Muhammad Abusama. Foto: Jainal Adaran for WARTASOFIFI.ID.
Enam puluh tahun perjalanan IAIN Ternate adalah kisah panjang yang ditulis oleh waktu, ilmu, serta jejak manusia yang pernah tumbuh di dalamnya. Di balik perjalanan enam dekade itu, tersimpan kenangan para alumni yang pernah datang sebagai mahasiswa, belajar dengan harapan, lalu pergi membawa ilmu sebagai bagian dari perjalanan hidup. Salah satunya Muhammad Abusama, yang kembali mengenang masa ketika langkahnya menapaki bangku kuliah pada 1985 hingga menuntaskan perjalanan akademiknya dengan wisuda pada 1990.
“Kalau perjalanan saya di kampus ini, saya masuk sebagai mahasiswa pada tahun 1985 dan mulai menjalani proses pendidikan di masa itu,” tutur Muhammad Abusama, membuka kembali lembaran kenangan yang telah tersimpan selama puluhan tahun kepada WARTASOFIFI.ID di Ternate, 1 September 2026.
Tahun 1985 menjadi awal dari sebuah perjalanan yang kelak meninggalkan jejak panjang dalam hidup Muhammad Abusama. Pada masa itu, Abusama datang sebagai seorang mahasiswa dengan langkah sederhana, membawa harapan, rasa ingin tahu, serta tekad untuk menuntut ilmu. IAIN Ternate yang kala itu masih menjalani perjalanan kelembagaan yang berbeda dari hari ini menjadi tempat sebagian kisah hidupnya mulai ditulis. Waktu terus bergerak, namun kenangan tentang masa muda di bangku kuliah tetap melekat dalam ingatan.
“Saya mulai masuk kuliah pada tahun 1985, dan dari situlah perjalanan saya sebagai mahasiswa di lingkungan kampus ini dimulai,” kenang Abusama, mengingat awal langkah yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang hidupnya.
Perjalanan akademik tersebut kemudian bergerak melewati tahun-tahun yang penuh pengalaman. Sejak memasuki bangku kuliah pada 1985, Abusama menjalani proses pendidikan hingga akhirnya sampai pada satu tahap penting dalam perjalanan sebagai mahasiswa. Lima tahun kemudian, tepat pada 1990, perjuangan panjang tersebut bermuara pada wisuda yang menjadi bagian penting dari kisah pendidikannya.
“Setelah menjalani pendidikan beberapa tahun, saya kemudian menyelesaikan perkuliahan dan mengikuti wisuda pada tahun 1990,” cerita Abusama, mengingat kembali perjalanan panjang yang membawanya menuju hari wisuda.
Masa pendidikan tersebut menjadi salah satu halaman paling berkesan dalam perjalanan hidup Abusama. Tahun 1985 menjadi awal langkahnya mengenal dunia perkuliahan, sementara 1990 menjadi titik ketika perjalanan panjang itu sampai pada wisuda. Lima tahun berlalu bersama berbagai pengalaman, kenangan, serta proses belajar yang kemudian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kisah hidupnya. Di antara awal dan akhir perjalanan tersebut, tersimpan masa muda yang pernah tumbuh bersama kampus dan segala cerita yang menyertainya.
“Jadi saya masuk pada tahun 1985, kemudian menyelesaikan pendidikan hingga akhirnya wisuda pada tahun 1990,” jelas Abusama, menuturkan kembali rentang waktu yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Ketika Abusama masih muda menapaki jalan pendidikan, IAIN Ternate berada dalam perjalanan sejarah yang berbeda dari wajah kampus saat ini. Pada masa tersebut, kampus masih memiliki hubungan afiliasi dengan IAIN Alauddin Makassar. Jejak hubungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan yang pernah dilalui Abusama, sekaligus menyimpan kisah tentang sebuah kampus yang terus tumbuh melewati pergantian zaman.
“Pada waktu saya kuliah, kampus ini masih berafiliasi dengan IAIN Alauddin Makassar, sehingga perjalanan pendidikannya masih berada dalam hubungan afiliasi tersebut,” papar Abusama, mengingat masa ketika perjalanan kampus masih terhubung dengan IAIN Alauddin Makassar.
