Headline Marwan Polisiri Buka Rahasia Logo HUT Malut ke-27

Marwan Polisiri Buka Rahasia Logo HUT Malut ke-27

40
Marwan Polisiri
Ketua Panitia HUT Malut ke-27, Marwan Polisiri, menjelaskan makna logo peringatan 27 tahun Provinsi Maluku Utara yang dirancang dengan membawa pesan tentang laut, manusia, alam, pertumbuhan, serta harapan masa depan. Penjelasan tersebut disampaikan Marwan kepada WARTASOFIFI.ID di Sofifi, Kamis, 1 Oktober 2026.
“Logo HUT Malut ke-27 membawa satu gerak dengan banyak makna. Angka 27 menjadi wadah yang menyatukan identitas Maluku Utara dalam satu garis gerak, yakni laut, manusia, alam dan masa depan yang semuanya bermuara pada pertumbuhan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” bebernya.
Pesan tersebut kemudian mengarah pada tema besar “Tumbuhnya Harus Terasa”. Kalimat tersebut membawa gambaran tentang bagaimana pertumbuhan daerah diterjemahkan dari sebuah angka menjadi perubahan nyata yang dapat dirasakan masyarakat di berbagai pulau, wilayah daratan maupun kawasan pesisir Malut.
“Di usia 27 tahun, Maluku Utara terus bergerak maju. Pertumbuhan bukan hanya angka, tetapi perubahan nyata yang dirasakan masyarakat di setiap pulau, di darat dan laut, hari ini maupun untuk masa depan,” tuturnya.
Laut menjadi bagian pertama yang terlihat dari konstruksi angka 2. Pilihan ini berkaitan dengan karakter Malut sebagai provinsi kepulauan, tempat laut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, jalur penghubung antarpulau dan sumber penghidupan yang melekat dengan identitas daerah.
“Bentuk angka 2 dimulai dari gelombang laut yang melambangkan identitas Maluku Utara yang kuat dengan laut, kepulauan dan masyarakat maritim,” jelas Marwan.
Di dalam gelombang tersebut hadir siluet nelayan. Kehadiran manusia dalam logo mempertegas bahwa pembangunan daerah berkaitan dengan masyarakat yang setiap hari bekerja, mengelola sumber daya, menjaga lingkungan dan menggantungkan kehidupan pada kekayaan alam Malut itu sendiri.
“Siluet nelayan dalam gelombang menggambarkan masyarakat Maluku Utara yang bekerja, menjaga dan mengelola potensi alam untuk kehidupan yang lebih baik,” terangnya.
Dari gelombang laut, desain bergerak menuju simbol Burung Bidadari. Perubahan bentuk itu memberikan pesan tentang cita-cita dan masa depan, sekaligus menggambarkan harapan agar kekayaan alam dan identitas Malut dapat berjalan beriringan dengan kemajuan daerah tanpa kehilangan karakter yang dimiliki.
“Gelombang yang naik kemudian bertransformasi menjadi Burung Bidadari sebagai simbol keindahan alam, kebebasan dan harapan untuk Maluku Utara yang terus melangkah maju,” kata Marwan.
Angka 7 kemudian mengambil bentuk daun kelapa beserta buahnya. Simbol ini membawa perhatian pada tanah sebagai sumber penghidupan dan kekayaan alam Malut. Kesederhanaan bentuk tersebut menjadi bagian dari pesan desain yang ingin mempertemukan identitas daerah dengan tampilan visual yang modern.
“Angka 7 membentuk daun kelapa dengan buah kelapa yang melambangkan tanah sebagai sumber penghidupan dan kekayaan alam Maluku Utara dengan tetap tampil sederhana dan modern,” ungkapnya.
Logo HUT Malut ke-27 tahun dengan tema “Tumbuhnya Harus Terasa”
Konsep logo ini kemudian diperkuat melalui lima pilar RASA. Lima pilar tersebut menerjemahkan makna “Tumbuhnya Harus Terasa” melalui kebutuhan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, konektivitas, kelayakan hidup, pemberdayaan ekonomi hingga kehadiran pemerintah.
“Di usia 27 tahun, pertumbuhan Maluku Utara diwujudkan melalui lima pilar RASA karena pembangunan harus benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat,” tegas Marwan.
RASA MUDAH menjadi pilar pertama yang menyoroti akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Pesannya berkaitan dengan pelayanan dasar yang semakin dekat, mudah dijangkau dan dapat dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Malut.
