Advertorial Sherly Menyimak Cerita dari Sekolah

Sherly Menyimak Cerita dari Sekolah

Gubernur Malut Sherly Tjoanda didampingi Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Sinen, Sekda Kota Tidore Kepulauan, dan Kadikbud Malut Abubakar Abdullah saat menyerap aspirasi siswa SMA Negeri 1 Tidore Kepulauan dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu, 28 Oktober 2026. (Foto: Biro Adpim Malut)

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menghadirkan ruang dialog antara Gubernur Malut Sherly Tjoanda dan para siswa, sekaligus membuka sejumlah persoalan pendidikan, mulai dari gedung kelas yang belum difungsikan, fasilitas belajar yang usang, hingga kesempatan melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Dialog tersebut berlangsung di SMA Negeri 1 Tidore Kepulauan, Rabu, 28 Oktober 2026.

“Apa yang sudah bagus, apa yang belum bagus, apa yang kalian inginkan? Silakan sampaikan,” ungkap Sherly saat mempersilakan para siswa menyampaikan aspirasi secara langsung.

Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk bagi para pelajar untuk mengutarakan persoalan yang mereka hadapi di sekolah. Bukan hanya tentang fasilitas fisik, aspirasi yang muncul juga menyentuh kebutuhan ruang pengembangan minat dan bakat, pembiayaan kegiatan siswa, serta akses beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ketua OSIS SMAN 1 Tidore Kepulauan sekaligus Ketua Panitia Hari Sumpah Pemuda, Qadri Syahri Rahman, menyampaikan keluhan terkait pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan sistem masuk siang selama tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut berkaitan dengan gedung kelas lantai dua yang telah selesai direnovasi, tetapi belum dapat digunakan.

Persoalan itu memperlihatkan bahwa selesainya pekerjaan fisik belum selalu berarti fasilitas pendidikan dapat langsung dimanfaatkan. Masih ada proses serah terima yang perlu dituntaskan agar ruang kelas bisa difungsikan. Dalam dialog tersebut, Sherly meminta pihak sekolah segera mengurus Berita Acara Serah Terima (BAST) dengan berkoordinasi bersama kementerian terkait.

Selain gedung kelas, siswa turut mengeluhkan proyektor atau infocus yang sudah usang. Sarana penunjang pembelajaran seperti proyektor, kipas angin, dan penerangan menjadi bagian dari kebutuhan yang perlu diperhatikan agar kegiatan belajar berlangsung lebih nyaman dan mendukung proses penyampaian materi di kelas.

Sherly meminta pihak sekolah mengoptimalkan pemanfaatan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) dan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) yang disebut mencapai sekitar Rp 2 miliar per tahun. Anggaran tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan pembelajaran dan melengkapi fasilitas di setiap kelas.

Besaran anggaran itu sekaligus menghadirkan pertanyaan tentang prioritas pemanfaatannya. Kebutuhan ruang belajar, perlengkapan pembelajaran, serta kegiatan pengembangan siswa perlu masuk dalam perencanaan sekolah sehingga penggunaan dana memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan para pelajar.

Persoalan berikutnya muncul dari keinginan siswa untuk memperoleh lebih banyak kesempatan mengembangkan potensi. Para pelajar meminta dukungan sekolah untuk menghadirkan kegiatan akademik, debat, olahraga, dan kompetisi kreatif lainnya sebagai ruang untuk mengasah kemampuan sekaligus membangun motivasi belajar.

Dalam dialog tersebut, Sherly mengapresiasi inisiatif siswa yang berhasil menggalang dana kegiatan hingga Rp 37 juta. Dia meminta pihak sekolah menyediakan alokasi anggaran khusus setiap tahun untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan dan perlombaan. Dengan demikian, pengembangan minat dan bakat tidak hanya bergantung pada kemampuan siswa mengumpulkan dana secara mandiri.

Aspirasi mengenai masa depan pendidikan turut mengemuka ketika seorang siswa menanyakan kesempatan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Pertanyaan tersebut membawa dialog dari persoalan ruang kelas menuju tantangan yang lebih luas, yakni akses terhadap pendidikan tinggi dan informasi pendanaan studi.

Sherly menjelaskan bahwa Pemprov Malut menyediakan kuota beasiswa bagi 1.000 siswa setiap tahun melalui program yang melibatkan 27 perguruan tinggi berakreditasi B di Malut. Dalam penjelasannya, terdapat ketentuan mengenai peringkat perguruan tinggi yang didaftarkan pihak sekolah.

Pemprov Malut juga menyediakan jalur afirmasi melalui BKD untuk sekolah kedinasan serta merencanakan kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Terkait studi ke luar negeri, Sherly menjelaskan bahwa Pemprov Malut belum mengalokasikan anggaran khusus untuk beasiswa tersebut. Para siswa didorong mencari informasi melalui saluran resmi, termasuk Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), yayasan pendidikan, dan kedutaan besar negara sahabat.

Penjelasan tersebut memperlihatkan perbedaan jalur dukungan pendidikan yang disampaikan dalam dialog. Beasiswa melalui perguruan tinggi di Malut, jalur afirmasi sekolah kedinasan, rencana kerja sama dengan kampus di luar daerah, serta beasiswa luar negeri memiliki mekanisme dan peluang yang perlu dipahami siswa sejak dini.

Agar informasi tersebut dapat dimanfaatkan secara tepat, ketersediaan kuota perlu diikuti penjelasan yang mudah diakses mengenai persyaratan, jadwal pendaftaran, mekanisme seleksi, dan cakupan pembiayaan. Kejelasan informasi akan membantu siswa dan orang tua mempersiapkan pilihan pendidikan sesuai kemampuan serta tujuan studi.

Dialog di SMAN 1 Tidore Kepulauan juga menyentuh persoalan pemeliharaan fasilitas sekolah. Sherly meminta pihak sekolah membuat dan menyosialisasikan tautan pengaduan agar kerusakan sarana, mulai dari lapangan, pagar, hingga ruang kelas, dapat diinventarisasi dan ditindaklanjuti.

Dia juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap potensi perundungan di lingkungan sekolah demi menjaga keamanan dan kesehatan mental siswa.

Di tengah peringatan Sumpah Pemuda, aspirasi yang disampaikan para pelajar menghadirkan gambaran tentang kebutuhan pendidikan yang berlapis. Semangat belajar membutuhkan ruang kelas yang dapat digunakan, sarana pembelajaran yang layak, kegiatan pengembangan diri yang berkelanjutan, serta informasi tentang peluang melanjutkan pendidikan.

Sumpah Pemuda yang lahir pada 28 Oktober 1928 membawa pesan persatuan lintas suku, bahasa, dan latar belakang. Di SMAN 1 Tidore Kepulauan, peringatan tahun ini diisi pula dengan percakapan mengenai kebutuhan konkret generasi muda. Dari gedung yang belum difungsikan hingga peluang beasiswa, berbagai aspirasi tersebut menjadi catatan yang menunggu tindak lanjut dari pihak sekolah dan pemerintah sesuai kewenangannya.

Sumber: Rilis Biro Adpim Malut

WARTASOFIFI.ID memandang berita sebagai amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan netralitas kepada masyarakat.