Momen kedekatan Ketum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, dan Gubernur Sherly Tjoanda, menjadi gambaran pertemuan dua kekuatan utama dalam mendorong investasi, kolaborasi usaha, dan pertumbuhan ekonomi Malut pada pelantikan pengurus Kadin Malut di Bela Hotel Ternate, Sabtu 25 Juli 2026. Foto: Janwar/Biro Adpim Malut.
Arus investasi yang terus mengalir ke Malut menempatkan provinsi ini sebagai salah satu episentrum pertumbuhan ekonomi nasional. Apabila dicermati lebih dalam, besarnya nilai investasi pada hakikatnya tidak hanya diukur dari angka yang tercatat dalam data ekonomi, tetapi dari kemampuannya menciptakan kesempatan untuk berusaha, memperluas lapangan kerja, serta menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Investasi bukan hanya tentang seberapa besar modal yang datang, tetapi tentang seberapa luas perubahan yang mampu diciptakan. Nilai sejati sebuah investasi akan terlihat ketika pertumbuhan ekonomi bergerak bersama masyarakat, membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, memperkuat lapangan kerja, dan menghadirkan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Pembangunan tidak pernah berdiri di atas satu kekuatan. Pembangunan lahir dari pertemuan antara visi pemerintah, keberanian dunia usaha, dan kepercayaan investor. Dalam konteks tersebut, sinergi menjadi unsur penting agar pertumbuhan ekonomi dapat mengatasi nilai investasi yang tercatat, kemudian berkembang menjadi manfaat nyata yang menghidupkan perekonomian masyarakat.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Nofyan Bakrie, melihat perkembangan pembangunan tersebut mulai menunjukkan kemajuan positif. Dunia usaha menilai kepastian investasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah membangun kepercayaan, mempertemukan kepentingan investor dengan kebutuhan daerah, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk pertumbuhan bersama.
Pasalnya, investasi yang berkelanjutan tidak lahir hanya dari kekayaan sumber daya yang dimiliki sebuah daerah, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan yang saling percaya antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Ketika kepercayaan tumbuh, investasi dapat menjadi kekuatan yang membuka peluang ekonomi, memperkuat pelaku usaha lokal, serta menghadirkan manfaat pembangunan yang lebih luas.
Putera Aburizal Bakrie itu menilai terobosan yang ditempuh Pemprov Malut di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda dan Wagub Sarbin Sehe memperlihatkan komitmen untuk menghadirkan tata kelola pembangunan yang terbuka terhadap investasi tanpa mengesampingkan kepentingan masyarakat. Pendekatan tersebut, bagi dunia usaha, menjadi salah satu modal penting dalam menjaga keberlanjutan arus investasi ke daerah.
Sebuah investasi tidak semata tumbuh dari potensi yang dimiliki suatu daerah, tetapi juga dari keyakinan bahwa pemerintah mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan manfaat sosial. Ketika keterbukaan, kepastian, dan kepentingan masyarakat berjalan dalam satu jalur, investasi dapat menjadi kekuatan yang mempercepat perubahan.
“Kelihatannya dari sisi pemerintah sangat terbuka dan bahkan menjembatani antara potensi dan juga investor. Ini menandakan bahwa Pemerintah Provinsi Maluku Utara sangat pro-business dan pro-growth, tapi juga pro-people,” demikian disampaikan Anindya kepada wartawan usai pelantikan pengurus baru Kadin Malut di Bela Hotel Ternate, Sabtu, 25 Juli 2026.
Sebuah penilaian terhadap pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari perubahan nyata yang hadir di tengah masyarakat. Dalam kunjungan kerjanya di Malut, Anindya Bakrie, bersama jajaran petinggi Kadin Indonesia melihat langsung perkembangan kawasan industri Weda Bay di Halteng bersama Sherly Tjoanda, termasuk aktivitas smelter milik PT IWIP yang menjadi bagian penting dalam pengembangan hilirisasi mineral.
