Ela-Ela, Cahaya Ramadan dari Sofifi untuk Maluku Utara

673
Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, didampingi Sekretaris Daerah, Samsuddin Abdul Kadir, membawa obor sebagai simbol dimulainya Festival Ela-Ela Sofifi di Masjid Raya Shaful Khairaat, Kamis (27/3). Prosesi ini menandai pelestarian tradisi Islam dan budaya lokal dalam menyambut malam penuh berkah, Lailatul Qadar (Foto: Biro Adpim)

WARTASOFIFI.ID – Dalam upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya Islam di tanah Moloku Kie Raha, Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Biro Kesejahteraan Rakyat dan DKM Shaful Khairaat menggelar Festival Malam Ela-Ela di Masjid Raya Shaful Khairaat, Sofifi, Kamis (27/3).

Festival ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi lokal, tetapi juga sebagai bentuk perayaan dalam menyambut malam penuh berkah, Lailatul Qadar, yang dikenal sebagai Malam 1000 Bulan.

Festival yang sarat akan nilai historis dan spiritual ini dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, dan dihadiri oleh Sekretaris Daerah Maluku Utara, Samsuddin Abdul Kadir, perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Maluku Utara, jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Maluku Utara, perwakilan Wali Kota Tidore Kepulauan, Ketua DKM Shaful Khairaat, serta ratusan masyarakat yang turut meramaikan perhelatan budaya ini.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal, festival ini mengusung elemen budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, yang menjadi inisiator Festival Ela-Ela Sofifi, berharap tradisi ini dapat dijadikan agenda tahunan Pemerintah Provinsi.

Selain menjaga nilai historisnya, festival ini diharapkan mampu menjadi daya tarik wisata religi yang memperkuat identitas budaya Islam di Maluku Utara.

Festival Ela-Ela diawali dengan prosesi penyalaan obor sebagai simbol dimulainya acara. Penyalaan obor dilakukan oleh Wakil Gubernur Sarbin Sehe, didampingi Sekda Samsuddin Abdul Kadir, perwakilan Kesultanan Jailolo dan Ternate, serta para pimpinan OPD.

Tradisi ini melambangkan semangat masyarakat dalam menyambut malam Lailatul Qadar, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah ada sejak zaman nenek moyang.

Ketua Panitia Festival, Ismad Daud, menjelaskan bahwa tahun ini festival menghadirkan dua jenis kegiatan utama:

1. Lomba pawai obor, yang melibatkan peserta dari berbagai elemen masyarakat.

2. Lomba desa dan kelurahan, yang khusus diikuti oleh 13 desa/kelurahan di Kecamatan Oba Utara.

Desa-desa ini akan dinilai berdasarkan kreativitas dan partisipasi mereka dalam festival, dengan harapan dapat meningkatkan semangat kebersamaan dan keberagaman budaya.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Sarbin Sehe mengajak masyarakat untuk menjadikan festival ini sebagai momentum meningkatkan ketakwaan dan menjaga nilai-nilai keislaman.

“Mari kita semua menjaga keistiqomahan ibadah untuk meningkatkan derajat ketakwaan kita,” ucapnya.

Ia juga mengenang masa kecilnya saat mengikuti Festival Ela-Ela, di mana masyarakat dahulu menggunakan batang pisang dan damar sebagai sumber penerangan.

“Ela-Ela adalah akulturasi budaya lokal dan nilai keagamaan yang harus terus kita lestarikan,” tambahnya.

Festival Ela-Ela Sofifi tahun ini berhasil menyedot antusiasme masyarakat. Sebanyak 700 peserta, yang terbagi dalam 30 kelompok, ikut serta dalam festival ini. Mereka berasal dari berbagai unsur masyarakat, antara lain:

• Majelis Taklim

• Karang Taruna

• Muslimat Nahdlatul Ulama (NU)

• Siswa SD, SMP, dan SMA se-Tidore Kepulauan

• Ikatan Pemuda

Semarak festival semakin terasa dengan kehadiran marching band, yang menambah warna dalam pawai obor. Peserta pawai memulai perjalanan dari Bundaran Sofifi, melewati Desa Balbar dan Baromadoi, hingga berakhir di pelataran Masjid Raya Shaful Khairaat. Salah satu OPD yang turut berpartisipasi dalam pawai ini adalah Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara.

Di akhir acara, Wakil Gubernur Sarbin Sehe mengapresiasi Biro Kesejahteraan Rakyat dan DKM Shaful Khairaat yang telah berperan aktif dalam menyukseskan festival ini.

Ia menekankan bahwa Festival Ela-Ela tidak hanya sekadar menjadi perayaan budaya, tetapi juga harus dimaknai dari sisi nilai keagamaan serta sebagai bagian dari pembangunan Sofifi sebagai kota pusat pemerintahan dan peradaban Islam di Maluku Utara.

“Festival Ela-Ela bukan hanya tentang tradisi, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga warisan ini sebagai bagian dari identitas keislaman kita,” pungkasnya. (red)

Sumber: Biro Adpim Malut