“RASA MUDAH berarti akses pendidikan dan kesehatan makin dekat dan mudah sehingga masyarakat dapat merasakan pelayanan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari,” paparnya.
Berikutnya adalah RASA TERHUBUNG yang membawa isu konektivitas sebagai bagian penting dari kehidupan provinsi kepulauan. Jalan, jembatan, transportasi, listrik dan sinyal menjadi rangkaian kebutuhan yang menentukan hubungan antarpulau, antardesa dan antarkawasan.
“RASA TERHUBUNG berarti jalan, jembatan, transportasi, listrik dan sinyal menghubungkan pulau serta desa,” terang Ketua Panitia HUT Malut ke-27 tersebut.
RASA LAYAK kemudian berbicara tentang kualitas kehidupan yang lebih mendasar. Rumah, air bersih dan lingkungan hidup menjadi bagian dari pesan bahwa pembangunan harus memiliki dampak yang dapat dirasakan melalui kondisi tempat tinggal dan lingkungan masyarakat.
“RASA LAYAK berarti rumah, air bersih dan lingkungan hidup semakin layak sehingga kualitas kehidupan masyarakat terus mengalami perbaikan,” papar Marwan.
Pada pilar RASA BERDAYA, perhatian diarahkan pada kemampuan masyarakat membangun penghidupan melalui pekerjaan dan usaha. Petani serta nelayan menjadi bagian penting dalam gambaran tersebut karena sektor produktif masyarakat menjadi salah satu fondasi kehidupan ekonomi di Maluku Utara.
“RASA BERDAYA berarti pekerjaan dan usaha semakin berkembang, sementara petani dan nelayan dapat menghasilkan pendapatan yang lebih baik,” kata dia.
Pilar terakhir adalah RASA HADIR. Pesan ini menempatkan pemerintah dalam hubungan yang lebih dekat dengan persoalan masyarakat. Kehadiran pemerintah digambarkan melalui kemampuan mendengar, memahami kebutuhan warga dan menyelesaikan persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
“RASA HADIR berarti pemerintah hadir, mendengar dan menyelesaikan masalah warga. Kehadiran pemerintah harus dapat dirasakan melalui pelayanan dan penyelesaian persoalan masyarakat,” tegasnya.
Identitas HUT Malut ke-27 juga disiapkan dalam beberapa bentuk agar dapat digunakan dalam berbagai kondisi media. Logo utama, versi satu warna dan versi hitam putih menjadi pilihan visual yang dapat menyesuaikan kebutuhan publikasi dalam rangkaian kegiatan peringatan HUT Malut ke-27.
“Logo ini memiliki beberapa variasi, yaitu logo utama, versi satu warna dan versi hitam putih sehingga dapat digunakan sesuai kebutuhan visual dan media yang tersedia,” jelas Marwan.
Warna yang digunakan kemudian memperkuat cerita yang dibawa logo. Laut menggambarkan rumah, harapan membawa pesan gerak dan masa depan, alam berkaitan dengan tanah serta keberlanjutan, kemakmuran menggambarkan sumber daya dan kesejahteraan, sementara kelapa menjadi simbol identitas serta penghidupan masyarakat Maluku Utara.
“Warna laut menggambarkan rumah kita, warna harapan menggambarkan gerak, peluang dan masa depan, warna alam menggambarkan tanah dan keberlanjutan, warna kemakmuran menggambarkan sumber daya serta kesejahteraan, sementara warna kelapa menggambarkan identitas, penghidupan dan potensi daerah,” ucapnya.
Logo tersebut dirancang agar dapat digunakan dalam berbagai bentuk komunikasi HUT Malut ke-27. Gelombang, Burung Bidadari dan kelapa dapat dikembangkan menjadi pola visual untuk panggung, spanduk, umbul-umbul, media digital maupun merchandise. Seluruh unsur tersebut kembali pada satu gagasan utama, yakni usia 27 tahun harus membawa pertumbuhan yang dapat dirasakan masyarakat Malut.
“Karakter desain logo ini modern dan dinamis, menyatu dalam satu gerak, sederhana dan bermakna, dekat dengan masyarakat serta optimis ke masa depan. Elemen-elemen logo juga dapat dikembangkan menjadi pola gelombang, pola Bidadari, pola kelapa dan pola terpadu untuk berbagai kebutuhan visual,” pungkas Marwan. (red)

Bagi WARTASOFIFI.ID, berita adalah amanah, ditulis dengan ketelitian, dijaga dengan integritas, dan disampaikan dengan netralitas kepada masyarakat.