Menariknya, kunjungan tersebut turut dihadiri Ketua Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia, James Riady. Kehadiran tokoh dunia usaha yang memiliki pengalaman panjang dalam membangun jaringan bisnis dan hubungan ekonomi internasional tersebut memperlihatkan perhatian serius terhadap potensi investasi serta peluang pengembangan ekonomi Malut di tengah perubahan peta industri global.
Kehadiran James Riady bersama para Bos-Bos Kadin Indonesia tersebut memberi gambaran bahwa perkembangan industri di Malut juga menjadi perhatian dari sisi investasi domestik, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan jejaring ekonomi internasional.
Weda Bay dan IWIP menjadi salah satu kawasan yang menunjukkan bagaimana pengelolaan sumber daya dapat berkembang menjadi industri bernilai tambah melalui proses hilirisasi. Perkembangan infrastruktur kawasan, peningkatan kapasitas produksi, serta tumbuhnya ekosistem industri menjadi bagian dari perjalanan transformasi ekonomi Malut.
“Terutama tadi kami bersama Ibu Gubernur mengunjungi Weda Bay, salah satu investasi besar dari Tiongkok ke Indonesia. Kita melihat sendiri kawasannya juga besar dan baik,” kata Bos Kadin Indonesia.
Dalam pandangan Anindya, kawasan industri Weda Bay memiliki makna yang lebih luas dari pusat produksi. Kawasan tersebut menggambarkan bagaimana kebijakan hilirisasi nasional mulai membangun mata rantai industri yang lebih panjang, mengubah sumber daya mentah menjadi produk bernilai tambah melalui pengolahan yang memiliki daya saing di pasar global.
Perkembangan fasilitas industri yang saling terintegrasi, mulai dari pengolahan nikel, produksi baja nirkarat, hingga pengembangan bahan baku baterai, menunjukkan bahwa hilirisasi mulai membentuk ekosistem industri yang semakin kuat. Besarnya investasi akan memiliki arti yang lebih luas ketika mampu membuka keterlibatan pengusaha lokal, sehingga pertumbuhan industri turut memperkuat ekonomi daerah.
“Bukan saja dari sisi stainless steel, tetapi juga dari sisi pembuatan baterai. Menurut saya, ini sesuatu yang luar biasa. Tadi juga kami menyampaikan bahwa investasi seperti ini tentu sangat bagus karena membawa investasi-investasi lain dari perusahaan-perusahaan China. Namun, yang paling penting adalah bagaimana ke depannya bisa melibatkan pengusaha-pengusaha lokal Maluku Utara,” tegas Anindya.
Kadin Indonesia berharap, keterlibatan pengusaha lokal menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan investasi. Pertumbuhan kawasan industri akan memiliki dampak yang lebih luas apabila rantai pasok, penyediaan barang dan jasa, hingga peluang kemitraan mampu diakses oleh pelaku usaha daerah. Maka, investasi tidak hanya menghadirkan pertumbuhan ekonomi dalam bentuk angka, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang semakin kuat melalui partisipasi dunia usaha lokal.
Dalam konteks tersebut, keberadaan kawasan industri seperti PT IWIP dipandang bukan hanya sebagai pusat produksi, melainkan juga sebagai simpul yang menghubungkan investasi, pengembangan industri, penciptaan lapangan kerja, dan tumbuhnya peluang usaha baru di Malut.
Tantangan berikutnya, sebagaimana disampaikan Anindya, adalah memastikan agar pertumbuhan investasi yang terus meningkat dapat berjalan seiring dengan meningkatnya keterlibatan pelaku usaha lokal sehingga manfaat pembangunan benar-benar dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat. Kepercayaan investor terhadap Malut tampak melalui banyaknya proyek strategis yang berkembang, tetapi juga terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi yang menempatkan provinsi ini sebagai salah satu yang tertinggi di Indonesia. Pertumbuhan tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas industri, investasi, dan pembangunan ekonomi bergerak dalam arah yang semakin ekspansif.
