Headline Sherly Tjoanda: DNA Pramuka Ada Karakter Pengusaha

Sherly Tjoanda: DNA Pramuka Ada Karakter Pengusaha

45
Gubernur Sherly Tjoanda saat mengunjungi Stand Pramuka Malut dan dijamu langsung Ketua Kwarda Malut Muhammad Abusama di Lapangan Utama Buperta Cibubur, Jakarta, Kamis 20 Agustus 2026. Foto: Jainal Adaran for WARTASOFIFI.ID.

Gubernur Malut Sherly Tjoanda mengangkat gagasan Scout Premier dalam Interactive Talk dan Kuis Kepramukaan yang digelar Kwarnas Gerakan Pramuka. Dia melihat Pramuka sebagai wadah keterampilan sekaligus tempat membentuk karakter yang dapat menjadi bekal memasuki dunia usaha.

“Jadi saya kasih nama Scout Premier bahwa di dalam DNA Pramuka sebenarnya sudah ada karakter seorang pengusaha,” kata Sherly di Buperta Cibubur, Jakarta, Kamis 20 Agustus 2026.

Peserta Pramuka didorong lebih peka membaca persoalan di lingkungan sekitar, kemudian mengolahnya menjadi peluang melalui solusi yang dibutuhkan masyarakat. Kejelian melihat masalah dan kemampuan menawarkan nilai tambah menjadi bagian penting dalam membangun jiwa kewirausahaan.

“Tinggal bagaimana jeli melihat masalah di sekitar kita, jeli melihat solusi dan kita tawarkan kepada mereka yang memiliki masalah itu,” tegasnya.

Waktu, keterampilan, dan karakter yang dimiliki seseorang dapat dikembangkan menjadi modal bernilai ekonomi. Ketiganya dapat dikonversi menjadi nilai tambah ketika diolah melalui kemampuan, kreativitas, dan keberanian melihat peluang.

“Kita konversi waktu kita, skill kita, karakter kita,” ungkap Sherly dalam pemaparannya.

Kehadiran Sherly di Buperta Cibubur menjadi pengalaman pertamanya mengunjungi kawasan perkemahan tersebut. Kunjungan ini sekaligus membuka kesempatan untuk melihat langsung aktivitas dan semangat peserta Pramuka di lokasi perkemahan.

“Ini pertama kali saya hadir di Bumi Perkemahan Cibubur,” tuturnya saat berbagi pengalaman.

Pengalaman melihat langsung aktivitas peserta Jamnas dan berinteraksi dengan anggota Pramuka memberikan kesan tersendiri. Luasnya kawasan perkemahan turut menjadi perhatian saat kunjungan berlangsung di Buperta Cibubur.

“Terima kasih tadi sudah mendampingi melihat perkemahan sangat luas. Katanya 198 hektare,” ucap Sherly.

Pertemuan dengan para peserta juga meninggalkan kesan tersendiri, terutama melihat kepercayaan diri anak-anak dan remaja yang mengikuti kegiatan.

“Tadi ketemu dengan adik-adik semua sangat antusias,” ujarnya setelah berdialog.

Dialog dengan peserta memperlihatkan bahwa kegiatan Pramuka memberikan pengalaman berharga bagi generasi muda. Berbagai aktivitas selama Jamnas menjadi kesempatan untuk membangun keberanian, kemandirian, kebersamaan, dan kepercayaan diri.

“Mereka mendapatkan pengalaman yang luar biasa,” tutur Sherly dalam forum tersebut.

Kepercayaan diri peserta menjadi salah satu hal yang mencolok dalam interaksi selama kegiatan. Keberanian menyampaikan gagasan dan mengekspresikan diri memperlihatkan tumbuhnya karakter positif melalui pengalaman kepramukaan.

“Dan satu hal yang sangat penting dari semua anak-anak yang tadi saya ketemu adalah mereka semua sangat percaya diri,” katanya kepada peserta.

Kepercayaan diri menjadi salah satu hasil penting dari proses pembentukan karakter melalui kegiatan kepramukaan.

“Mereka semua sangat ekspresif,” ungkap Sherly setelah berinteraksi.

