Mengukur Nyata Tidaknya Pesan Abubakar Abdullah

113
Abubakar Abdullah

WARTASOFIFI.ID – Dunia pendidikan di Malut kembali mendapat perhatian serius. Plt Kadikbud Malut, Abubakar Abdullah, menegaskan bahwa sekolah tidak boleh hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran formal, tetapi juga harus menjadi ruang persemaian nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan persatuan.

Pesan itu ia sampaikan saat menutup Rapat Evaluasi Kinerja Satuan Pendidikan dan Pengelola Data Pokok Pendidikan (Dapodik) di Muara Hotel, Ternate, Senin (15/9) malam. Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai kabupaten dan kota, mencerminkan besarnya perhatian terhadap mutu pendidikan di Malut.

Acara evaluasi ini tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, melainkan momentum refleksi besar tentang wajah pendidikan di Malut. Para peserta membawa catatan dan pengalaman dari daerah masing-masing untuk dikupas bersama.

Sejak awal, Abubakar menekankan pentingnya melihat pendidikan secara komprehensif. Baginya, sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, tetapi sebuah institusi sosial yang memikul tanggung jawab besar bagi masa depan bangsa.

Ia melihat masih banyak tantangan dalam pemerataan akses pendidikan, terutama di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau. Namun, menurutnya, tantangan yang lebih mendasar justru berada pada bagaimana sekolah mampu melahirkan generasi yang berkarakter.

“Dunia pendidikan memang berkewajiban memenuhi amanat konstitusi terkait akses dan mutu pendidikan. Namun, ada hal yang lebih mendasar, yakni penanaman karakter dan penguatan nilai kemanusiaan di kalangan peserta didik,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada hasil akademik. Karakter dan nilai kemanusiaan harus berjalan seiring dengan mutu pembelajaran.

Ia pun mengingatkan para pendidik agar terus menanamkan nilai kebangsaan melalui proses belajar mengajar. Nilai ini harus hadir dalam setiap kelas.

“Sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Karena itu, saya menitipkan kepada para pendidik agar nilai-nilai kemuliaan ini tetap diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran,” tegasnya.

Menurut Abubakar, sekolah tidak hanya menjadi ruang belajar akademik, tetapi juga tempat membangun hubungan sosial yang sehat. Abubakar menggarisbawahi pentingnya suasana kebersamaan yang tercermin dalam interaksi sehari-hari antara guru dan siswa.

Abubakar menilai, relasi guru dan murid harus berlandaskan rasa saling menghargai. Sikap tersebut akan membentuk karakter positif di kalangan peserta didik dan menjadi bekal penting dalam kehidupan sosial mereka.

“Hubungan antara guru dan murid harus mencerminkan hal tersebut, begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya.

Abubakar menegaskan bahwa peran guru tidak berhenti pada penyampaian ilmu pengetahuan semata. Lebih dari itu, seorang guru juga harus mampu menjadi teladan nyata bagi para siswanya. Sikap, tutur kata, hingga perilaku sehari-hari akan menjadi cermin yang dilihat dan ditiru peserta didik dalam proses pembentukan karakter.

“Guru dan tenaga pendidik tidak hanya dituntut menguasai pengetahuan, tetapi juga harus menjadi teladan dalam sikap dan perilaku,” katanya.

Pesan ini, menurut Abubakar, menjadi fondasi penting agar pendidikan tidak terjebak sekadar pada capaian akademik, melainkan juga membangun pribadi yang berkarakter kuat.

Ia kemudian menambahkan bahwa sekolah semestinya tampil sebagai pusat keteladanan di tengah masyarakat. Lembaga pendidikan, ujarnya, tidak boleh kehilangan wajah moralnya, sebab dari sanalah lahir generasi yang akan menentukan arah bangsa ke depan.

Plt Kadikbud Malut, Abubakar Abdullah (tengah), tampak serius menyampaikan arahan, diapit oleh Kabid SMK Damruddin dan Kabid GTK Ruslan Jainudin. Dok, Dikbud Malut.

Abubakar mengingatkan bahwa masyarakat juga menaruh harapan besar pada sekolah untuk menjadi contoh dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan.

“Tugas kita adalah memastikan sekolah benar-benar menjadi contoh baik bagi masyarakat,” tandasnya.

Dengan begitu, sekolah bukan hanya pusat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan moralitas yang berakar pada nilai luhur bangsa.

Dalam kesempatan itu, Abubakar juga menyampaikan peringatan penting. Dia meminta para pendidik tetap waspada terhadap potensi penyebaran paham radikal di lingkungan sekolah.

“Para pendidik untuk waspada terhadap penyebaran paham radikal di lingkungan sekolah. Saya meminta agar guru tetap fokus pada tugas utama, yakni mencerdaskan anak bangsa,” tegasnya.

Seruan Abubakar tersebut menjadi catatan serius bagi peserta rapat. Mereka menyadari bahwa sekolah bisa menjadi ruang yang rentan jika tidak dijaga dengan baik. Rapat evaluasi itu pun tidak lagi hanya berisi angka-angka Dapodik, melainkan juga refleksi mendalam tentang peran sekolah dalam menjaga generasi muda Malut.

Abubakar menekankan, pendidikan harus berpijak pada budaya lokal. Identitas daerah harus tetap terjaga agar generasi tidak kehilangan akar. Peserta rapat merespons positif gagasan itu. Mereka sepakat bahwa kearifan lokal perlu dihidupkan kembali di sekolah sebagai bagian dari penguatan karakter siswa.

Selain itu, Abubakar memahami kondisi tersebut, tetapi ia optimistis. Menurutnya, bila fokus pendidikan tetap pada membentuk manusia seutuhnya, maka Malut akan melahirkan generasi yang lebih baik.

Rapat malam itu ditutup, dan para peserta pulang membawa amanat moral untuk diterapkan di sekolah masing-masing. Abubakar mengakhiri arahannya dengan pernyataan tegas yang menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan tugas pendidikan.

“Tugas besar ini saja belum kita tuntaskan secara sempurna. Karena itu, fokuslah pada amanah utama ini,” harap Abubakar. (red)