Gubernur Malut, Sherly Tjoanda, tampak duduk tenang dan berwibawa satu meja bersama jajaran pengusaha Kadin Indonesia, di antaranya Anindya Bakrie, James Riady, para Wakil Ketua Kadin, mantan Ketua Kadin Malut Adam Marsaoly, serta Ketua Kadin Malut terpilih Muksin Thalib saat pelantikan pengurus Kadin Malut. Foto: Biro Adpim Malut.
Bagi dunia usaha, kondisi itu bukan hanya menunjukkan besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki Malut, tetapi juga menggambarkan semakin kuatnya posisi daerah ini sebagai salah satu tujuan investasi nasional. Stabilitas pertumbuhan ekonomi yang berada di atas rata-rata nasional dinilai mampu memperkuat keyakinan pelaku usaha untuk terus memperluas investasinya.
“Karena Maluku Utara pertumbuhannya merupakan salah satu yang paling tinggi di Indonesia. Kalau tidak salah, pada kuartal II mencapai sekitar 19 persen, sementara nasional sekitar 5 sampai 6 persen. Yang kedua, jumlah investasi tahun lalu mencapai sekitar Rp 350 triliun,” paparnya.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut berjalan beriringan dengan besarnya nilai investasi yang masuk ke Malut. Nilai investasi yang mencapai sekitar Rp 350 triliun memperlihatkan bahwa daerah ini telah berkembang menjadi salah satu pusat investasi paling strategis di Indonesia. Arus modal yang terus meningkat juga mencerminkan besarnya kepercayaan dunia usaha terhadap prospek pembangunan ekonomi Malut dalam jangka panjang.
Ketika perkembangan tersebut, tantangan berikutnya bukan cuma menjaga besarnya investasi, melainkan memastikan bahwa setiap investasi mampu menghasilkan nilai tambah yang semakin luas bagi perekonomian daerah. Semakin besar investasi yang tumbuh, semakin besar pula peluang untuk menciptakan lapangan kerja, memperluas aktivitas usaha, serta membangun rantai ekonomi yang saling menguatkan.
“Notabene, jumlah tersebut sangat besar, bahkan bisa dibilang sekitar 15 persen dari total investasi nasional. Kami juga melihat bahwa selain hilirisasi mineral, sektor pariwisata juga sangat menarik,” beber Anin.
Pandangan itu menunjukkan bahwa masa depan perekonomian Malut tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan dan hilirisasi mineral. Kekayaan sejarah, budaya, dan bentang alam yang dimiliki berbagai wilayah di Malut menjadi modal yang tidak kalah penting untuk memperkuat struktur ekonomi daerah. Diversifikasi ekonomi dipandang menjadi langkah strategis agar pertumbuhan tetap berkelanjutan dan tidak hanya bertumpu pada satu sektor.
Perhatian tersebut mengarah pada Ternate dan Tidore yang memiliki jejak sejarah panjang dalam perdagangan dunia. Posisi kedua wilayah itu sebagai pusat jalur rempah selama berabad-abad menyimpan nilai sejarah yang dapat berkembang menjadi daya tarik wisata berskala internasional apabila didukung dengan pengelolaan yang berkesinambungan.
“Terutama Ternate dan Tidore yang sejak dulu, bahkan sejak tahun 1968, menjadi pusat perhatian dunia dan menjadi salah satu pusat perdagangan dunia melalui rempah-rempahnya,” jelas Anindya.
Disamping pariwisata, peluang pertumbuhan ekonomi juga terbuka lebar pada sektor agribisnis. Aktivitas industri yang terus berkembang akan diikuti meningkatnya kebutuhan pangan dan berbagai komoditas penunjang. Kondisi tersebut membuka ruang yang semakin besar bagi pelaku usaha lokal untuk memperkuat sektor produksi di dalam daerah.
