Pemprov Malut Sarbin Sehe Desak OPD Aktif di Ibu Kota Provinsi

Sarbin Sehe Desak OPD Aktif di Ibu Kota Provinsi

72
Wagub Malut, Sarbin Sehe. Dok, Warta Sofifi
Wagub Malut Sarbin Sehe mendorong pimpinan OPD memusatkan kegiatan OPD dan berkantor di ibu kota provinsi selama rangkaian HUT Malut ke-27. Dorongan itu disampaikan saat membuka Road Race Piala Gubernur Malut 2026 sekaligus memperkenalkan logo HUT Malut ke-27 di Sofifi pada Kamis 1 Oktober 2026.
“Saya berharap kepada pimpinan OPD, mulai hari ini sampai 30 hari ke depan, seluruh aktivitas sedapat mungkin dipusatkan di Sofifi,” tegas mantan Kakanwil Sulut itu.
Sarbin mengakui kondisi Sofifi sebagai ibu kota provinsi masih belum menunjukkan perkembangan yang sebanding dengan usia Malut yang telah mencapai 27 tahun. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena Sofifi seharusnya menjadi pusat pemerintahan sekaligus menjadi salah satu penggerak aktivitas masyarakat dan ekonomi. Dia menegaskan pembangunan Sofifi masih harus terus didorong agar perubahan nyata dapat dirasakan masyarakat.
“Kita bersyukur usia Maluku Utara sudah 27 tahun. Meski di usianya yang sudah 27 tahun, Sofifi masih begini-begini saja. Karena itu, kita terus membangun Kota Sofifi ini dan Maluku Utara pada umumnya,” ungkapnya.
Pengakuan itu sekaligus membuka persoalan yang selama ini terus muncul dalam pembicaraan tentang ibu kota provinsi. Sofifi membutuhkan lebih banyak aktivitas pemerintahan agar statusnya sebagai pusat pemerintahan tidak berhenti pada nama dan kedudukan administratif. Sarbin ingin seluruh agenda Pemprov Malut selama rangkaian HUT benar-benar dipusatkan di Sofifi. Kegiatan pemerintahan, olahraga, hingga aktivitas masyarakat diharapkan membuat kota ini tidak kembali sepi setelah satu agenda selesai digelar.
“Kita berharap semua kegiatan kita pusatkan di Sofifi ini, sehingga seperti kota yang lain, Sofifi bisa berkembang,” ujarnya dalam penyampaian arahannya terkait penguatan aktivitas di ibu kota provinsi.
Agenda yang semula disiapkan untuk HUT RI ke-81 kemudian dialihkan ke rangkaian HUT Provinsi Malut ke-27. Pengalihan tersebut membuat kegiatan yang sudah dirancang dapat diarahkan untuk memperkuat aktivitas di ibu kota provinsi, sekaligus memberi manfaat yang lebih terasa bagi masyarakat melalui rangkaian kegiatan HUT Malut.
“Kami berharap kegiatan ini, yang dilakukan dalam rangka HUT RI ke-81, kemudian digeser ke HUT Provinsi ke-27,” jelas Sarbin.
Olahraga kemudian ditempatkan sebagai salah satu mesin penggerak aktivitas kota. Malut memiliki berbagai cabang olahraga yang dapat menghadirkan peserta dan penonton dari berbagai daerah. Jika kegiatan tersebut dipusatkan di Sofifi, arus manusia dan transaksi ekonomi juga diharapkan ikut bergerak.
“Kita juga berharap Sofifi terus berkembang dengan dinamis. Bahkan, Maluku Utara sudah memiliki sebagian besar cabang olahraga,” lanjut Sarbin saat berbicara tentang pengembangan Sofifi melalui aktivitas olahraga.
Sarbin meminta aktivitas pemerintahan di luar Sofifi dikurangi selama rangkaian HUT Malut ke-27. Arahan tersebut memperkuat dorongan agar kegiatan pemerintahan lebih banyak dipusatkan di ibu kota provinsi, sehingga aktivitas OPD dan agenda HUT dapat lebih terasa di tengah masyarakat.
“Kita kurangi aktivitas di luar Sofifi dalam rangka HUT provinsi,” sambungnya.
