foto Sherly Tjoanda dan almarhum Benny Laos di bibir pantai dengan balutan sunset, diunggah pada 8 Agustus 2025. Dalam captionnya, Sherly menulis ucapan: “Selamat hari lahir say .. @benny.laos. Senyumlah bersamaku, sabarlah menunggu, kita kan bertemu di ruang baru … Miss u en Love u.” Unggahan ini mendapat 234.038 like dan 1.660 komentar. Tangkapan layar/instagram/s_tjo
Kembalinya Sherly Tjoanda ke Pulau Morotai pada 11 Desember 2025 menjadi sebuah peristiwa yang menandai babak baru dalam perjalanan kepemimpinannya. Untuk pertama kalinya, ia hadir di pulau itu bukan sebagai istri Bupati Pulau Morotai, melainkan sebagai Gubernur Malut. Perubahan peran ini membawa dimensi baru dalam hubungan Sherly dengan Morotai, daerah yang sebelumnya ia kunjungi dalam kapasitas berbeda, namun kini ia datangi dengan mandat dan tanggung jawab penuh sebagai kepala daerah di tingkat provinsi.
Kedatangan Perdana Gubernur Sherly Tjoanda ke Morotai tersebut juga dibenarkan oleh Kabag Protokol, Karim, yang memastikan bahwa seluruh rangkaian agenda telah disiapkan secara resmi dan terstruktur. Karim menyampaikan bahwa kunjungan itu memang menjadi salah satu agenda prioritas Pemprov Malut, mengingat pentingnya Morotai dalam peta pembangunan daerah serta adanya sejumlah kegiatan pelayanan publik dan peninjauan lapangan yang harus dihadiri langsung oleh gubernur.
Selama lima tahun mendampingi mendiang suaminya, Benny Laos, Sherly melewati berbagai dinamika pembangunan dan interaksi sosial di Morotai. Pulau itu menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya, bukan sekadar wilayah administratif, tetapi kawasan yang menyimpan lapisan kenangan mendalam. Kali ini, ia tiba tanpa sosok yang dulu selalu berdiri di sampingnya, menandai fase kepemimpinan yang harus ia jalani sendiri dalam ruang publik yang lebih besar.
Masyarakat Morotai, yang pernah melihat Sherly dalam kapasitas sebagai pendamping bupati, kini menyambutnya dalam status yang jauh lebih tinggi. Kehadirannya membawa atmosfer berbeda karena ia bukan lagi figur pendukung dalam pemerintahan daerah, tetapi tokoh pengambil keputusan yang menentukan arah kebijakan Pemprov Malut saat ini. Transformasi ini menjadi momen penting, baik bagi Sherly maupun masyarakat yang mengenalnya sejak lama.
Rencana pertemuan dengan masyarakat setempat adalah bagian krusial dari kunjungannya. Bagi sebagian warga Morotai, momen itu menghadirkan kilas balik ketika mereka kerap bertemu Sherly dalam berbagai kegiatan sosial sebagai istri bupati. Namun kini, tatap muka tersebut memuat konteks baru, yaitu masyarakat berhadapan langsung dengan gubernur perempuan pertama Malut yang membawa agenda pembangunan dan kebijakan strategis untuk kemajuan daerah.
Rundown resmi kunjungan kerja Sherly Tjoanda pada 10-12 Desember 2025 menunjukkan betapa padatnya agenda yang harus ia jalani di Kabupaten Pulau Morotai. Perjalanan dimulai pukul 07.05-08.00 WIT dengan keberangkatan menuju Morotai, yang menjadi salah satu titik fokus dalam rangkaian kunjungan kerja tiga kabupaten, di samping Halut dan Halbar.
Setibanya di Dermaga Molokai Daruba pada pukul 08.00-08.15 WIT, Sherly menerima penyambutan adat oleh Bupati Pulau Morotai, unsur Forkopimda, dan jajaran OPD. Prosesi pengalungan syal, tarian tradisional, serta penyambutan seremonial lainnya menggambarkan penghormatan masyarakat Morotai terhadap pemimpin mereka, sekaligus menjadi pembuka resmi perjalanan menuju Desa Hino dan Buho-Buho.