Anindya melihat masih besarnya pasokan kebutuhan pokok yang berasal dari luar Malut sebagai peluang ekonomi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Ketergantungan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa sektor pertanian, peternakan, dan hortikultura masih memiliki ruang tumbuh yang sangat luas apabila didukung oleh investasi, teknologi, serta penguatan kapasitas pelaku usaha lokal.
“Dari sisi hilirisasi agribisnis. Kami melihat di salah satu supermarket, sekitar 95 persen pasokan masih datang dari luar Maluku Utara. Artinya, kebutuhan seperti telur, ayam, daging, sayur-mayur, ke depan dapat dipenuhi sendiri oleh Maluku Utara,” jelasnya.
Untuk dunia usaha, kondisi tersebut tidak semata dipandang sebagai tantangan, tetapi juga peluang untuk membangun rantai pasok yang lebih kuat dari hulu hingga hilir. Apabila kebutuhan pangan mampu dipenuhi oleh produksi lokal, maka perputaran ekonomi akan semakin banyak berlangsung di dalam daerah.
Dampaknya tidak hanya meningkatkan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga memperluas kesempatan kerja, memperkuat ketahanan pangan, serta mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru yang berkembang seiring meningkatnya aktivitas investasi di Malut. Investasi yang terus berkembang memerlukan dukungan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perubahan, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi bagian dari pelaku utama pembangunan ekonomi.
Perkembangan kawasan industri, meningkatnya aktivitas investasi, serta terbukanya berbagai peluang usaha menghadirkan kebutuhan baru terhadap tenaga kerja yang memiliki keterampilan, kompetensi, dan daya saing. Olehnya itu, pembangunan manusia dipandang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan ekonomi.
“Kami juga melihat dari sisi industri bahwa sumber daya manusianya memiliki keinginan untuk naik kelas, baik dalam bidang pendidikan, tenaga kesehatan, maupun gaya hidup. Semua ini merupakan hal yang kami dukung,” tuturnya.
Anindya melihat semangat masyarakat untuk terus berkembang sebagai modal penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Peningkatan kualitas pendidikan, penguatan keterampilan tenaga kerja, hingga peningkatan kapasitas pelaku usaha akan menentukan sejauh mana masyarakat Malut mampu mengambil manfaat dari investasi yang terus bertambah.
Pada saat yang sama, penguatan organisasi dunia usaha juga dipandang memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem investasi yang sehat. Kadin tidak hanya menjadi wadah berhimpunnya pelaku usaha, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan kepentingan dunia usaha dengan arah pembangunan daerah.
Momentum terpilihnya kepengurusan baru Kadin Malut dinilai menjadi kesempatan untuk memperkuat kolaborasi tersebut. Sinergi antara Kadin dan Pemprov Malut diharapkan mampu mempercepat lahirnya berbagai peluang usaha baru sekaligus memperluas keterlibatan pengusaha lokal dalam berbagai proyek investasi.
“Kami juga mengucapkan selamat kepada Ketua Umum Kadin Maluku Utara yang terpilih. Kami melihat uluran tangan Ibu Gubernur sangat baik. Saya rasa ke depannya Kadin Maluku Utara dapat menjadi salah satu tulang punggung penting bagi Kadin Indonesia,” ucap Anindya.
Kolaborasi tersebut juga diyakini akan memperkuat kepercayaan investor. Dunia usaha akan lebih mudah berkembang ketika terdapat komunikasi yang baik antara pemerintah, organisasi pengusaha, dan pelaku investasi. Kondisi itu akan menciptakan iklim usaha yang semakin kondusif sekaligus memperluas peluang pembiayaan bagi berbagai sektor produktif.
“Saya rasa semua itu akan mengikuti potensi investasi. Likuiditas itu ada, baik di pusat maupun di daerah,” katanya.
