Wabub Pulau Morotai, Rio Christian Pawane. (Foto: Dok, Pemkab Pulau Morotai)
Pulau Morotai, Maluku Utara, menyambut akhir Oktober 2026 dengan rangkaian kegiatan yang mempertemukan pembinaan generasi muda, seni keagamaan, kebudayaan, dan promosi pariwisata. Perkemahan Pramuka, Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) II, serta Morotai Festival 2026 hadir dalam waktu berdekatan, membawa kegiatan dengan karakter berbeda di tengah kehidupan masyarakat kabupaten kepulauan tersebut.
Wabub Pulau Morotai, Rio Christian Pawane, mengingatkan anggota Pramuka tentang pentingnya sportivitas, persaudaraan, dan pengamalan Dasa Darma. Imbauan itu disampaikan dalam Perkemahan Bakti dan Lomba Mabicab Cup II yang berlangsung pada 22-30 Oktober 2026 di kawasan Central Business District (CBD), Desa Gotalamo, Kecamatan Morotai Selatan.
Dilansir dari TIMES Indonesia pada Minggu, 25 Oktober 2026, Rio menyampaikan, “Junjung tinggi sportivitas, jaga persaudaraan, dan amalkan Dasa Darma dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya. Imbauan tersebut ditujukan kepada para peserta Perkemahan Bakti dan Lomba Mabicab Cup II agar menjunjung sportivitas dalam perlombaan, mempererat persaudaraan antargugus depan, serta menerapkan nilai-nilai kepramukaan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebanyak 1.456 anggota Pramuka dari 48 gugus depan mengikuti kegiatan itu. Peserta terdiri atas 12 gugus depan tingkat sekolah dasar, 21 tingkat sekolah menengah pertama, dan 15 tingkat sekolah menengah atas. Perkemahan mengusung tema “Pramuka Mandiri, Kreatif dan Peduli Lingkungan” dengan motto “Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan”. Rangkaian kegiatan ini memadukan perlombaan dengan pembinaan kedisiplinan, kerja sama, kepedulian lingkungan, dan persaudaraan antarpeserta.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Gedung Oikumene menjadi tempat berlangsungnya Pesparawi II Kabupaten Pulau Morotai pada 24-27 Oktober 2026. Kegiatan seni paduan suara gerejawi tersebut melibatkan peserta dari lima dari enam kecamatan di Morotai.
Dilansir dari HalmaheraPost pada 20 Oktober 2026, Pesparawi II melibatkan 413 orang, terdiri atas 383 peserta dan 30 pelatih serta ofisial. Kabag Kesra Setda Pulau Morotai, Sibli Sibua, menyampaikan harapannya agar kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan peserta untuk mengikuti kompetisi tingkat provinsi. “Kami berharap ajang ini bisa membina para peserta agar nantinya siap mengikuti Pesparawi tingkat Provinsi Maluku Utara pada tahun 2028 mendatang,” jelas Sibli dalam pemberitaan BeritaDetik.
Harapan itu berkaitan dengan persiapan peserta menuju Pesparawi tingkat Provinsi Maluku Utara pada 2028. Proses tersebut melibatkan latihan, pengembangan kemampuan vokal, kerja sama kelompok, serta kesiapan peserta bersama pelatih dan ofisial.
Dari kegiatan kepemudaan dan seni keagamaan, perhatian beralih pada Morotai Festival 2026 atau Morofest yang dijadwalkan berlangsung pada 26-29 Oktober di kawasan CBD. Berdasarkan informasi resmi Pemkab Pulau Morotai, festival tersebut menargetkan 25.600 pengunjung dengan 17 kegiatan yang disiapkan.
Sekda Pulau Morotai, Muhammad Umar Ali, yang juga menjadi ketua panitia festival, menjelaskan bahwa atraksi dan perlombaan dirancang terbuka untuk berbagai kalangan. “Untuk atraksi dan lomba, Bupati meminta agar terbuka untuk umum. Siapa saja bisa ikut terlibat, baik masyarakat lokal, peserta nasional, maupun wisatawan mancanegara. Sebab, target kita adalah bagaimana pengunjung semakin banyak,” jelas Umar Ali berdasarkan informasi resmi Pemkab Pulau Morotai.
Umar Ali menyampaikan hal tersebut dalam konteks pelibatan masyarakat lokal, peserta dari luar daerah, dan wisatawan. Festival yang dijadwalkan berlangsung selama empat hari itu memuat kegiatan budaya, olahraga, kuliner, ekonomi kreatif, serta promosi destinasi wisata.