Perjalanan berlanjut menuju Desa Buho-Buho di Kecamatan Morotai Timur, tempat rombongan tiba sekitar pukul 08.15-09.10 WIT. Desa ini menjadi titik awal bagi sejumlah agenda yang bersifat sosial, yang telah disusun sebagai bagian dari rangkaian kunjungan Sherly Tjoanda selama berada di Morotai.
Agenda dilanjutkan dengan makan siang bersama Forkopimda Morotai pada pukul 12.00-13.00 WIT. Momen ini menjadi ruang komunikasi informal yang penting, karena memungkinkan adanya dialog antarpemangku kepentingan mengenai kebutuhan, tantangan, dan arah pembangunan kabupaten Morotai di masa mendatang.
Pada pukul 15.00-15.20 WIT, rombongan gubernur bergerak menuju Pulau Rao, sebuah daerah yang juga masuk dalam cakupan kunjungan kerja tersebut. Setibanya pukul 15.20-15.30 WIT, Sherly menghadiri kegiatan Gerakan Pangan Murah yang ditujukan untuk membantu masyarakat pesisir dalam mengakses kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Sebelum tiba di Morotai, Sherly telah menjalani serangkaian agenda intensif di Kabupaten Halmahera Utara. Berdasarkan rundown yang sama, pada pukul 07.00-08.00 WIT ia melakukan perjalanan udara dari Ternate menuju Sofifi, memulai rangkaian kegiatan yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan dan stabilisasi harga kebutuhan pokok.
Setelah tiba di Sofifi, ia melanjutkan perjalanan darat menuju Desa Kao. Pada pukul 08.00-10.00 WIT, Sherly membuka kegiatan Gerakan Pangan Murah yang menyalurkan 750 paket bantuan kebutuhan pokok kepada masyarakat. Program ini menjadi salah satu instrumen Pemprov Malut dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi menjelang Nataru.
Pada pukul 10.30-10.45 WIT, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Desa Waringin Jaya. Setibanya pada pukul 10.45-11.45 WIT, Sherly menghadiri kegiatan lintas instansi bersama Balai Wilayah Sungai, Kejaksaan Tinggi, dan Dinas Pertanian, termasuk penanaman padi sebagai simbol komitmen bersama dalam memperkuat ketahanan pangan di Malut.
Di Desa Pidiwang, sebanyak 750 paket pangan murah disalurkan, sementara Desa Kusuri menerima 500 paket. Penyaluran bertahap ini menunjukkan perhatian pemerintah provinsi terhadap wilayah-wilayah yang masih rentan terhadap fluktuasi harga sembako, sekaligus memastikan distribusi bantuan berlangsung merata.
Selain itu, Dinas Perindag membagikan 2.000 paket jual murah kepada masyarakat. Dinas Koperasi menyalurkan paket sarana koperasi nelayan untuk memperkuat sektor perikanan rakyat, sementara DP3A memberikan dukungan usaha bagi perempuan sebagai bagian dari penguatan ekonomi keluarga berbasis gender.
Upaya meningkatkan akses transportasi juga mendapat porsi dalam kunjungan kerja ini. Dinas Perhubungan meluncurkan program transportasi bersubsidi sebagai solusi bagi masyarakat di daerah terpencil yang selama ini menghadapi biaya perjalanan yang tinggi serta keterbatasan sarana angkutan reguler.
Dunia pendidikan tidak luput dari perhatian. Sherly meresmikan SMK Pariwisata Manggala sebagai langkah membuka peluang pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri pariwisata Morotai. Sherlybjuga menyerahkan satu unit perangkat Orbit dari Telkomsel untuk mendukung literasi digital serta akses internet bagi siswa.
Peninjauan lapangan di Desa Kali Pitu menunjukkan komitmen Gubernur terhadap pemerataan pembangunan. Dalam kesempatan itu, ia meninjau jalan tani, program Rumah Tidak Layak Huni, serta fasilitas pertanian dan pekerjaan umum lainnya yang menjadi kebutuhan mendesak masyarakat di tingkat desa.