Anindya menegaskan bahwa tersedianya pembiayaan harus diikuti dengan kesiapan daerah menghadirkan program dan peluang investasi yang memiliki prospek kuat. Gagasan yang matang, didukung potensi ekonomi yang jelas, akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.
“Tinggal kita pastikan bersama Kadin Maluku Utara bahwa proposal yang diajukan menarik. Hal itu sudah terbukti. Buktinya, investasi dari luar negeri di Maluku Utara mencapai sekitar Rp 350 triliun,” paparr Anindya.
Besarnya arus investasi tersebut dipandang sebagai modal penting untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Namun, nilai investasi tidak berhenti pada besarnya angka yang tercatat. Dampak yang lebih luas akan tercipta ketika manfaat investasi menjangkau masyarakat, pelaku usaha kecil dan menengah, serta berbagai sektor ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.
“Jadi, hampir 15 persen investasi China berada di Maluku Utara. Ini angka yang besar. Yang penting sekarang adalah bagaimana nilainya terus meningkat dan manfaatnya semakin inklusif,” tegasnya.
Gubernur Sherly Tjoanda menyematkan sal kepada James Riady dan Anindya Bakrie dalam acara penyambutan di Bandara Sultan Baabullah Ternate. Foto: Biro Adpim Malut.
Komitmen membangun pertumbuhan yang inklusif juga menjadi bagian dari semangat yang diusung Kadin Indonesia. Organisasi tersebut menempatkan kolaborasi dan peningkatan kapasitas pelaku usaha sebagai dua fondasi utama dalam membangun dunia usaha yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Kadin memiliki dua semangat utama, yaitu gotong royong dan naik kelas. Gotong royong berarti bukan hanya yang besar dengan yang besar, tetapi juga yang besar membina yang lebih kecil. Yang kedua adalah naik kelas. Bagaimana semua bisa naik kelas,” lanjut Anindya.
Semangat itu dipandang sebagai upaya membangun mata rantai ekonomi yang saling menguatkan. Dunia usaha besar diharapkan mampu membuka ruang kemitraan bagi pelaku usaha menengah dan kecil sehingga pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi meluas hingga ke berbagai lapisan pelaku usaha.
“Yang besar menjadi pemain internasional, yang menengah menjadi besar, dan yang kecil mulai berkembang. Di sinilah Kadin Maluku Utara mempunyai tugas untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi juga dinikmati oleh para pengusaha,” sambung Anindya.
Keberhasilan investasi, pada akhirnya, tidak hanya diukur dari meningkatnya nilai produksi atau besarnya modal yang masuk. Dampak nyata akan terlihat ketika lapangan kerja terus bertambah, kualitas tenaga kerja meningkat, serta pelaku usaha lokal memperoleh ruang yang semakin luas untuk berkembang bersama pertumbuhan industri.
“Selain itu, lapangan kerja semakin terserap, kualitas tenaga kerja semakin maju, bahkan mampu menjadi acuan bagi perkembangan dunia usaha di Maluku Utara ke depan,” terangnya.
Besarnya potensi yang masih dimiliki Malut menjadi alasan kuat untuk melihat peluang ekonomi yang terus terbuka. Hilirisasi mineral, pariwisata, perikanan, agribisnis, hingga sektor jasa industri menjadi kekuatan ekonomi yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan dalam memperkuat struktur perekonomian daerah sekaligus memperluas manfaat pembangunan.
Potensi tersebut menjadikan Malut terus mendapat perhatian dari dunia usaha. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi gambaran bahwa daerah ini memiliki daya tarik investasi yang besar, sekaligus menunjukkan masih luasnya peluang yang dapat dikembangkan melalui pengelolaan sumber daya dan penguatan sektor produktif.
“Kami serius, karena tidak banyak provinsi yang mampu tumbuh hampir 30 persen. Padahal masih banyak potensi yang bisa dikembangkan, mulai dari pariwisata, hilirisasi, perikanan, hingga sektor jasa industri. Jadi, saya rasa ini sangat menarik,” jelas Anindya.