Hubungan dengan IAIN Alauddin Makassar menjadi salah satu bagian yang masih tersimpan dalam ingatan Abusama ketika membuka kembali kisah masa kuliahnya. Pada masa tersebut, perjalanan pendidikan berlangsung di tengah keterkaitan kelembagaan dengan IAIN Alauddin Makassar. Jejak hubungan tersebut turut menjadi bagian dari sejarah kampus yang dilalui Abusama sejak awal menapaki kehidupan sebagai mahasiswa.
“Ketika saya menjadi mahasiswa, IAIN Ternate masih berafiliasi dengan IAIN Alauddin Makassar, dan itu merupakan bagian dari perjalanan kampus pada masa saya kuliah,” sambung Abusama, menghidupkan kembali suasana pendidikan yang pernah dilaluinya pada masa itu.
Dalam perjalanan akademiknya, Abusama memilih Fakultas Tarbiyah sebagai tempat menimba ilmu dan menempa diri. Di sanalah sebagian masa mudanya dilalui bersama buku, perkuliahan, serta perjalanan panjang menuju penyelesaian pendidikan. Fakultas Tarbiyah kemudian menjadi bagian yang lekat dalam kisah masa kuliahnya, menyimpan kenangan tentang tahun-tahun ketika langkah pendidikan perlahan membentuk perjalanan hidupnya.
“Pada waktu itu, saya menempuh pendidikan di Fakultas Tarbiyah. Fakultas tersebut menjadi bagian dari perjalanan saya selama menjalani masa perkuliahan di kampus ini,” terang Abusama, mengisahkan tempat yang menjadi bagian dari tahun-tahun pendidikannya.
Fakultas Tarbiyah menjadi tempat Abusama menapaki perjalanan pendidikan pada masa mudanya. Di lingkungan akademik tersebut, hari-hari perkuliahan dilalui dengan proses belajar yang perlahan mengantarkan langkahnya menuju penyelesaian pendidikan. Dari sana, tersimpan bagian penting dari kisah akademik yang kemudian bermuara pada wisuda pada 1990.
“Pada masa itu saya berada di Fakultas Tarbiyah. Di sanalah saya menjalani proses pendidikan hingga akhirnya menyelesaikan perkuliahan dan mengikuti wisuda pada 1990,” beber Abusama, mengenang perjalanan dari bangku perkuliahan menuju hari kelulusan.
Selain mengenang Fakultas Tarbiyah sebagai tempat menimba ilmu, Abusama juga masih mengingat identitas akademik yang melekat dalam perjalanan kuliahnya. Salah satunya adalah Nomor Induk Registrasi Mahasiswa atau NIRM 85310894. Nomor tersebut menjadi bagian kecil dari perjalanan panjangnya sebagai mahasiswa, sebuah identitas yang mengiringi langkah pendidikan hingga sampai pada masa wisuda.
“NIRM saya pada waktu menjadi mahasiswa adalah 85310894. Nomor tersebut masih saya ingat sebagai bagian dari perjalanan saya di kampus ini,” sebut Abusama, mengingat identitas akademik yang pernah melekat dalam perjalanan kuliahnya.
Nomor tersebut menjadi salah satu catatan yang masih diingat Abusama ketika menceritakan perjalanan akademiknya. Di balik identitas itu terdapat kisah tentang perjalanan seorang mahasiswa yang memulai pendidikan pada 1985 hingga menyelesaikannya pada 1990.
“Saya tercatat sebagai mahasiswa dengan NIRM 85310894 ketika menjalani pendidikan di kampus ini pada masa tersebut,” tandas Abusama, mengingat kembali identitas yang menyertai perjalanan akademiknya.
Selain perjalanan pendidikan, Abusama juga mengingat sosok pimpinan kampus ketika dirinya masih menjadi mahasiswa. Salah satu nama yang disebut adalah H. Syahbuddin, yang menjadi bagian dari ingatan Abusama terhadap masa tersebut.
“Pada masa saya menjadi mahasiswa, rektor yang memimpin kampus saat itu adalah H. Syahbuddin, dan nama beliau masih saya ingat dalam perjalanan kampus ketika itu,” bebernya, menyebut sosok yang memimpin kampus pada masa tersebut.