Dia menekankan agar rangkaian HUT Malut ke-27 tidak berhenti pada kegiatan pemerintahan dan olahraga. Pelaku UMKM juga harus mendapat kesempatan untuk mengambil manfaat dari meningkatnya aktivitas masyarakat selama rangkaian kegiatan berlangsung. Keterlibatan pelaku usaha lokal dinilai penting agar perayaan HUT Malut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi ikut menggerakkan perdagangan dan pendapatan masyarakat.
“Kami juga berharap pelaku UMKM dilibatkan, sehingga rangkaian kegiatan HUT ini dapat dirasakan oleh masyarakat,” bebernya.
Sarbin kembali mendorong agar setiap agenda HUT Malut ke-27 tidak berjalan sebatas rangkaian kegiatan pemerintahan. Setiap kegiatan diharapkan membuka kesempatan yang nyata untuk pelaku UMKM lokal, sehingga aktivitas yang berlangsung selama Oktober ikut menggerakkan usaha masyarakat. Keterlibatan UMKM menjadi salah satu ukuran penting agar kemeriahan HUT Malut dapat memberi dampak ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Agar seluruh kegiatan berjalan dengan baik dan dapat melibatkan UMKM,” tambahnya.
Bahkan, Sarbin menggunakan contoh sederhana untuk menggambarkan dampak ekonomi yang ingin diwujudkan melalui rangkaian HUT Malut ke-27. Meningkatnya aktivitas masyarakat selama berbagai kegiatan berlangsung diharapkan ikut menaikkan transaksi pedagang kecil. Gambaran sederhana dari penjualan air mineral tersebut menunjukkan bahwa keramaian kegiatan dapat membuka perputaran ekonomi yang lebih besar ketika masyarakat dan pelaku usaha lokal ikut terlibat.
“Yang biasanya Aqua atau air mineral laku hanya lima botol, namun dengan adanya berbagai rangkaian kegiatan HUT, bisa laku satu dus,” katanya lagi.
Contoh tersebut menggambarkan ukuran sederhana yang ingin diwujudkan dari rangkaian kegiatan HUT Malut ke-27. Aktivitas pemerintah diharapkan mampu menciptakan transaksi, transaksi menggerakkan pedagang, lalu perputaran uang tersebut masuk ke ekonomi keluarga dan masyarakat. Dengan begitu, kegiatan yang digelar sepanjang Oktober memiliki dampak yang dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil.
“Sehingga dapat mendukung ekonomi keluarga dan ekonomi masyarakat,” ungkap Sarbin.
Sarbin kembali mendorong agar berbagai kegiatan olahraga dilaksanakan di Sofifi. Ibu kota provinsi perlu menjadi tempat berlangsungnya agenda yang mampu menghadirkan masyarakat dalam jumlah besar sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi lokal. Dengan kegiatan olahraga yang dipusatkan di Sofifi, pedagang dan pelaku UMKM dapat memperoleh peluang dari meningkatnya kunjungan masyarakat selama rangkaian HUT Malut ke-27.
“Kami berharap kegiatan-kegiatan olahraga agar dilaksanakan di Sofifi, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Sarbin.
Ujung dari seluruh arahan itu adalah satu persoalan besar: Sofifi harus benar-benar hidup. Usia Malut sudah 27 tahun, sehingga ibu kota provinsi tidak boleh terus bergantung pada agenda sesaat untuk menghadirkan keramaian. HUT Malut ke-27 menjadi kesempatan untuk menguji apakah seluruh agenda tersebut mampu menghasilkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Jika kegiatan hanya datang dan pergi, Sofifi akan kembali pada persoalan lama. Tetapi jika aktivitas pemerintahan, olahraga, UMKM, dan masyarakat benar-benar dipusatkan secara konsisten, wajah ibu kota bisa mulai berubah.
“Kita ingin seluruh rangkaian kegiatan HUT ini memberikan dampak yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat Sofifi dan Maluku Utara,” tandasnya. (red)

Bagi WARTASOFIFI.ID, berita adalah amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan netralitas kepada masyarakat.