Harapan terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi juga diarahkan pada penguatan hubungan antara Kadin Malut dan Pemprov Malut. Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi bagian penting dalam menjaga iklim investasi, memperluas peluang ekonomi, serta memastikan pertumbuhan yang tercipta dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas.
“Di sini kita telah memilih Ketua Umum Kadin Maluku Utara yang baru. Beliau akan bekerja sama dengan Ibu Gubernur yang berkenan menjadi Ketua Dewan Penasehat Kadin Maluku Utara untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi terus tercapai sekaligus semakin inklusif bagi masyarakat Maluku Utara,” tandas Anindya.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya akan bermakna apabila mampu menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Sherly Tjoanda menegaskan bahwa investasi yang terus mengalir ke Malut harus dibarengi dengan peningkatan kesempatan kerja, penguatan UMKM, dan keterlibatan pelaku usaha lokal. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan mengajak Ketua Umum Kadin Indonesia meninjau langsung kawasan industri IWIP di Halteng sebagai gambaran nyata potensi investasi yang dimiliki Malut.
“Tadi pagi, saya khusus tadi malam tiga jam dari Sofifi ke IWIP Halmahera Tengah untuk paginya bisa menerima Ketua Kadin bersama Pak James. Itu menunjukkan komitmen saya sebagai gubernur untuk Kadin di Maluku Utara,” kata Sherly dalam sambutannya pada pelantikan Pengurus Kadin Malut
Rombongan bos-bos Kadin Indonesia tiba di Bandara IWIP, Halteng menggunakan pesawat private jet dalam agenda kunjungan ke Malut. Foto: Biro Adpim Malut.
Malut kini berada dalam arus pembangunan ekonomi dengan masuknya investasi berskala besar yang menjadikan daerah ini salah satu pusat pertumbuhan industri nasional. Besarnya nilai investasi tidak hanya harus dilihat dari angka modal yang masuk, melainkan dari kemampuan daerah mengubah peluang tersebut menjadi manfaat nyata bagi masyarakat, pelaku usaha lokal, dan generasi muda.
“Tujuannya hanya satu, memperlihatkan bahwa Maluku Utara sudah menjadi salah satu pusat investasi terbesar dari Cina di Indonesia dengan total investasi puluhan miliar dolar Amerika Serikat,” ujarnya.
Kawasan industri yang tumbuh di Malut tidak cukup dijelaskan melalui data dan angka investasi. Sherly menilai pengalaman melihat langsung perkembangan industri menjadi bagian penting untuk memperlihatkan potensi sekaligus peluang ekonomi yang sedang berkembang. Kehadiran para pelaku usaha di lapangan diharapkan mampu membuka pemahaman baru mengenai besarnya kesempatan investasi dan kolaborasi yang dapat dibangun bersama daerah.
“Sulit menceritakan sesuatu tanpa melihat langsung. Karena itu saya ingin Ketua Kadin dan Pak James menyaksikan sendiri bagaimana kawasan industri dibangun di Maluku Utara,” ungkap Sherly.
Hal itu memperlihatkan bahwa Pemprov Malut ingin membangun keyakinan investor melalui pengalaman langsung di lapangan. Kawasan industri yang berkembang pesat dipandang sebagai bukti nyata bahwa Malut telah menjadi salah satu tujuan investasi strategis di Indonesia, terutama pada sektor hilirisasi sumber daya alam.
Perkembangan industri yang semakin pesat menjadi momentum bagi Malut untuk memperkuat perekonomiannya. Sherly menegaskan bahwa keterbatasan kapasitas fiskal daerah bukan menjadi penghalang untuk membangun ekonomi daerah. Malut memiliki kekuatan lain berupa kekayaan sumber daya alam, posisi strategis geografis, serta peluang besar untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat melalui investasi yang dikelola secara tepat.
