
WARTASOFIFI.ID – Di tengah gelombang angka kematian yang terus meningkat akibat penyakit tidak menular, sebuah desa kecil di Kecamatan Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan, justru menghadirkan harapan. Desa Tauno, yang sebelumnya mungkin tak dikenal banyak orang, kini menjadi contoh bagaimana upaya besar bisa dimulai dari tempat yang paling sederhana.
Pemerintah desa, bersama bidan dan kader kesehatan, menggagas sebuah program bernama DEDI PENDEKAR. Singkatan dari Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular, program ini bukan hanya sebuah inovasi teknis, melainkan juga sebuah bentuk keberpihakan. Desa Tauno memilih menyelamatkan warganya sebelum mereka jatuh sakit. Ini adalah pilihan yang berani, cerdas, dan manusiawi.
Kepala Desa Tauno, Nasrun Hamzar, menyampaikan bahwa program ini lahir dari kesadaran akan pentingnya pencegahan. Dalam rilis resmi pada Rabu 25 Juni, ia menjelaskan bahwa deteksi dini berguna untuk menemukan lebih awal potensi penyakit dan faktor risiko dalam tubuh seseorang. Dengan begitu, masyarakat dapat segera mengambil langkah pencegahan sebelum kondisi menjadi parah.
“Dengan adanya pencegahan ini dapat mengantisipasi adanya faktor risiko terkait Penyakit Tidak Menular pada masyarakat. Untuk itu dapat dilakukan pencegahan dan pengendalian sedini mungkin,” ujar Nasrun.
Menurutnya, penyakit tidak menular telah menjadi penyebab utama kematian di berbagai usia. Tidak hanya itu, dampaknya menjalar ke persoalan sosial, budaya, bahkan ekonomi keluarga.
Melalui DEDI PENDEKAR, Desa Tauno ingin melindungi kualitas hidup masyarakat dan sekaligus memutus siklus kemiskinan yang bisa diakibatkan oleh beban biaya pengobatan.
“Inovasi deteksi dini Penyakit Tidak Menular dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam rangka pencegahan. Program ini juga melindungi masyarakat dari risiko penyakit tidak menular serta meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi dampak sosial, budaya, dan ekonomi pada keluarga dan masyarakat,” tambahnya.
Program ini menyasar seluruh warga berusia 15 tahun ke atas. Jumlahnya mencapai 415 jiwa. Pelaksanaan program dimulai pada tahun 2024, dan telah melalui sejumlah tahapan.
Mulai dari pembentukan tim pelaksana, sosialisasi kepada masyarakat, pelaksanaan pemeriksaan, hingga monitoring dan evaluasi berkala.
Apa yang menarik dari program ini adalah bahwa seluruh proses pendanaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Ini menunjukkan bahwa pemerintah desa betul-betul serius dan mandiri dalam menjalankan program tersebut, tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah pusat atau provinsi.
“Program ini dilaksanakan oleh pemerintah Desa Tauno, yang melibatkan Bidan Desa, kader kesehatan, BPD dan Lembaga Kemasyarakatan Desa serta tokoh masyarakat yang tergabung dalam tim pelaksana yang ditetapkan dengan keputusan kepala desa,” kata Nasrun.
Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan bahwa ini bukan sekadar program struktural, tetapi sebuah gerakan sosial yang ditopang oleh kesadaran kolektif. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian penting dari pelaksanaan.
Tahapan pelaksanaan dibagi menjadi tiga: pertama, rapat internal pemerintah desa. Kedua, rapat penjaringan yang melibatkan Bidan Desa, Kader Kesehatan, dan lembaga masyarakat desa. Ketiga, pembentukan ide dan gagasan inovasi serta tim pelaksana yang menjalankan program.
Setelah tim terbentuk dan program disosialisasikan, pelaksanaan dimulai. Bidan desa dan kader kesehatan kemudian melakukan evaluasi setiap bulan.
Hasil evaluasi ini menjadi bahan untuk menetapkan arah kebijakan lanjutan di tingkat desa. Dengan cara ini, program berjalan dinamis dan responsif terhadap kondisi lapangan.
“Untuk itu tahapan pelaksanaannya melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat, setelah itu melakukan pelaksanaan Inovasi Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular DEDI PENDEKAR,” jelas Nasrun.
Ia juga menegaskan bahwa warga desa memiliki hak untuk mendapatkan layanan pemeriksaan, memperoleh informasi tentang kesehatannya, dan menyampaikan keluhan jika mengalami gejala penyakit. Namun, hak ini juga dibarengi dengan kewajiban.
“Untuk itu masyarakat diwajibkan mendukung pelaksanaan inovasi yang digagas oleh pemerintah desa bersama bidan desa dan kader kesehatan,” tuturnya.
Program DEDI PENDEKAR adalah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari desa. Ia lahir bukan dari seminar, bukan dari konferensi kesehatan, melainkan dari kedekatan langsung antara pemerintah desa dan masyarakatnya. Sebuah langkah kecil yang bermakna besar.
Ketika kota-kota besar masih terjebak pada paradigma pengobatan yang mahal dan reaktif, Desa Tauno memilih jalan preventif yang sederhana namun efektif.
Mereka mengajarkan bahwa kesehatan bukan hanya tentang rumah sakit dan dokter, melainkan tentang kesadaran, kebersamaan, dan keberanian untuk bergerak lebih awal.
Apa yang dilakukan Desa Tauno tidak hanya patut dipuji, tetapi juga perlu ditiru. Inilah wajah pembangunan yang sesungguhnya. Bukan sekadar membangun jalan dan gedung, tetapi membangun manusia yang sehat, kuat, dan sadar akan masa depan.
Jika semua desa memiliki keberanian yang sama, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi bangsa yang jauh lebih sehat dan tangguh.
Karena sesungguhnya, kekuatan negara ini bukan terletak di pusat-pusat kekuasaan, tetapi di desa-desa kecil seperti Tauno yang tahu persis apa yang mereka butuhkan dan bagaimana mencapainya. (red)