Nilai-nilai kepramukaan kemudian dikaitkan dengan dunia kewirausahaan melalui gagasan Scout Premier. Gagasan ini melihat karakter, keterampilan, dan pengalaman dalam Pramuka sebagai bekal membangun jiwa entrepreneur.

“Saya diminta sharing katanya tentang Pramuka dan entrepreneur. Jadi saya menggabungkannya dengan satu kata yaitu Scout Premier,” jelas dia saat menjelaskan gagasan.

Kegiatan Pramuka memiliki cakupan lebih luas dari aktivitas berkemah dan keterampilan teknis. Nilai kepramukaan juga berkaitan dengan pembentukan karakter, kemandirian, kreativitas, kerja sama, serta kemampuan menghadapi berbagai persoalan.

“Pramuka itu bukan hanya tentang camping, belajar tenda, tali-temali, memanah, bikin api unggun,” bebernya dalam pemaparannya.

Pramuka memiliki peran penting dalam membentuk karakter sejak usia dini melalui berbagai kegiatan yang melatih kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan keberanian.

“Satu hal yang sangat menonjol dan dianggap positif kegiatan Pramuka ini, karena kegiatan Pramuka ini membentuk para karakter,” paparnya tentang pendidikan karakter.

Usia peserta Pramuka menjadi periode penting dalam proses pembentukan karakter. Berbagai pengalaman kepramukaan dapat membentuk sikap, kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai bekal kehidupan.

“Usia itu sangat penting dalam pembentukan karakter seorang manusia,” kata Sherly dalam penjelasannya.

Nilai-nilai kepramukaan memiliki keterkaitan dengan prinsip kewirausahaan melalui penguatan karakter, peningkatan kapasitas, dan kemampuan memberikan dampak. Bekal tersebut dapat mendorong generasi muda mengembangkan keterampilan sekaligus menciptakan nilai yang bermanfaat.

“Fundamental value dari Pramuka, selain dari karakter, meningkatkan kapasitas dan juga berdampak,” jelas Sherly saat menguraikan nilai.

Dalam dunia usaha, kemampuan menciptakan nilai tambah menjadi bagian penting untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Keterampilan, gagasan, dan solusi yang ditawarkan dapat menjadi nilai ekonomi ketika mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Saya sebagai pengusaha juga dalam pengusaha bagaimana menciptakan value atau nilai tambah untuk berdampak,” ungkapnya tentang kewirausahaan.

Nilai kepramukaan dan kewirausahaan memiliki titik temu pada kemampuan menciptakan nilai serta memberikan dampak bagi orang lain. Karakter, kapasitas, dan keterampilan yang dibangun melalui Pramuka dapat menjadi bekal menghasilkan manfaat dalam kehidupan dan dunia usaha.

“Pramuka tujuannya berdampak, menciptakan nilai dan pengusaha juga tujuannya berdampak dan menciptakan nilai,” terangnya mengenai keterkaitan keduanya.

Tiga unsur penting menjadi bekal dalam membangun keberhasilan seorang pengusaha, diawali dengan karakter dan integritas. Nilai tersebut menjadi pijakan dalam membangun kepercayaan serta menjaga konsistensi dalam menjalankan usaha.

“Yang pertama itu adalah karakter, memiliki integritas,” tegas Sherly tentang unsur pertama.

Unsur kedua dalam kewirausahaan adalah kapasitas kemampuan yang perlu terus dikembangkan mengikuti perubahan zaman. Penguatan keterampilan dan pengetahuan menjadi bekal agar seseorang mampu membaca peluang dan menghadapi persaingan dunia usaha.

“Yang kedua memiliki kapasitas kemampuan,” lanjut Sherly tentang kapasitas diri.

Unsur ketiga adalah kemampuan menyelesaikan persoalan dan menciptakan nilai tambah yang memberikan dampak. Kemampuan tersebut mendorong seseorang mengubah masalah menjadi peluang melalui solusi yang bermanfaat.

“Yang ketiga mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah, menciptakan nilai tambah dan pada akhirnya berdampak atau impact,” paparnya mengenai unsur ketiga.