“Kita mungkin bukan provinsi terbesar. APBD kita juga kecil, salah satu yang terkecil di Indonesia. Tapi kita punya potensi yang sangat besar. Kita punya sumber daya alam yang sangat besar,” tegas Sherly.
Penegasan itu menunjukkan bahwa Pemprov Malut ingin menjadikan kekayaan sumber daya alam sebagai modal utama untuk mempercepat pembangunan. Keterbatasan anggaran bukan dipandang sebagai alasan untuk berhenti membangun, melainkan tantangan yang harus dijawab melalui kolaborasi, investasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Sherly kemudian memaparkan capaian ekonomi Malut yang menempatkan provinsi ini sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.
“Maluku Utara merupakan provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada tahun 2025, mencapai sekitar 34 persen. Tahun ini pada kuartal pertama mencapai 19,6 persen, sementara nasional sekitar 5,6 persen,” ungkap Sherly saat memaparkan kondisi perekonomian Malut.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di Malut tumbuh sangat cepat. Namun, pertumbuhan yang tinggi juga menghadirkan tanggung jawab besar agar manfaatnya tidak hanya berputar pada sektor industri berskala besar, melainkan mengalir hingga ke masyarakat dan pelaku usaha lokal. Karena itu, Sherly menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus diterjemahkan menjadi peluang nyata bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM, generasi muda, serta sektor-sektor produktif seperti pertanian, perikanan, dan peternakan.
“Bagaimana kita menerjemahkan pertumbuhan ekonomi ini supaya bisa dirasakan masyarakat. UMKM lokal harus naik kelas. Putra-putri Maluku Utara harus memiliki nilai tambah sehingga bisa menjadi bagian dari pertumbuhan tinggi ini. Perikanan, pertanian, dan pasokan pangan juga harus menikmati pertumbuhan tersebut,” kata Sherly.
Pesan itu memperlihatkan bahwa pemerintah tidak ingin pertumbuhan ekonomi hanya tercermin dalam angka statistik. Keberhasilan pembangunan baru memiliki makna ketika investasi mampu menciptakan rantai ekonomi yang melibatkan masyarakat dan memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang.
Sherly juga mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Malut selama ini belum sepenuhnya bersifat inklusif. Masih terdapat kesenjangan antara besarnya investasi dengan keterlibatan pengusaha lokal dalam aktivitas ekonomi yang berkembang.
“Semua kita tahu bahwa walaupun pertumbuhan tinggi, manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan pengusaha lokal. Itulah yang menjadi tekad bersama Kadin Maluku Utara, bagaimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini semakin besar dinikmati anggota Kadin dan pengusaha lokal,” lanjut Sherly.
Pengakuan itu menjadi salah satu bagian penting dalam sambutannya. Pemerintah secara terbuka menyadari bahwa tingginya investasi belum otomatis menghadirkan pemerataan manfaat. Karena itu, kemitraan antara pemerintah dan Kadin diharapkan mampu memperbesar ruang bagi pengusaha daerah untuk tumbuh bersama investasi yang terus berkembang.
Sherly juga membuka peluang investasi pada berbagai sektor di luar pertambangan. Perumahan, pendidikan, kesehatan, jasa keuangan hingga berbagai layanan penunjang kawasan industri dinilai memiliki prospek yang sangat besar.
“Perumahan, perbankan, pendidikan, kesehatan, semuanya memiliki potensi yang bisa dikembangkan di Maluku Utara. Karena itu saya mengundang Kadin Maluku Utara dan Kadin Indonesia bersama-sama mendatangkan investor, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan,” jelas Sherly.
Ajakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah ingin memperluas struktur ekonomi daerah agar tidak hanya bertumpu pada industri pertambangan. Semakin banyak sektor yang tumbuh, semakin besar pula peluang terciptanya lapangan kerja dan pemerataan aktivitas ekonomi. Dia juga mengungkapkan bahwa pesatnya pertumbuhan kawasan industri di Halteng menyisakan pelajaran penting mengenai kesiapan infrastruktur dasar.
