
WartaSofifi.id – Dalam momen bersejarah yang merajut tali antara masa lalu dan masa depan, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste, His Majesty’s Ambassador Dominic Jermey CVO, OBE, menjejakkan kakinya di tanah Maluku Utara.
Tak sekadar lawatan biasa, kunjungan kali ini memperingati dua tonggak besar, perayaan 25 tahun Provinsi Maluku Utara dan 75 tahun hubungan diplomatik antara Inggris dan Indonesia.
Seperti sebuah kain yang dirajut benangnya, hubungan kedua pihak kian erat, terjalin melalui kerja sama, diplomasi, dan upaya konservasi.
Salah satu agenda paling dinanti dari kunjungan ini adalah peresmian Prasasti Albert Russel Wallace di Desa Dodinga, Kabupaten Halmahera Barat, pada Sabtu, 5 Oktober 2024 merupakan sebuah simbol penghormatan bagi sang naturalis Inggris yang pernah berpetualang di belantara Nusantara.
Wallace bukan sekadar nama yang dikenal di kalangan ilmuwan, ia adalah sosok yang berhasil membelah dunia fauna dengan gagasannya yang dikenal sebagai Garis Wallace, garis imajiner yang memisahkan fauna Asia dan Australasia.
Tak ketinggalan, Wallace juga mengidentifikasi fauna endemik Maluku Utara, seperti Burung Bidadari dan Kupu-Kupu Emas, yang memperkaya keanekaragaman hayati di daerah ini.
Dalam suasana yang khidmat, tepat pukul 12.00 WIT, Duta Besar Inggris dan rombongan disambut dengan Tradisi Joko Kaha, upacara penyambutan yang hanya digelar untuk tamu-tamu terhormat.

Tradisi ini menyambut siapa pun yang datang sebagai tanda kehormatan, seolah-olah mengisyaratkan bahwa di Maluku Utara, tamu tidak hanya dilihat, melainkan dihormati.
Penjabat Gubernur Maluku Utara, Samsuddin Abdul Kadir, dalam pidatonya mengatakan, bahwa menarik benang merah antara Maluku Utara dan United Kingdom.
“Secara historis, kita memiliki kesamaan antara Maluku Utara dengan empat kesultanan besar, yaitu Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan. Sedangkan Inggris terdiri dari England, Wales, Scotland, dan Northern Ireland,” ujarnya.
Tak mau kalah, Duta Besar Inggris, Dominic Jermey, membuka sambutannya dengan salam lokal yang khas, “Suba Jou!”, yang langsung mengundang senyuman dan tepukan tangan dari seluruh hadirin.
Seperti diplomat ulung, Dominic menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diterimanya, serta mengucapkan selamat hari jadi ke-25 untuk Provinsi Maluku Utara.
“Atas nama Kedutaan Besar Inggris, kami merasa sangat terhormat dengan sambutan luar biasa dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara,” ujarnya.
Ia pun tak lupa menegaskan bahwa peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Inggris-Indonesia ini adalah bukti komitmen kuat kedua negara untuk terus bekerja sama di berbagai bidang.
Selain berbicara soal sejarah dan diplomasi, Dominic menekankan dukungan Inggris terhadap langkah konservasi biodiversitas yang diupayakan oleh Maluku Utara.
“Semoga prasasti Wallace ini dapat menginspirasi generasi masa depan Maluku Utara dalam konservasi keanekaragaman hayati,” ujarnya dengan penuh harapan.
Tak lupa, ia juga menggugah semangat para pemuda-pemudi Maluku Utara untuk memanfaatkan beasiswa pendidikan ke Inggris, sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan.
Yang paling mengharukan, saat cicit Albert Russel Wallace, William Bill Wallace, memberikan pidatonya. Ia menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Maluku Utara.
“Buyut saya dulu pernah terserang malaria di Dodinga, namun semangatnya untuk menulis ‘Letter of Ternate’ yang menjadi cikal bakal Teori Seleksi Alam tak pernah surut,” katanya dengan penuh kebanggaan, mengingatkan hadirin bahwa tempat ini bukan sekadar bagian dari sejarah, tetapi saksi bisu lahirnya teori besar yang mengubah dunia.
Tak berhenti di situ, acara dilanjutkan dengan makan siang yang penuh cita rasa lokal. Para tamu undangan disuguhi hidangan tradisional sambil dihibur dengan Tari Lalayon yang energik, seolah-olah setiap gerakan tari tersebut menyambut dan memuliakan para tamu. Tawa dan canda menghiasi momen santai ini, menunjukkan bagaimana diplomasi bisa juga dirajut dalam suasana kekeluargaan.
Dalam sambutan penutupannya, Samsuddin Abdul Kadir kembali menegaskan harapannya agar hubungan diplomatik antara Inggris dan Indonesia terus berlanjut dan berkembang.
Isu-isu global seperti perubahan iklim dan konservasi alam menjadi sorotan, dengan komitmen kedua negara untuk terus berkolaborasi menghadapi tantangan-tantangan besar ini.
Setelah peresmian Prasasti Wallace, Duta Besar Inggris dan rombongan melanjutkan perjalanan mereka ke Kantor Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.
Di sana, mereka tak hanya belajar tentang kekayaan keanekaragaman hayati Maluku Utara, tetapi juga merasakan kehangatan sejati dari masyarakat adat setempat.

Sebagai penutup, hidangan pisang goreng yang renyah dipadukan dengan air guraka hangat menjadi sajian sederhana namun penuh makna, menyegarkan para tamu setelah rangkaian acara yang padat.
Hadir dalam acara tersebut adalah para tokoh penting seperti Forkopimda Provinsi Maluku Utara, Pejabat Sementara Bupati Halmahera Barat beserta jajarannya, veteran pejuang kemerdekaan, dan masyarakat setempat.
Semua yang hadir menyaksikan bahwa hari itu bukan hanya tentang diplomasi, tetapi juga tentang bagaimana warisan sejarah dapat memperkuat persahabatan yang akan terus terjalin di masa depan. (red)