Hal ini menegaskan bahwa kunjungan kerja tersebut bukan semata agenda formal pemerintahan, melainkan perjalanan seorang pemimpin yang kembali ke tempat dengan jejak sejarah personal, kini hadir dengan peran yang lebih besar dan tanggung jawab yang semakin luas bagi seluruh masyarakat Malut.
Di masa kepemimpinan Benny Laos, Morotai memasuki fase baru yang menandai perubahan besar dalam wajah infrastrukturnya. Pembangunan jalan lingkar Morotai menjadi salah satu fondasi penting yang membuka akses dari desa ke desa, sekaligus menghubungkan pusat-pusat aktivitas ekonomi dan sosial. Jalan yang dahulu sempit dan terputus-putus kini berubah menjadi jalur yang memungkinkan distribusi barang, mobilitas warga, dan perkembangan wilayah pesisir berlangsung lebih cepat dan efisien.
Jalan lingkar itu bukan sekadar proyek fisik, tetapi simbol dari keterbukaan Morotai menuju masa depan yang lebih terhubung. Dengan akses yang semakin baik, kawasan yang sebelumnya terisolasi ikut mendapat dampak positif berupa pertumbuhan perdagangan lokal, pembangunan pemukiman, hingga masuknya investor kecil maupun besar. Perputaran ekonomi desa pun mulai bergerak lebih dinamis.
Bersamaan dengan itu, pengembangan destinasi wisata menjadi fokus lain yang memperkuat identitas Morotai sebagai pulau sejarah dan keindahan alam. Dari titik-titik peninggalan Perang Dunia II hingga pesona pantai berpasir putih, pemerintah daerah menghadirkan fasilitas yang lebih layak bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Setiap destinasi diperbaiki dengan konsep keberlanjutan agar tetap terjaga, namun siap bersaing sebagai tujuan wisata unggulan.
Pembangunan kawasan wisata tidak hanya bertumpu pada promosi, tetapi juga perbaikan infrastruktur pendukung. Gazebo, dermaga kecil, jalur pedestrian, hingga spot foto modern menjadi bagian dari transformasi ini. Morotai mulai dikenal bukan hanya oleh pecinta sejarah, melainkan juga oleh para pelancong yang mencari ketenangan dan keindahan laut tanpa batas.
Di sisi lain, penataan tata kota Morotai menjadi langkah penting dalam mengubah wajah pusat pemerintahan. Ruang publik dirapikan, lampu jalan ditambah, taman-taman dibangun, serta kawasan perkantoran disusun agar lebih tertib dan nyaman. Pendekatan pembangunan ini bukan hanya estetika semata, tetapi juga meningkatkan pelayanan publik secara keseluruhan.
Pusat-pusat ekonomi pun digarap dengan pendekatan jangka panjang. Pasar rakyat diperbarui, kawasan perdagangan dikelola lebih teratur, dan sentra UMKM diberi ruang untuk tampil sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Upaya ini memperkuat posisi Morotai sebagai wilayah yang tidak lagi hanya mengandalkan sektor primer, tetapi juga mulai bertumpu pada jasa dan perdagangan kreatif.
Salah satu ikon pembangunan yang paling banyak menyita perhatian adalah pendirian rumah ibadah Masjid dan Gereja Morotai yang berdiri berdampingan. Kedua bangunan megah itu menjadi bukti nyata bahwa toleransi bukan hanya wacana, melainkan praktik hidup yang dijaga dari generasi ke generasi. Wisatawan yang datang pun kerap menjadikan keduanya sebagai simbol kerukunan khas Malut.
Dua rumah ibadah itu bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat interaksi sosial yang memperkuat keharmonisan antarumat. Di sana, masyarakat belajar bahwa hidup berdampingan dalam damai adalah bagian dari identitas Morotai, sebuah nilai yang kini menjadi kebanggaan daerah. Pembangunan ini sekaligus menjadi pesan kuat bagi Indonesia bahwa toleransi dapat dibangun dengan karya dan keteladanan.
Transformasi ekonomi, tata kota, dan pariwisata yang terjadi secara bersamaan menempatkan Morotai pada peta strategis pembangunan tingkat nasional. Festival-festival budaya dan wisata bahari digelar secara rutin untuk menarik perhatian publik luas. Setiap kegiatan membawa pesan bahwa Morotai bukan lagi wilayah pinggiran, melainkan destinasi yang berkembang cepat dengan karakter yang kuat.