Agenda Morotai Festival mencakup parade budaya, jalan sehat dan Zumba, Morotai Expo Ekonomi Kreatif, tarian tradisional, Morotai Fun Run 5 kilometer, kegiatan menyelam, kuliner tradisional, musik Yanger, Fishing Tuna Morotai, fotografi bawah laut, lomba kreasi olahan tuna, film pendek, fotografi, konten kreator, serta promosi Kelapa Bido.
Ragam agenda tersebut mempertemukan seni pertunjukan, kegiatan olahraga, produk lokal, dan aktivitas bahari. Masing-masing menawarkan bentuk keterlibatan tersendiri, mulai dari partisipasi masyarakat hingga kehadiran pengunjung dari luar daerah.
Morotai memiliki bentang alam yang mencakup pulau-pulau kecil, pantai, lokasi penyelaman, air terjun, serta peninggalan sejarah Perang Dunia II. Sejumlah destinasi yang dikenal antara lain Pulau Dodola, Pulau Kokoya, Pulau Kolorai, Pulau Zum-Zum, Tanjung Gorango, Pantai Tanjung Sopi, Air Terjun Bunga Kokota, Museum Perang Dunia II, dan Landasan Pitu.
Portal Data Resmi Kabupaten Pulau Morotai, Mata Morotai, memuat 45 entri objek daya tarik wisata dalam dataset tahun 2019. Angka tersebut merujuk pada jumlah entri dalam dataset itu, bukan jumlah destinasi aktif terbaru pada 2026. Sementara itu, situs pariwisata resmi Pemkab Pulau Morotai mencatat 28 titik penyelaman yang menawarkan pemandangan terumbu karang, biota laut, serta sejumlah peninggalan sejarah bawah laut.
Secara geografis, Kabupaten Pulau Morotai memiliki luas daratan sekitar 2.337,15 kilometer persegi dan terdiri atas enam kecamatan, yakni Morotai Selatan, Morotai Timur, Morotai Selatan Barat, Morotai Utara, Morotai Jaya, dan Pulau Rao. Wilayah ini berada di antara Samudra Pasifik dan Pulau Halmahera, dengan perairan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat.
Luas wilayah laut perlu mengacu pada data resmi yang secara khusus mencatat cakupan perairan kabupaten. Angka tersebut tidak dapat dipastikan hanya dengan menggunakan data luas daratan, panjang garis pantai, atau jumlah pulau.
Dari sisi kependudukan, Bappeda Provinsi Maluku Utara dalam informasi Musrenbang RKPD 2027 pada 7 April 2026 menyebut jumlah penduduk Morotai mencapai 82.228 jiwa. Penduduk tersebar di enam kecamatan dengan kegiatan sosial dan ekonomi yang beragam, mulai dari pertanian dan perikanan hingga perdagangan serta jasa.
Pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi sektor utama dalam struktur perekonomian Morotai. Data BPS Kabupaten Pulau Morotai dalam tabel distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2025 mencatat kontribusi sektor tersebut sebesar 46,12 persen terhadap PDRB atas dasar harga berlaku.
Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, konstruksi, industri pengolahan, serta jasa pemerintahan turut membentuk kegiatan ekonomi daerah. Pariwisata dan ekonomi kreatif berkaitan dengan usaha pendukung, seperti kuliner, penginapan, transportasi, produk lokal, dan layanan yang dibutuhkan pengunjung.
Dalam konteks itu, sejumlah agenda Morotai Festival bersinggungan dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Pameran ekonomi kreatif, kuliner tradisional, lomba kreasi olahan tuna, kegiatan bahari, dan promosi Kelapa Bido menghadirkan produk serta potensi lokal ke dalam rangkaian festival. Besarnya dampak ekonomi dari kegiatan tersebut tetap memerlukan data pelaksanaan, transaksi, dan keterlibatan pelaku usaha untuk dapat diukur secara pasti.
Perkemahan Pramuka, Pesparawi II, dan Morotai Festival 2026 membawa tujuan berbeda. Perkemahan berfokus pada pembinaan generasi muda, Pesparawi menghadirkan seni paduan suara gerejawi, sedangkan festival memuat kegiatan budaya, olahraga, kuliner, ekonomi kreatif, dan promosi wisata.
Ketiganya berlangsung di wilayah kepulauan yang memiliki karakter geografis, sosial, dan ekonomi tersendiri. Morotai tidak hanya memiliki pantai dan pulau-pulau, tetapi juga kegiatan masyarakat, seni, tradisi, serta usaha yang tumbuh di dalamnya. Rangkaian akhir Oktober menjadi bagian dari agenda Pemkab Morotai yang mempertemukan beragam unsur tersebut.
WARTASOFIFI.ID memandang berita sebagai amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan netralitas kepada masyarakat.