dengan tangan sedikit gemetar, namun berhasil menunaikan tugas dengan sempurna. Suasana hening, semua mata tertuju pada Sang Merah Putih yang perlahan naik ke puncak tiang.

Setelah selesai upacara, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, kepada sejumlah wartawan menyampaikan pesan yang menyentuh hati seluruh warga Maluku Utara.

Ia menekankan bahwa kemerdekaan sejati bukan sekadar simbol, tetapi harus dirasakan nyata oleh masyarakat, terutama melalui pemerataan pembangunan dan layanan publik.

Gubernur Sherly juga mengingatkan pentingnya memastikan bahwa setiap warga merasakan kebebasan dari rasa takut dan keterbatasan, serta mendapat akses yang layak terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.

Hal ini menjadi pesan moral yang ingin ia sampaikan agar pembangunan di Maluku Utara lebih merata dan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

“Pembangunannya bisa lebih baik lagi, agar semua masyarakat merasakan kemerdekaan secara inklusif. Mereka bisa merdeka dari rasa takut, merdeka dari rasa sakit yang tidak bisa ditangani,” ujar Gubernur Sherly.

Gubernur Sherly menekankan bahwa kemerdekaan sejati tidak hanya dirayakan dalam upacara, tetapi harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Menurutnya, pembangunan daerah harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, sehingga setiap warga memperoleh manfaat nyata dari kemerdekaan.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Sherly menyoroti tantangan pembangunan di wilayah kepulauan, yang sering menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas dasar.

Ia kembali menekankan perlunya perhatian serius terhadap pemerataan pembangunan agar seluruh warga, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil, dapat menikmati layanan publik secara adil dan layak.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pembangunan rumah layak, akses pendidikan, dan layanan kesehatan bagi seluruh warga, khususnya mereka yang tinggal di pulau-pulau terpencil.

“Harapan ke depan, Maluku Utara lebih merata dalam hal ekonomi, rumah-rumah yang kurang layak bisa diperbaiki, dan masyarakat, terutama di kepulauan, bisa mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan yang berkualitas,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sherly tidak hanya menekankan aspek pembangunan, tetapi juga menyoroti pentingnya menjaga semangat persatuan.

Ia menilai, keberagaman yang ada di Maluku Utara merupakan kekuatan yang harus terus dirawat agar tetap menjadi perekat sosial di tengah dinamika kehidupan masyarakat.

Sherly menyadari bahwa Maluku Utara adalah daerah yang unik, dengan masyarakat yang multietnis, multikultural, dan tersebar di sepuluh kabupaten kota. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar dalam membangun daerah.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa harmoni di tengah keberagaman harus dijaga bersama agar cita-cita kemerdekaan benar-benar terwujud di seluruh pelosok.

“Harapan ke depan, pemerataan ekonomi bisa dirasakan masyarakat Maluku Utara secara inklusif, dan marimoi ngone foturu, torang semua basudara,” katanya.

Sherly kembali menegaskan bahwa momentum kemerdekaan bukan semata-mata perayaan seremonial, melainkan menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat Maluku Utara untuk senantiasa menjaga kerukunan di tengah keberagaman etnis, budaya, dan agama yang hidup berdampingan di wilayah kepulauan tersebut.

Dengan nada penuh harap, Sherly mengajak masyarakat agar tidak mudah terpecah belah oleh perbedaan, melainkan memperkuat ikatan persaudaraan demi kemajuan bersama.

“Semoga keberagaman tetap dipelihara, dan kesatuan Indonesia terus terjaga, khususnya di Maluku Utara. Semua baku sayang, jangan baku lai. Makin maju, jaya, sejahtera,” pinta Sherly.

Selain itu, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, disiplin, dan semangat kebangsaan, setiap anggota Paskibraka menerima satu unit laptop serta insentif sebesar Rp2 juta. Penghargaan ini diberikan kepada 30 siswa terpilih yang menjadi bagian dari pasukan inti.

Penghargaan serupa juga diberikan kepada Pasukan 45, barisan pengawal yang seluruh anggotanya berasal dari unsur TNI dan Polri. Di tingkat nasional, formasi ini dikenal sebagai Paspampres yang mengawal pasukan inti sekaligus menjaga simbol kehormatan negara.

Di Maluku Utara, keberadaan Pasukan 45 tetap mengandung nilai penting, yakni menjaga marwah kemerdekaan dengan penuh kehormatan. Masing-masing anggota Pasukan 45 memperoleh insentif sebesar Rp1,5 juta.

Sementara itu, para pelatih yang berperan membimbing, mendidik, serta membentuk karakter anggota Paskibraka turut mendapat apresiasi berupa insentif Rp6,6 juta per orang.

Gubernur Sherly menegaskan bahwa Paskibraka adalah representasi generasi muda yang menjadi harapan bangsa. Ia berharap laptop dan insentif yang diberikan tidak hanya menjadi kenangan, melainkan juga sarana pendukung pendidikan serta motivasi untuk terus berprestasi.

“Kalian bukan sekadar pengibar bendera, melainkan pengibar semangat masa depan. Gunakan hadiah ini untuk belajar, berinovasi, dan mengasah diri agar kelak menjadi pemimpin terbaik bagi Maluku Utara dan Indonesia,” ujar Gubernur Sherly (dikutip dari RRI).

Penyerahan hadiah dilakukan setelah upacara resmi, disaksikan jajaran Forkopimda, para orang tua, serta guru pendamping. Suasana haru dan bangga mewarnai momen tersebut, menegaskan betapa pentingnya peran generasi muda dalam melanjutkan cita-cita kemerdekaan.

Sore harinya, Wakil Gubernur Sarbin Sehe memimpin upacara penurunan bendera, yang juga berlangsung dengan tertib dan khidmat. Paskibraka yang bertugas sore hari tampak lebih tenang, namun tetap disiplin dan fokus dalam menjalankan tugas. Momen penurunan bendera menutup peringatan HUT RI ke-80 di Maluku Utara dengan penuh haru dan semangat kebersamaan.

Tema HUT RI ke-80, “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, terasa hidup melalui kebersamaan peserta upacara, semangat anak-anak Paskibraka, serta pesan pembangunan yang disampaikan Gubernur Sherly. Peringatan ini bukan hanya seremonial, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus dirasakan secara nyata oleh seluruh masyarakat, tanpa terkecuali.

Dengan harapan persatuan dan pembangunan yang merata Gubernur Sherly menegaskan bahwa seluruh rakyat Maluku Utara harus terus menjaga persaudaraan, memelihara keberagaman, dan bersama-sama mewujudkan kemerdekaan yang lebih bermakna. (red)