Dalam kurun beberapa tahun, nama Morotai semakin sering terdengar di forum nasional, pemberitaan media, hingga rekomendasi wisata internasional. Keindahan bawah lautnya, sejarah militernya, serta budaya masyarakatnya menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dunia. Hal ini berdampak pada meningkatnya jumlah kunjungan, bertambahnya hotel kecil, ekspansi restoran lokal, dan tumbuhnya ekonomi kreatif.
Berkat rangkaian pembangunan itu, Morotai kini dikenal seantero Indonesia bahkan hingga mancanegara. Imaji tentang pulau yang jauh dan sunyi berubah menjadi gambaran tentang daerah yang berkembang, tertata, rapi, dan kaya potensi. Kepemimpinan Benny Laos meninggalkan jejak kuat bahwa pembangunan yang terencana, konsisten, dan berpihak pada masyarakat dapat mengangkat sebuah pulau kecil menjadi nama besar yang diperhitungkan di tingkat nasional maupun global.
Di tengah berbagai pembangunan besar pada masa kepemimpinan Benny Laos, perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi pijakan utama. Salah satu program yang paling langsung dirasakan manfaatnya oleh warga adalah pembangunan rumah layak huni. Program ini kemudian juga mendapat perhatian serius dari Sherly Tjoanda ketika ia memimpin Malut. Pembangunan rumah ini tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi memastikan setiap keluarga memiliki hunian yang aman, sehat, dan bermartabat.
Benny Laos memahami betul bahwa kesejahteraan masyarakat berangkat dari kondisi tempat tinggal yang layak. Karena itu, ia memprioritaskan pembangunan hunian baru di berbagai desa dengan struktur yang lebih kokoh, ventilasi memadai, dan sanitasi yang jauh lebih baik. Jejak pembangunan tersebut menjadi warisan penting yang melekat kuat di Morotai dan kelak menjadi dasar pemahaman Sherly ketika ia kembali ke pulau ini dalam kapasitas sebagai pemimpin daerah.
Rumah-rumah yang dibangun pada masa itu memberikan perubahan besar bagi banyak keluarga yang sebelumnya tinggal dalam kondisi serba terbatas. Warga yang hidup di rumah tidak layak akhirnya merasakan kenyamanan baru yang meningkatkan kualitas hidup mereka. Ketika Sherly Tjoanda kembali melihat hasil-hasil pembangunan tersebut, ia mendapat pengingat mengenai hakikat pelayanan publik yang pernah ia jalani bersama almarhum suaminya.
Dalam proses pembangunan, Benny Laos melibatkan banyak warga setempat sebagai tenaga kerja sehingga manfaat program tidak hanya berhenti pada penyediaan hunian. Kehadiran lapangan pekerjaan baru meningkatkan perputaran ekonomi desa dan memberi dampak sosial yang lebih luas. Pola pembangunan berbasis partisipasi inilah yang kemudian menginspirasi Sherly Tjoanda ketika memimpin Malut, karena ia melihat langsung bahwa pendekatan tersebut menguatkan masyarakat dari dalam.
Program rumah layak huni juga menyasar kelompok rentan seperti janda, lansia, dan keluarga berpenghasilan rendah. Mereka mendapat prioritas untuk tinggal di rumah yang lebih manusiawi dan aman. Setiap penyerahan kunci rumah sering kali menghadirkan suasana haru yang memperlihatkan bahwa pembangunan tidak sekadar infrastruktur, tetapi juga keberpihakan terhadap mereka yang benar-benar membutuhkan. Nilai inilah yang kemudian terus dijunjung Sherly dalam kebijakan sosialnya.
Seiring berjalannya waktu, kawasan permukiman baru mulai terbentuk dengan lingkungan yang lebih rapi dan sehat. Perbaikan sanitasi, peningkatan kenyamanan, dan perubahan gaya hidup warga menjadi bukti nyata bahwa pembangunan yang dilakukan Benny Laos memberikan fondasi kuat bagi Morotai. Fondasi ini kemudian dijaga dan diteruskan oleh Sherly di tingkat provinsi untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat Malut.