“Kesalahan yang terjadi 10 sampai 15 tahun lalu adalah kita tidak menyiapkan infrastruktur. Penduduk Halmahera Tengah yang sebelumnya sekitar 20 ribu orang meningkat menjadi sekitar 100 ribu dalam lima tahun terakhir, tetapi rumah dan infrastruktur belum siap,” tutur Sherly saat menjelaskan tantangan pembangunan kawasan industri.
Penjelasan itu menjadi pengingat bahwa pembangunan industri harus berjalan beriringan dengan pembangunan permukiman, fasilitas umum, layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur pendukung lainnya. Tanpa kesiapan tersebut, pertumbuhan ekonomi berpotensi menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat.
Selain itu, Sherly menyoroti masih besarnya ketergantungan kawasan industri terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang investasi baru yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha lokal.
“Kita bahkan belum mampu memenuhi kebutuhan telur, ayam, sayur, beras, dan bahan makanan lainnya. Semua masih didatangkan dari luar. Di satu sisi itu menjadi pekerjaan rumah pemerintah, tetapi di sisi lain merupakan peluang investasi yang sangat besar,” ungkap Sherly.
Gubernur Sherly Tjoanda, terlihat menaiki tangga pesawat private jet yang digunakan rombongan Kadin Indonesia menuju Ternate. Foto: Birp Adpim Malut.
Gambaran itu memperlihatkan bahwa sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga distribusi logistik masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang. Apabila kebutuhan tersebut mampu dipenuhi oleh pelaku usaha lokal, maka manfaat ekonomi akan semakin banyak berputar di dalam daerah dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat Malut. Sherly berharap setiap investasi yang masuk ke Malut mampu membangun kemitraan dengan pengusaha daerah sehingga UMKM tidak hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus investasi.
“Akan jauh lebih baik apabila investor bermitra dengan pengusaha lokal, melibatkan UMKM, memberikan pelatihan peningkatan kapasitas, membantu akses permodalan, sehingga mereka benar-benar bisa naik kelas,” ujar Sherly lagi.
Keberhasilan investasi di Malut tidak hanya diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari kemampuan investasi tersebut menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Penguatan kapasitas pengusaha lokal menjadi bagian penting agar pelaku usaha daerah mampu tumbuh, bersaing, dan mengambil peran dalam rantai ekonomi yang berkembang seiring masuknya investasi.
“Akan jauh lebih baik apabila investor bermitra dengan pengusaha lokal, melibatkan UMKM, memberikan pelatihan peningkatan kapasitas, membantu akses permodalan, sehingga mereka benar-benar bisa naik kelas,” pintanya.
Pertumbuhan ekonomi yang kuat membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Sherly menegaskan, Kadin memiliki posisi strategis sebagai wadah yang mempertemukan berbagai unsur tersebut untuk membangun ekosistem ekonomi yang sehat dan berkelanjutan di Malut.
“Kadin bukan hanya organisasi dunia usaha, tetapi tempat di mana pengusaha, pemerintah, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan berkumpul menciptakan ekosistem yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi Maluku Utara,” harap Sherly.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap peningkatan investasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan UMKM, serta penciptaan lapangan pekerjaan. Tujuan akhirnya bukan hanya menghadirkan pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh masyarakat dan pelaku usaha lokal.
“Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kapasitas UMKM, menciptakan investasi, membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan pada akhirnya menghasilkan kesejahteraan. Ketika anggota semua naik kelas, ketika anggota semua menghasilkan cuan, maka mereka akan damai,” pungkas Sherly mengakhiri sambutannya. (red)
Bagi WARTASOFIFI.ID, berita adalah amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan netralitas kepada masyarakat.