Perjalanan kampus pada masa Abusama menempuh pendidikan juga diwarnai pergantian kepemimpinan. Setelah H. Syahbuddin, kepemimpinan kampus kemudian beralih kepada H. M. Nur Soleman. Pergantian tersebut menjadi bagian dari kisah perjalanan IAIN Ternate yang masih tersimpan dalam ingatan Abusama, terutama ketika mengenang suasana kampus pada masa mudanya.
“Setelah kepemimpinan H. Syahbuddin, kemudian berganti kepada H. M. Nur Soleman. Pergantian tersebut menjadi bagian dari perjalanan kampus pada masa saya menjalani pendidikan,” ulas Abusama, mengingat perubahan kepemimpinan yang pernah terjadi di lingkungan kampus.
Ingatan tentang pergantian kepemimpinan menjadi bagian dari cerita Abusama ketika menelusuri kembali perjalanan IAIN Ternate pada masa mudanya. Nama para pimpinan kampus yang hadir pada zamannya turut tersimpan dalam ingatan, seperti potongan kisah yang melekat bersama perjalanan panjangnya sebagai mahasiswa. Waktu telah berlalu puluhan tahun, namun kisah tersebut masih menjadi bagian dari kenangan yang mengiringi perjalanan akademiknya.
“Saya masih mengingat, setelah H. Syahbuddin, kepemimpinan kemudian berganti kepada H. M. Nur Soleman. Pergantian tersebut menjadi bagian dari perjalanan kampus pada masa saya kuliah,” urai Abusama, menghidupkan kembali salah satu bagian dari perjalanan IAIN Ternate pada masa tersebut.
Masa menjadi mahasiswa bagi Abusama bukan hanya bagian dari perjalanan pendidikan, tetapi juga lembaran kehidupan yang menyimpan banyak kenangan. Tahun-tahun yang dilalui di bangku kuliah menjadi bagian dari proses panjang dalam menimba ilmu, mengenal kehidupan kampus, serta menyaksikan perjalanan IAIN Ternate pada zamannya. Dari awal memasuki perkuliahan hingga sampai pada wisuda, setiap tahap menjadi cerita yang tetap tersimpan dalam ingatan setelah waktu berjalan begitu jauh.
“Pada waktu itu saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan mengikuti proses pendidikan di kampus ini hingga akhirnya sampai pada tahap wisuda. Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan saya,” kata Abusama, mengenang tahun-tahun yang pernah dilalui di lingkungan akademik IAIN Ternate.
Setelah enam dekade berlalu, perjalanan IAIN Ternate kembali membawa Abusama pada kenangan masa muda. Usia ke-60 kampus menjadi kesempatan untuk membuka kembali kisah yang pernah dilalui sejak 1985, ketika langkahnya sebagai mahasiswa baru dimulai. Waktu telah membawa banyak perubahan, tetapi kenangan tentang kampus tetap memiliki tempat dalam perjalanan hidupnya. Enam puluh tahun perjalanan IAIN Ternate pun menjadi kisah panjang yang mempertemukan masa lalu, hari ini, serta ingatan para alumninya.
“IAIN Ternate sekarang sudah memasuki usia 60 tahun, dan bagi saya ini menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan kampus sejak masa saya menjadi mahasiswa,” ujar Abusama, menyatukan kenangan masa lalu dengan perayaan enam dekade almamater.
Puncak Dies Natalis ke-60 IAIN Ternate dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2026. Enam dekade perjalanan kampus akan diperingati dalam sebuah momentum yang mempertemukan sejarah, kenangan, serta perjalanan panjang insan akademik yang pernah menjadi bagian dari IAIN Ternate. Dari waktu ke waktu, kampus terus tumbuh melewati berbagai fase, meninggalkan kisah yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang hingga mencapai usia 60 tahun.
“Dies Natalis ke-60 IAIN Ternate tahun ini jatuh pada 6 September 2026. Momentum enam dekade ini menjadi bagian penting dari perjalanan panjang kampus,” tegas Abusama, menyampaikan arti penting peringatan usia enam puluh tahun bagi almamater.
Peringatan enam dekade IAIN Ternate tahun ini hadir dengan tema “Berkhidmat kepada Kebijakan”. Tema tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-60 yang membawa kembali perjalanan panjang kampus selama enam puluh tahun. Sebuah perjalanan yang tumbuh bersama waktu, melahirkan banyak cerita, serta mempertemukan generasi demi generasi dalam sejarah pendidikan di Ternate.