Pandangan bahwa memulai usaha harus memiliki modal uang dalam jumlah besar perlu diubah. Dunia kewirausahaan juga membuka peluang melalui keterampilan, pengetahuan, jaringan, kreativitas, dan kemampuan membaca kebutuhan di sekitar.

“Kalau kita berbicara tentang pengusaha, biasanya dalam diskusi itu selalu bilang, tapi kan saya enggak punya modal,” sebutnya, tentang anggapan modal oleh banyak khalayak.

Pertanyaan tersebut mengajak peserta memahami bahwa modal uang belum cukup menentukan keberhasilan usaha. Gagasan, kemampuan membaca peluang, serta kejelian menentukan kebutuhan masyarakat menjadi hal penting sebelum usaha dijalankan.

“Jika hari ini dikasih modal, apakah kakak-kakak semua di sini sudah tahu harus bikin apa?” tanya Sherly kepada peserta.

Modal keuangan tetap memiliki peran dalam menjalankan usaha, tetapi keberhasilan juga ditentukan kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan karakter. Kekuatan modal tersebut dapat menjadi bekal mengembangkan gagasan menjadi peluang usaha.

“Modal itu penting, tetapi modal itu bukan yang pertama,” tegasnya mengenai modal usaha.

Modal dalam dunia usaha mencakup lebih dari keuangan, tetapi juga modal sosial, jaringan, kemampuan, dan pola pikir. Berbagai modal tersebut dapat saling melengkapi untuk membuka peluang dan menciptakan nilai.

“Modal itu bukan hanya modal keuangan, tapi ada modal sosial, modal network, modal kemampuan,” jelas Sherly tentang jenis modal.

Kemampuan membaca persoalan di sekitar menjadi pintu masuk untuk menemukan peluang usaha. Pola pikir yang tepat membantu seseorang melihat kebutuhan, merancang solusi, dan mengubah persoalan menjadi nilai.

“Yang terpenting dari seorang pengusaha yang membedakan kesuksesannya dari yang lain adalah bagaimana dia punya kerangka berpikir yang tepat,” ujarnya tentang pola pikir.

Contoh warung makan menggambarkan bahwa produk yang baik belum tentu dikenal masyarakat tanpa strategi pemasaran yang tepat. Persoalan tersebut dapat menjadi peluang melalui promosi dan pemanfaatan media digital.

“Misalnya ada warung di lingkungan kita, makanannya enak banget, tapi dia sepi,” katanya lagi, dengan memberi contoh usaha.

Pemanfaatan media sosial dan digital marketing menjadi salah satu cara memperluas jangkauan pemasaran, terutama bagi usaha yang memiliki produk berkualitas tetapi belum dikenal luas.

“Zaman sekarang, pemasaran paling murah, paling efektif adalah lewat sosial media, lewat digital marketing,” ungkapnya tentang pemasaran digital.

Keterampilan digital seperti editing, fotografi, videografi, storytelling, dan digital marketing dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan tanpa harus memiliki toko fisik.

“Tidak selalu harus punya toko, apalagi dengan digital zaman now, bisa jualan online,” jelasnya mengenai peluang digital.

Peluang usaha dapat muncul dari kemampuan membaca persoalan dan memahami kebutuhan orang lain. Kerangka berpikir yang tepat membantu menemukan solusi, menciptakan nilai tambah, dan mengubah persoalan menjadi peluang ekonomi.

“Yang paling penting adalah kerangka berpikir melihat ada masalah apa,” tegas Sherly tentang membaca peluang.

Kemampuan memberikan solusi yang bermanfaat dapat menjadi nilai ekonomi ketika manfaat tersebut dirasakan dan dihargai oleh orang lain. Dari sinilah keterampilan dapat dikembangkan menjadi penghasilan.

“Jadi bagaimana menghasilkan cuan dengan memberikan value, memberikan manfaat kepada orang lain,” tuturnya tentang nilai manfaat.

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI membuka kesempatan luas bagi peserta Pramuka untuk mempercepat proses belajar dan meningkatkan keterampilan.

“Zaman sekarang itu dengan AI yang begitu banyak, banyak juga yang gratis, banyak hal kita bisa belajar dengan sangat cepat menggunakan AI,” katanya mengenai pemanfaatan AI di era ini.