Program perumahan ini berhasil mengangkat citra Morotai sebagai daerah yang memperhatikan kebutuhan warganya secara nyata. Banyak tamu dan pejabat dari luar daerah memberikan apresiasi karena kebijakan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah terhadap keadilan sosial bagi masyarakat kecil. Ketika Sherly Tjoanda kini memimpin Malut, semangat itu ia bawa lebih luas melalui program-program sosial yang memberi dampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Kini, ketika Sherly Tjoanda kembali ke Morotai sebagai gubernur, ia membawa serta ingatan tentang perjalanan pembangunan yang pernah ia jalani bersama Benny Laos. Program rumah layak huni yang dirintis almarhum suaminya menjadi pengingat kuat bahwa pembangunan sejati harus berangkat dari kepedulian terhadap masyarakat. Nilai yang ia pelajari dari Morotai inilah yang kini ia terapkan dalam skala yang lebih besar untuk seluruh Malut.
Sementara itu, Hairil Hi. Hukum, mantan Kadis PUPR Kabupaten Pulau Morotai, pernah mengenang satu fase penting ketika Morotai berada dalam kepemimpinan Benny Laos. Dalam sebuah percakapan yang ia sampaikan pada suatu kesempatan, Hairil mengungkapkan bahwa kepemimpinan Benny tidak hanya ditandai oleh pembangunan fisik, tetapi juga kemampuan menciptakan suasana yang membuat banyak orang ingin datang ke Morotai. Menurutnya, berbagai kegiatan dan event besar yang diselenggarakan selama masa itu menjadi pemantik utama bagi pertumbuhan wisata serta pergerakan masyarakat dari berbagai daerah.
Ia menjelaskan bahwa setiap event yang digelar di Morotai selalu memberi kesan kuat bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Mulai dari festival budaya, kegiatan bahari, pertunjukan seni, hingga pameran UMKM, semuanya dirancang dengan konsep yang matang sehingga Morotai tidak hanya tampil sebagai tuan rumah yang ramah, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki identitas kuat. Hairil mengingat betul bagaimana pengunjung wisatawan yang datang di Morotai, memenuhi hotel, penginapan, dan homestay.
Menurut Hairil, hal paling membekas adalah bagaimana setiap event selalu memberi dampak langsung bagi perekonomian warga. Pedagang kecil, pengrajin, pelaku transportasi, hingga pelaku sektor jasa merasakan manfaatnya secara nyata. Perputaran uang meningkat tajam dalam hitungan hari dan memberi kehidupan baru bagi banyak keluarga di Morotai yang selama ini bergantung pada sektor kelautan. Ia menyebut bahwa Morotai pada masa itu tampak hidup sepanjang hari karena aktivitas ekonomi yang tidak pernah berhenti, seolah pulau kecil itu berdenyut lebih kuat dari sebelumnya.
Hairil juga menegaskan bahwa kedatangan wisatawan mancanegara membawa pengaruh besar terhadap reputasi Morotai di tingkat nasional dan global. Banyak turis datang dan mempromosikan Morotai melalui media sosial, vlog perjalanan, hingga liputan pribadi mereka. Hal itu membuat Morotai semakin dikenal sebagai destinasi yang eksotis dan berbeda dari wilayah lain di Malut.
Menurutnya, perkembangan pesat itu tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui kerja panjang dan konsisten dari kepemimpinan daerah yang memprioritaskan pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi. Hairil menyatakan bahwa masa itu adalah periode emas ketika Morotai menjadi pusat perhatian karena keberanian pemerintah daerah dalam menggabungkan pembangunan fisik dan pembangunan citra daerah.
Baginya, Benny Laos telah membuka jalan, dan pemimpin seperti Sherly Tjoanda kemudian melanjutkan semangat besar itu dalam skala yang lebih luas di tingkat provinsi. Hairil menyebut bahwa pengalaman Morotai merupakan bukti nyata bahwa ketika pemerintah hadir dengan visi yang jelas dan program yang terukur, wajah suatu daerah dapat berubah dan berdiri sejajar dengan destinasi wisata besar lainnya di Indonesia.