“Untuk Dies Natalis ke-60 tahun ini, tema yang diusung adalah ‘Berkhidmat kepada Kebijakan’. Tema tersebut menjadi bagian dari peringatan enam dekade perjalanan IAIN Ternate,” tutur Abusama, menyampaikan tema yang akan mengiringi perayaan usia enam dekade tersebut.
Tema tersebut menjadi bagian dari momentum enam puluh tahun perjalanan IAIN Ternate. Bagi para alumni, peringatan Dies Natalis bukan hanya tentang bertambahnya usia kampus, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membuka kembali kenangan tentang masa muda, pendidikan, serta kisah yang pernah tumbuh bersama kehidupan akademik. Enam dekade kemudian, kenangan itu kembali hadir bersama perayaan yang membawa cerita lama ke tengah perjalanan kampus hari ini.
“Dies Natalis kali ini mengusung tema ‘Berkhidmat kepada Kebijakan’. Tema tersebut menjadi bagian dari peringatan 60 tahun perjalanan IAIN Ternate,” ucap Abusama, menguraikan tema yang menyertai perjalanan peringatan enam dekade kampus.
Rangkaian Dies Natalis ke-60 IAIN Ternate juga akan dipertemukan dengan momen wisuda yang dijadwalkan berlangsung sehari sebelum acara puncak. Wisuda menjadi bagian yang begitu dekat dengan makna perjalanan sebuah kampus, ketika perjuangan panjang para mahasiswa sampai pada satu titik yang penuh haru. Di tengah perayaan enam dekade, toga, senyum, serta langkah para lulusan menjadi gambaran bahwa setiap perjalanan pendidikan selalu memiliki cerita tentang harapan, perjuangan, serta masa depan.
“Dies Natalis kali ini juga dirangkaikan dengan wisuda. Wisuda menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-60 IAIN Ternate,” sampaikan Abusama, menjelaskan keterkaitan agenda wisuda dengan rangkaian perayaan enam dekade.
Wisuda direncanakan berlangsung pada 5 September 2026, sehari sebelum acara puncak Dies Natalis ke-60 IAIN Ternate. Momen tersebut menjadi salah satu bagian yang paling bermakna dalam rangkaian enam dekade perjalanan kampus. Di hari itu, perjalanan panjang para mahasiswa akan sampai pada sebuah perayaan kelulusan, membawa rasa haru bagi mereka yang telah melewati tahun-tahun pendidikan dengan penuh perjuangan. Sehari kemudian, peringatan Dies Natalis akan menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan kampus yang telah tumbuh bersama generasi demi generasi.
“Untuk wisuda sendiri direncanakan berlangsung pada tanggal 5 September 2026, atau sehari sebelum pelaksanaan acara puncak Dies Natalis IAIN Ternate,” terang Abusama, menyampaikan jadwal yang telah direncanakan dalam rangkaian peringatan tersebut.
Sehari setelah wisuda, suasana perayaan akan berlanjut menuju acara puncak Dies Natalis ke-60 IAIN Ternate pada 6 September 2026. Dua momen tersebut hadir beriringan dalam rangkaian enam dekade perjalanan kampus, mempertemukan kebahagiaan para lulusan dengan kenangan panjang tentang perjalanan almamater. Dari satu hari menuju hari berikutnya, perayaan ini menjadi kisah tentang perjuangan, pendidikan, serta waktu yang terus membawa IAIN Ternate tumbuh melewati enam puluh tahun perjalanan.
“Setelah wisuda pada tanggal 5 September, acara puncak Dies Natalis IAIN Ternate akan dilaksanakan pada tanggal 6 September 2026,” jelas Abusama, menguraikan susunan agenda utama peringatan Dies Natalis ke-60.
Enam dekade perjalanan IAIN Ternate seakan membawa Abusama kembali menelusuri lorong waktu menuju masa ketika langkahnya masih muda sebagai mahasiswa. Tahun 1985 menjadi titik awal perjalanan tersebut, saat bangku perkuliahan menjadi tempat menimba ilmu dan menyusun cita-cita. Setelah puluhan tahun berlalu, peringatan usia ke-60 kampus kembali menghadirkan kenangan tentang masa yang pernah dilalui, tentang pendidikan yang pernah ditempuh, serta tentang waktu yang terus membawa setiap kisah menuju hari ini.
