
WartaSofifi.id – Senin, 7 Oktober 2024, menjadi hari bersejarah bagi Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Maluku Utara. Di halaman Kantor Gubernur, digelar Pencanangan HUT DWP ke-25, yang tidak hanya merayakan pencapaian organisasi perempuan ini, tetapi juga menjadi ajang untuk menampilkan keanggunan dan kekuatan perempuan Maluku Utara.
Dalam momen tersebut, Musrifah Alhadar, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA), bersama timnya dari DWP DPPPA, memukau penonton dengan pertunjukan tarian tradisional “Lalayon,” yang dituangkan dalam sembilan potret menawan.

Kostum yang dikenakan Musrifah dan para penari lain menjadi pusat perhatian. Mereka tampil dalam balutan busana dasar hitam yang berpadu dengan corak putih, melambangkan kesederhanaan yang elegan.
Selain itu, kain batik yang membalut tubuh mereka menambahkan nuansa tradisional yang kental, mempertegas identitas budaya Maluku Utara.

Yang lebih mencolok adalah mahkota berkilau yang terpasang di kepala setiap penari, menciptakan kesan megah dan mengesankan. Mahkota ini tidak hanya berfungsi sebagai aksesori, tetapi juga simbol kebanggaan dan kekuatan perempuan di wilayah ini.
Di tengah sorotan ratusan mata, Musrifah, meski usianya sudah tidak muda lagi, tetap terlihat cantik dan anggun. Senyumnya yang menawan dan gerakannya yang penuh percaya diri mencerminkan kekuatan dan pengalaman yang dimilikinya.

Kehadirannya di panggung tidak hanya memancarkan keindahan fisik, tetapi juga menunjukkan bahwa wanita pada usia berapa pun dapat bersinar dan memberikan inspirasi kepada generasi muda.
Ketika pertunjukan dimulai, cuaca terlihat tidak bersahabat dengan gerimis yang mulai turun. Namun, hal tersebut tidak memadamkan semangat Musrifah dan tim DWP DPPPA.

Mereka tetap tegar dan percaya diri, melanjutkan tarian dengan penuh semangat. Setiap gerakan yang ditampilkan menggambarkan dedikasi dan latihan yang dilakukan dalam waktu singkat.
Ika, salah satu peserta dari tim DWP DPPPA, mengungkapkan, “Waktu latihan kami hanya seminggu, tetapi dengan bimbingan Ibu Musrifah, kami bisa tampil maksimal.” Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi dan komitmen dalam mencapai hasil yang luar biasa.
Satu per satu, potret keanggunan mereka terpampang di panggung. Dalam setiap gerakan, terlihat kerja keras dan semangat kolektif tim. Penari-penari ini tidak hanya menampilkan tarian, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keberanian dan semangat perempuan Maluku Utara yang siap menghadapi tantangan.

Dengan alunan musik yang menggugah, penonton terhanyut dalam suasana, seolah-olah merasakan setiap emosi yang ditunjukkan oleh para penari.
Acara ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga merupakan momentum untuk mengangkat suara perempuan.
Musrifah dan tim DWP DPPPA telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam melestarikan budaya dan tradisi.

Mereka tidak hanya berfungsi sebagai pelaku seni, tetapi juga sebagai agen perubahan yang dapat memberikan inspirasi bagi generasi mendatang.
Dengan penampilan ini, mereka memberikan gambaran bahwa perempuan Maluku Utara adalah sosok yang kuat, berani, dan mampu mengatasi segala rintangan.

Meskipun hujan mulai mengguyur, penonton tetap memberikan sorakan dan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas penampilan yang luar biasa.
Suasana menjadi semakin meriah ketika Musrifah dan tim DWP DPPPA menyelesaikan tarian mereka dengan penuh gaya.
Sorak-sorai penonton mencerminkan rasa bangga akan penampilan yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan makna.
Dengan sembilan potret yang dihadirkan, Musrifah dan timnya berhasil menghadirkan sebuah karya seni yang menggugah dan menginspirasi.

Setiap potret menceritakan kisah perjuangan perempuan yang tidak hanya berjuang untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk komunitas dan budaya yang mereka cintai.
Ini adalah pengingat bahwa perempuan Maluku Utara memiliki identitas yang kuat dan pantang mundur dalam menjalani peran mereka di masyarakat.
Acara pencanangan ini menegaskan bahwa keberadaan DWP dan partisipasi aktif perempuan dalam pembangunan sangatlah penting.
Musrifah Alhadar dan tim DWP DPPPA telah menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan bukan hanya sekadar penonton, tetapi pelaku yang mampu mengubah wajah masyarakat.

Dalam kebersamaan dan semangat kolektif, mereka telah menciptakan sebuah momen bersejarah yang akan dikenang dalam ingatan masyarakat Maluku Utara.
Dengan demikian, 9 potret keanggunan Musrifah Alhadar dan tim DWP DPPPA tidak hanya menjadi sekadar gambaran penampilan, tetapi juga sebuah simbol dari kebangkitan perempuan di Maluku Utara.
Mereka telah menunjukkan bahwa dalam setiap tetes hujan dan setiap gerakan tari, terdapat kekuatan, keindahan, dan harapan bagi masa depan perempuan Maluku Utara.
Acara ini menegaskan bahwa perempuan mampu bersinar dan berkontribusi dalam melestarikan budaya dan memajukan masyarakat. (red)