Di tengah kemudahan akses terhadap teknologi dan berbagai perangkat digital, karakter tetap menjadi pembeda utama. Integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan menjaga kepercayaan menjadi nilai penting dalam persaingan.

“Yang membedakan itu adalah karakter,” tegasnya tentang karakter.

Kepercayaan, kedisiplinan, kerajinan, dan ketepatan waktu menjadi nilai penting dalam membangun kualitas diri. Karakter tersebut turut menentukan kemampuan seseorang menjaga kepercayaan dan menjalankan tanggung jawab secara konsisten.

“Apakah dia bisa dipercaya? Apakah dia disiplin? Apakah dia rajin? Apakah dia tepat waktu?” tanya Sherly kepada peserta.

Pramuka menjadi tempat pembentukan karakter melalui berbagai kegiatan yang melatih kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan menghadapi persoalan.

“Di Pramuka ini adalah laboratorium menciptakan, mendidik, menumbuhkan karakter tersebut,” paparnya tentang peran Pramuka.

Pengalaman bekerja dalam tim, menyelesaikan masalah, membangun jaringan, dan belajar mandiri menjadi bekal yang dapat dikembangkan dalam dunia usaha.

“Banyak nilai-nilai positif dari Pramuka yang sebenarnya sudah dimiliki oleh kakak-kakak semua yang tinggal dioptimalkan untuk dijadikan apa tadi? Cuan-cuan,” seru dia, mendorong semangat peserta.

Modal dalam dunia usaha tidak selalu berbentuk uang, tetapi juga dapat berasal dari jaringan sosial yang dibangun melalui interaksi dan hubungan dengan banyak orang.

“Social capital, yaitu networking,” jelas Sherly tentang modal sosial.

Keterampilan perlu terus diperbarui melalui proses belajar dan peningkatan kapasitas secara berkelanjutan. Kebiasaan menambah ilmu membantu seseorang mengikuti perubahan zaman dan memperluas peluang.

“Skill capital yaitu sering upskilling, menambah ilmu baru, terus-menerus belajar, belajar, belajar,” pesan Sherly tentang peningkatan skill.

Trust capital menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan dan menjaga integritas seseorang. Nilai tersebut dapat memperkuat hubungan dan menjadi modal dalam membangun kerja sama.

“Trust capital, yaitu bisa dipercaya, integritas,” terangnya mengenai kepercayaan.

Knowledge capital berkaitan dengan kemauan untuk terus belajar, memperbarui wawasan, dan mengikuti perubahan di lingkungan sekitar.

“Knowledge capital, yaitu selalu ingin tahu, selalu ingin tahu update dengan perubahan,” ungkap Sherly tentang pengetahuan.

Peserta didorong mengoptimalkan keterampilan, jaringan, karakter, dan pengetahuan menjadi sesuatu yang memberikan manfaat serta memiliki nilai ekonomi.

“Jangan hanya punya banyak skill, jangan hanya punya banyak teman,” pesannya kepada peserta.

Seluruh pengalaman selama mengikuti Pramuka menjadi bekal yang dapat dikembangkan lebih jauh dalam dunia kewirausahaan. Karakter, networking, serta kemampuan menyelesaikan masalah menjadi modal yang dapat diolah untuk menciptakan peluang.

“Semua karakter baik yang sudah dididik selama ini selama menjadi Pramuka, semua networking, semua skill problem solving menyelesaikan masalah yang sudah dilatih selama ini,” katanya tentang bekal Pramuka.

Seluruh bekal dari kegiatan Pramuka perlu dikembangkan menjadi kemampuan yang memberikan manfaat dan menghasilkan nilai ekonomi. Karakter, integritas, keterampilan, dan jaringan semakin berarti ketika mampu dikonversi menjadi peluang.

“Jangan hanya dikenal sebagai orang baik, jujur, berintegritas kalau tidak bisa dikonversi menjadi cuan,” tutup Sherly. (red)

Bagi WARTASOFIFI.ID, berita adalah amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan netralitas kepada masyarakat.