“Saya menjadi bagian dari perjalanan kampus ini sejak masuk sebagai mahasiswa pada tahun 1985. Ketika IAIN Ternate memasuki usia 60 tahun, kenangan tentang perjalanan saya sebagai mahasiswa kembali terasa,” kisah Abusama, menuturkan kedekatan perjalanan pribadinya dengan sejarah panjang almamater.
Perjalanan Abusama dari seorang mahasiswa hingga menjadi alumni menjadi bagian dari kisah panjang IAIN Ternate. Tahun-tahun ketika menimba ilmu menjadi masa yang mempertemukan dirinya dengan perjalanan kampus yang saat itu masih berafiliasi dengan IAIN Alauddin Makassar. Di Fakultas Tarbiyah, langkah pendidikan dilalui hingga akhirnya sampai pada wisuda pada 1990. Puluhan tahun kemudian, kenangan tersebut kembali hadir ketika almamater memasuki usia enam dekade.
“Pada masa saya kuliah, kampus masih berafiliasi dengan IAIN Alauddin Makassar dan saya menempuh pendidikan di Fakultas Tarbiyah hingga akhirnya mengikuti wisuda pada tahun 1990,” papar Abusama, merangkum perjalanan akademik yang menjadi bagian dari kisah hidupnya.
Setelah puluhan tahun berlalu sejak langkahnya berakhir di bangku perkuliahan dan wisuda menjadi tanda tuntasnya sebuah perjalanan, Abusama kembali membuka lembaran masa lalu. Kenangan yang dimulai pada 1985 kembali hadir ketika IAIN Ternate memasuki usia ke-60. September 2026 menjadi titik pertemuan antara masa yang telah berlalu dengan perayaan almamater hari ini. Waktu boleh membawa perubahan, tetapi kisah yang pernah tumbuh di bangku kuliah tetap menyimpan tempat tersendiri dalam ingatan.
“Saya masuk pada tahun 1985 dan wisuda tahun 1990. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari sejarah pribadi saya yang tidak terpisahkan dari perjalanan IAIN Ternate,” cerita Abusama, membawa kembali kisah dari awal perkuliahan hingga hari wisuda.
Enam puluh tahun perjalanan IAIN Ternate menjadi sebuah pertemuan antara masa lalu, masa kini, serta generasi yang akan melanjutkan cerita kampus. Para alumni membawa kenangan dari tahun-tahun yang telah dilewati, sementara para mahasiswa yang akan mengikuti wisuda berdiri di ambang perjalanan baru. Di antara keduanya, waktu seakan mempertemukan cerita lama dengan harapan yang baru, menjadikan enam dekade perjalanan IAIN Ternate penuh makna bagi setiap generasi yang pernah tumbuh di dalamnya.
“Dies Natalis ke-60 ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan IAIN Ternate, termasuk perjalanan saya sebagai mahasiswa yang masuk pada tahun 1985 dan wisuda pada tahun 1990,” tutur Abusama, menyatukan kenangan pribadi dengan perjalanan enam dekade almamater.
Rangkaian Dies Natalis ke-60 IAIN Ternate dengan agenda wisuda pada 5 September dan acara puncak pada 6 September 2026 menjadi bagian dari perjalanan panjang kampus yang telah melewati enam dekade. Dua tanggal tersebut bukan hanya menyusun rangkaian perayaan, tetapi juga mempertemukan kisah tentang perjuangan, pendidikan, kelulusan, serta kenangan yang pernah tumbuh di bangku perkuliahan. Bagi Abusama, peringatan ini seperti membuka kembali lembaran lama, membawa ingatan pada tahun 1985 ketika perjalanan sebagai mahasiswa dimulai hingga wisuda pada 1990.
“Semoga momentum Dies Natalis ke-60 ini menjadi bagian penting dalam perjalanan IAIN Ternate. Saya sendiri pernah menjadi mahasiswa di kampus ini sejak 1985 hingga mengikuti wisuda pada 1990,” tutup Abusama, mengakhiri kisah tentang perjalanan panjang yang bermula dari bangku kuliah dan kembali bertemu dengan perayaan enam dekade almamater. (red)
Bagi WARTASOFIFI.ID, berita adalah amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan netralitas kepada masyarakat.